Ibrani 12:18-29
Bagaimana sikap orang percaya yang telah mengerti dan mengalami kasih karunia Tuhan di dalam Kristus? Tidak menolak atau memberontak dari kasih karunia Tuhan–mencari jalan keselamatan yang lain atau tidak tekun menyelesaikan perjalanan imannya. Kemudian menunjukkan sikap bersyukur atas kasih karunia yang diberikan Tuhan dalam bentuk hidup yang melayani Tuhan dengan penuh kesungguhan dan rasa hormat/gentar kepada Tuhan.
Ayat 18-21. Penulis menekankan alasan bahwa sekarang umat Tuhan menghadap kepada hadirat Tuhan yang berbeda. Bukan kepada Gunung Sinai yang bersifat fisik, yang tidak terhampiri karena diselimuti api, kegelapan, awan gelap, dan angin topan, dan suara terompet yang membuat orang menjadi gentar; bahkan Musa-pun penuh ketakutan dan gemetar menghadap hadirat Tuhan di sana.
Di perjanjian baru di dalam Kristus, hadirat Tuhan bukan lagi tempat yang menakutkan dan penuh ancaman. Tuhan tidak berubah, kekudusdan-Nya tidak berkurang. Sehingga di Sinai tidak ada orang berdosa yang bisa datang–karena karya penebusan dan penyelamatan Mesias belum digenapi–tanpa binasa oleh kekudusan Tuhan yang sempurna. Hanya Musa–dikhususkan oleh Tuhan–boleh datang mendekat.
Ayat 22-24. Sekarang umat Tuhan datang ke gunung Sion–juga simbol hadirat Tuhan–dan kota kediaman Tuhan, yaitu yang tidak bersifat fisik, melainkan spiritual–Yerusalem sorgawi, yang di ada ada kumpulan para malaikat beribu-ribu banyaknya serta orang-orang kudus yang sudah mendahului menghadap Tuhan. Di hadirat Tuhan ini bersemayam Tuhan Yesus, Sang Pengantara, yang sudah mencurahkan darah-Nya untuk menebus dosa.
Kekudusan Tuhan tidak berubah, orang berdosa tetap tidak bisa datang kepada-Nya; namun orang yang sudah di dalam Kristus bisa datang menghadap–bukan karena kekudusan orang itu sendiri, melainkan karena terhisab ke dalam kekudusan Tuhan Yesus Kristus! Sesungguhnyalah ornag percaya di perjanjian baru itu lebih “mulia”: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” (Mat. 11:11)–lebih besar karena karya Kristus.
Ayat 25-27. Perintah pertama, oleh karena sekarang terbuka jalan masuk ke hadirat Tuhan melalui Yesus Kristus, orang percaya jangan sampai menolak Dia yang sudah memberikan kasih karunia itu. Kalau di perjanjian lama orang dibinasakan karena menolak/memberontak kepada Tuhan; apalagi sekarang ketika karya keselamatan itu sudah digenapi–betapa lebih beratnya konsekuensi orang yang menolak kasih karunia Tuhan. Perjanjian lama sifatnya sementara; kerajaan Israel dan sistem dibawah Taurat sudah berakhir; sekarang adalah perjanjian baru di dalam Kristus yang kekal selamanya.
Ayat 28-29. Perintah kedua, umat Tuhan harus menyatakan ucapan syukur kepada Tuhan karena kasih karunia yang sudah diberikan-Nya di dalam Kristus. Ucapan syukur itu dinyatakan melalui hidup yang diserahkan untuk melayani Tuhan: pelayanan yang berkenan–tidak sembarangan–kepada Tuhan, yang dikerjakan dengan penuh takut dan gentar. Secara kualitas tindakan pelayanan harus yang terbaik, secara sikap hati melayani dengan penuh penuh kesungguhan dan rasa hormat kepada Tuhan. Sebab, sekalipun telah memberikan kasih karunia, Tuhan yang dilayani adalah tetap Api yang Menghanguskan!
Penerapan:
Memohon agar Tuhan memberikan hati yang penuh ucapan syukur, yang bersungguh-sungguh dalam melayani, dan penuh rasa hormat dan gentar kepada Tuhan.
Views: 44