Tuhan, Sumber Pertolongan Satu-satunya

1 Samuel 17:12-19

Pemazmur pernah menulis: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Maz. 121:1-2). Tuhan adalah Allah yang setia kepada umat-Nya. Ia adalah sumber pertolongan bagi umat-Nya ketika mereka ada di dalam kesesesakan. Tuhan tidak kekurangn cara untuk menolong dan menyelamatkan umat-Nya. Yang diperlukan dari umat Tuhan adalah: menantikan pertolongan dari Tuhan–sumber pertolongan, yang juga Pencipta langit dan bumi!

Ayat 12-15. Daud adalah anak bungsu Isai, seorang Yehuda yang tinggal di Efrata, Betlehem–di padang Efrata dan di Betlehem inilah–sekian ratus tahun kemudian, keturunan Daud dilahirkan untuk menjadi Juru Selamat seluruh umat manusia dari dosa mereka. Isai mempunyai 8 orang anak laki-laki, dan Daud adalah anak bungsu.

Ada paralelisme yang bisa dilihat pada bagian ini, membandingkan antara Daud dengan anak-anak Isai yang lain: (1) tiga anak Isai paling tua – Daud paling muda; (2) tiga anak Isai pergi berperang – Daud menggembala kambing domba di rumah; (3) tiga anak Isai mengikuti Saul sebagai tentara secara tetap – Daud adalah hamba pamggilan: masih bolak balik dari istana Saul ke rumahnya untuk menggembala domba ayahnya; dan nanti … tiga anak Isai gemetar ketakutan melihat Goliat – Daud dengan iman berani maju dan membunuh Goliat!

Ayat 16-18. Latar belakang peristiwanya: sudah 40 hari Goliat menantang dan menghina pasukan Israel; dari pagi sampai petang. Setiap hari! Setelah 40 hari kondisi menekan itu terjadi; “kebetulan” Isai menyuruh Daud pergi menengok kakak-kakaknya yang sedang ikut berperang di Lembah Tarbantin. Isai menyuruh Daud membawa perbekalan untuk kakak-kakaknya, dan oleh-oleh untuk kepala pasukan. Tujuan Isai: mengetahui kabar dan keadaan anak-anaknya di medan perang.

TUHAN mengijinkan 40 hari lamanya pasukan Israel dihina dan diintimidasi oleh Goliat–dan tidak ada satupun yang berani untuk bangkit melawan Goliat. Semua pasukan Israel, termasuk para komandan, bahkan raja Saul sekalipun merasa cemas/ketakutan dan kehilangan harapan. Tak ada seorangpun yang berseru kepada TUHAN–dan mungkin kalaupun ada, TUHAN menjawab dengan cara yang tak pernah mereka duga.

Waktu 40 hari menunjukkan keparahan dan finalitas dari kondisi tekanan dan ketakutan yang dialami oleh pasukan Israel. Depresi mereka sudah mencapai puncaknya. Di mata mereka, masa depan mereka sudah begitu suram–mereka akan dikalahkan dan dijadikan budak oleh orang Filistin. Mereka tidak tahu bahwa pertolongan TUHAN sedang mendatangi mereka–situasi yang paling buruk sedang akan dipakai TUHAN untuk meninggikan orang pilihannya, yang akan hadir dipakai memberi kelepasan bagi umat-Nya.

Penerapan:
Berdoa untuk situasi reakreditasi S3. Kondisinya tidak baik, tetapi saya meyakini Tuhan akan memberikan jalan pertolongan sehingga prodi ini akan terakreditasi Unggul. Berbelas kasihanlah kepada kami, dan kepada saya, ya Tuhan; sebab Engkaulah sumber pertolongan saya.

Views: 2

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.