Category Archives: Perjanjian Baru

Against All Odds, HIS Will Be Done

Lukas 23:1-7 anhedrin telah memutuskan bahwa Tuhan Yesus bersalah karena mengaku sebagai Mesias, Anak Allah–itu dianggap sebagai tindakan menghujat Allah, dan pantas untuk mendapat hukuman mati. Menurut Hukum Musa, orang yangterbukti menghujat Nama TUHAN harus dihukum mati dengan cara dilempari … Continue reading

Posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment

Mereka yang Dikuasai Kegelapan

Lukas 22:63-71 emalam-malaman Tuhan Yesus diinterogasi di rumah Imam Besar. Karena mereka tidak memperoleh informasi atau pengakuan yang mereka bisa gunakan untuk menjerat Dia, maka orang-orang yang menahan Tuhan Yesus mengolok-olokkan Dia dan memukuli-Nya. Menjadikan Dia bahan permainan, menghina Dia, … Continue reading

Posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment

Jalan Pertobatan

Lukas 22:54-62 uhan Yesus ditangkap dan dibawa ke rumah Imam Besar (Kayafas). Petrus mengikuti dari jauh. Dalam catatan Yohanes, Petrus bisa masuk ke halaman rumah Imam Besar karena dibawa oleh Yohanes, yang mengenal Imam Besar (Yoh. 18:16). Di tengah-tengah halaman … Continue reading

Posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Kasih Tuhan di Tengah Pengkhianatan Manusia

Lukas 22:47-53 ejadian berlangsung sangat cepat. Ketika Yesus masih berbicara memberi nasihat kepada 3 murid-Nya, datanglah serombongan orang membawa pedang dan pentung (Mat. 26:47). Mereka adalah sepasukan prajurit dan penjaga Bait Allah yang disuruh oleh para pemimpin Agama Yahudi untuk … Continue reading

Posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment

Berlindung Kepada Tuhan di Dalam Pencobaan

Lukas 22:39-46 emua orang menghadapi pencobaan–sejak manusia pertama hingga Anak Manusia. Di Taman Eden, manusia dicobai Iblis dan jatuh; mengakibatkan seluruh keturunannya, yaitu semua umat manusia berada di bawah kuasa dosa dan terpisah dari persekutuan dengan Tuhan. Di Taman Getsemane, … Continue reading

Posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment