Menjadi Saksi Tuhan di Tengah Krisis

1 Samuel 17:20-30

Bagaimana orang percaya sampai bisa menjadi bahan olok-olok orang-orang yang tidak percaya? Jawabannya: karena sekalipun mereka memiliki status atau label sebagai umat Tuhan, mereka sudah menolak/meninggalkan Tuhan, sehingga Tuhan tidak lagi menyertai mereka. Bukan kualitas pribadi, melainkan penyertaan Tuhan lah yang membuat seorang percaya memiliki kesaksian yang baik di dalam dunia.

Ayat 20-22. Daud bangun pagi-pagi dan menitipkan kambing domba yang menjadi tanggung jawabnya kepada orang, lalu mengumpulkan bekal, dan pergi sesuai perintah ayahnya. Perjalanan dari Betlehem sampai Lembah Ela memakan waktu sekitar 5-6 jam berjalan kaki (sekitar 40 km). Ia sampai di medan perang pada waktu semua pasukan sedang menata barisan saling berhadapan. Karena itu, Daud meninggalkan barang-barangnya kepada penjaga di perkemahan, lalu ia berlari ke medan perang ke tempat barisan tentara untuk menemui kakak-kakaknya.

Ayat 23-24. Ketika ia sedang bicara dengan kakak-kakakknya, tampillah Goliart dan mulai mengeluarkan kata-kata tantangan dan hinaan seperti biasa–ini adalah hari ke-40. Dan Daud mendengar tantangan Goliat itu. Daud juga melihat bagaimana pasukan Israel menjadi begitu ketakutan dan menghindari Goliat.

Mungkin selama ini, sebagai remaja, Daud mendengar kehebatan pasukan Israel–bagaimana pasukan Israel itu perkasda dan menang melawan musuh-musuhnya. Ia pasti telah mendengar cerita tentang peperangan melawan Amalek pada jaman Musa, runtuhnya tembok Yerikho, Yosua meminta matahari berhenti bergerak, kehebatan para hakim, dan yang paling dekat adalah kehebatan pasukan Israel di bawah kepemimpinan Saul, raja pertama Israel. Dan itu memberikan gambaran yang memberi semangat dan kekaguman dalam hati Daud–siapa tahu juga, bahwa Daud juga bercita-cita menjadi bagian dari pasukan umat Tuhan ini.

Tapi, pada hari itu–ketika pertama kali Daud bisa pergi ke medan perang untuk melihat langsung bagaimana keperkasaan pasukan Israel, yang didapatinya adalah kebalikan dari bayangannya selama ini: pasukan Israel ternyata sangat ketakutan dan melarikan diri gara-gara ada satu orang tentara Filistin yang menantang mereka. Bisa jadi Daud menjadi bingung melihat itu semua: Kok pasukan Tuhan bisa begitu ketakutan menghadpai musuh? Bertentangan dengan image yang selam ini ada di dalam bayangannya.

Ayat 25-27. Daud juga mendengar percakapan pasukan Israel yang mengatakan bahwa raja menjanjikan hadiah yang sangat besar bagi orang yang bisa membunuh Goliat, tetapi mereka mengucapkannya dengan nada yang pesimis; insentif yang begitu besar itu sama sekali tidak membuat satupun orang berani maju–karena setiap orang Israel sudah begitu ketakutan dan berpikir mustahil akan bisa mengalahkan Goliat. Kecuali satu orang!

Perhatikan komentar pasukan Israel tentang Goliat: “Sudahkah kamu lihat orang yang maju itu? Sesungguhnya ia maju untuk mencemoohkan orang Israel!” (ayat 25). Nadanya pasrah dan pesimis, berisi ketakutan dan keputusasaan. Bandingkan dengan komentar Daud yang baru pertama kali mendengar dan melihat Goliat: “Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?” (ayat 26).

Nadanya penuh keheranan dan kemarahan atau tersinggung–kok ada orang kafir yang berani-beraninya menghina pasukan milik Allah yang hidup! Daud menyandingkan Goliat sebagai ornag yang tidak mengenal TUHAN dengan pasukan Israel yang adalah milik TUHAN! Seolah-olah Daud berkata: bagaimana mungkin pasukan yang disertai TUHAN bisa dihina dan dicemooh oleh orang-orang yang tidak mengenal TUHAN?

Ayat 28-30. Ketika Eliab, kakak sulungnya, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang di sekitarnya, ia menjadi marah kepada Daud. Komentar Eliab: Mengapa kamu datang ke sini? Jangan ikut campur urusan orang lain, lebih baik kamu urusi kambing dombamu yang cuma 2-3 ekor itu. Kamu ke sini hanya untuk menonton pertempuran. Eliab menyebut Daud adalah seorang yang pemberani, tapi dalam arti negatif, karena yang dipakai adalah kata zadon (presumptousness, pride, suka meremehkan) dan roa (jahat, nakal).

Komentar Eliab mengilustrasikan respons orang yang ketahuan kelemahannya dan ketakutannya–lalu menyerang orang lain yang tidak memilik perasaan seperti dia. orang lemah–tapi sombong–akan marah dan merasa diserang, ketika ada orang lain yang lebih kuat daripada dia melihat kelemahannya. Serangannya berupa: hinaan, cemooh, meragukan motif–atau sesimpel “ini bukan urusanmu”.

Respons Daud: mengabaikan serangan verbal dari kakaknya. Ia tetap saja bercakap-cakap dan mencari tahu tentang situasi yang ada kepada orang lain. Daud tidak membiarkan komentar orang lain mempengaruhi hatinya. Ada dua faktor yang bisa melemahkan Daud: (1) faktor situasi: melihat sendiri bagaimana tantangan Goliat dan bagaimana pasukan Israel ketakutan; (2) faktor komentar orang lain: ditegor oleh kakaknya sendiri dengan tuduhan yang salah. Tapi itu tidak membuat Daud mundur dari pandangan dan sikapnya atas situasi/masalah yang ada–sikap dan pandangan yang benar, karena didasari oleh iman kepada Tuhan.

Penerapan:
(1) Pastikan bahwa sikap dan pandangan saya atas situasi atau masalah yang ada itu berdasarkan iman kepada Tuhan dan berdasarkan prinsip kebenaran Tuhan–bukan semata-mata dipengaruhi oleh situasi atau pandangan/komentar orang lain.
(2) Jangan menunjukkan sikap atau komentar atas situasi berdasar kesombongan atau merasa bisa atau sok tahu–jangan menyangsikan/mempertanyakan/maido; tetapi berusaha untuk berempati kepada orang yang sednag dalam situasi tertentu, supaya sikap dan komentar saya menjadi berkat bagi orang lain.

Views: 0

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.