Ibrani 13:1-6
Setelah mengajar jemaat untuk memelihara iman yang benar kepada Kristus, penulis mengajak mereka untuk mengimplementasikan iman dalam kehidupan yang nyata, yaitu: “mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya” (Ibr. 12:28). Ada tiga cara hidup yang ditekankan: memelihara kasih persaudaraan dalam bentuk membantu mereka yang menderita; menjaga dan menghormati kekudusan pernikahan dari dosa seksual, dan mengembangkan hati yang tidak tamak atau cinta akan uang.
Ayat 31:1-3. Perintah untuk memelihara kasih persaudaraan–melanjutkan tindakan saling mengasihi saudara seiman. Perwujudan kasih persaudaraan yang nyata adalah: tidak mengabaikan tindakan untuk memberikan tumpangan atau bantuan kepada orang asing dan untuk mengingat dan berempati kepada orang-orang yang sedang dipenjara atau yang tertindas. Berempati dan mengidentifikasikan diri dengan saudara seiman yang sedang berkekurangan dan menderita.
Kasih kepada saudara seiman harus dipelihara dan jangan sampai diabaikan–ini menunjukkan bahwa kasih persaudaraan itu tidak bisa taken for granted akan ada terus di dalam hati seseorang. Ini menunjukkan bahwa kasih persaudaraan bisa menjadi dingin: “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12). Ketika orang hanya berpusat pada diri sendiri, maka ia akan kehilangan empati kepada penderittaan orang lain.
Tindakan untuk memperhatikan, mendoakan, dan memberikan pertolongan/bantuan kepada saudara seiman yang sedang menderita adalah cara untuk memelihara kasih persaudaraan di dalam hati orang percaya. Tidak cukup hanya dengan memegang atau meyakini ajaran atau prinsip kasih, tapi harus sampai dengan mengimplementasikan tindakan kasih yang nyata kepada orang lain.
Ayat 4. Perintah untuk sungguh-sungguh menghormati dan menjaga kesucian pernikahan. Tindakan yang mencemari pernikahan adalah: (1) persundalan–berhubungan seks atau kejahatan seksual dengan orang di luar pernikahan; dan (2) perzinahan–berhubungan seks atau kejahatan seksual dengan orang yang sudah bersitri/bersuami. Tidak hanya pada zaman surat ini ditulis–yaitu masa kerajaan Romawi–tetapi sejak awal hidup manusia, kejahatan seksual sudah dan selalu menjadi tantangan.
Umat Tuhan diingatkan bahwa: Tuhan akan menghakimi dan menghukum orang yang melakukan kejahatan seksual itu. Sikap Tuhan atas kekudusan pernikahan–yaitu kekudusan dalam aspek seksual–itu tetap dari sejak semula. Bahkan sebelum Tuhan memberikan Hukum-Nya, ia telah menanamkan pandangan/prinsip tentang kekudusan seksual ini di dalam hati setiap orang di semua masyarakat dan budaya. Perzinahan selalu ditolak dan dipandang sebagai kejahatan besar di semua masyarakat.
Ayat 5-6. Perintah untuk menjaga watak umat Tuhan dari ketamakan dan cinta akan uang, dan untuk menumbuhkan sikap mencukupkan diri dengan apa yang dimiliki. Ketamakan juga merupakan kejahatan yang sifatnya mendasar: nafsu untuk menginginkan sesuatu yang bukan haknya atau bagiannya; nafsu untuk memperoleh lebih banyak lagi dari apa yang sudah dimiliki; kecenderungan untuk mengumpulkan materi bagi diri sendiri.
Cara pandang yang menolong umat Tuhan untuk tidak tamak adalah: keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber pertolongan yang akan memelihara hidupnya dan tidak akan meninggalkan umat-Nya. Bukan harta atau materi atau hal-hal lahiriah, melainkan Tuhanlah yang menjadi sumber pertolongan; dan Tuhan Sang Sumber Pertolongan itu adalah Tuhan yang setia memelihara umat-Nya dan tidak akan meninggalkan umat-Nya.
Hati yang tidak tamak (coveteous) ini menjadi sumber dari watak-watak yang lain. Ketika seorang tidak tamak, maka ia akan rela untuk membagikan miliknya kepada orang lain yang memerlukan bantuan. Ketika seorang tidak tamak, maka ia tidak akan memburu kesenangan seksual melalui persundalan dan perzinahan. Ketika orang tidak tamak, maka ia bisa menjalani hidup dalam kesederhanaan tanpa diperbudak nafsu atau cinta akan materi.
Penerapan:
Memohon hati yang tidak tamak akan materi dan akan kesenangan seksual. Karena itu yang menjadi dasar bagi kehidupan yang mengasihi orang lain, kudus, dan tidak egois.
Views: 2