Jangan Sombong dan Merasa Tak Terkalahkan

1 Samuel 17:1-11

Sesungguhnya, Tuhanlah sumber segalanya. Segala sesuatu yang dimiliki seseorang itu berasal dari Tuhan, dan karena itu pemberian Tuhan, maka Tuhan bisa mencabutnya sewaktu-waktu. Sungguh tidak layak untuk merasa hebat, merasa kuat, menjadi sombong, merasa tak terkalahkan–sebab kalau seseorang masih bertahan, masih menang, masih sukses, itu semata-mata karena Tuhan mengijinkan. Apabila Tuhan punya alasan, maka dalam sekejab mata Ia bisa mencabut dan mengimbil semuanya, sehingga orang itu tidak punya apa-apa; menjadi takut dan kehilangan harapan.

Ayat 1-3. Terjadi lagi peperangan antara orang Israel dengan Filistin. Dan sepertinya, orang Filistin yang berinisiatif untuk menyerang, dan mereka sudah bisa menduduki Sokho, yang sebenarnya adalah wilayah Yehuda. Saul dan pasukannya berkumpul dan berkemah berhadap-hadapan dengan pasukan Filistin. Kedua pasukan itu menempati dua bukit yang berhadapan, dan di antara mereka ada lembah yang memisahkan.

Ayat 4-7. Tetapi kali ini ada yang berbeda. Orang Filistin tidak menyerang, tetapi ada pahlawan mereka yang keluar dari barisan–namanya Goliat, orang Gat. Goliat ini adalah seorang raksasa, tinggi badannya hampir 3 meter. Dan sepadan dengan perawakannya, ia membawa persenjataan yang menakjubkan untuk ukuran pasukan pada waktu itu: baju perangnya dari tembaga, beratnya sekitar 60 kg. Tubuhnya terlindungi rapat dari kepala sampai kakinya. Senjatanya pedang dari tembaga–bukan besi–dan tombaknya juga snagat besar–berat mata tombaknya saja sekitar 7 kg. Ini mesin perang yang sangat kuat dan menakutkan–seolah tak terkalahkan.

Ayat 8-10. Goliat ini turun ke tengah lembah dan menantang pasukan Israel. Ia dan pasukannya begiu yakin bahwa ia tak terkalahkan, sehingga ia membuat sayembara–siapa di antara pasukan Israel yang bisa mengalahkannya dalam pertarungan satu lawna satu, maka seluruh pasukan Filistin akan menyerah dan menjadi budak Israel. Sangat yakin dia dengan kekuatannya, sangat yakin dia bahwa tidak ada seorangpun yang akan bisa mengalahkannya–sehingga ia berani mempertaruhkan seluruh pasukan Filistin. Dan para pemimpin serta pasukan Filistin juga memiliki keyakinan yang sama.

Tema ini berulang: manusia memandang dan mengandalkan apa yang nampak di depan mata. Secara manusia, Goliat memang tak terkalahkan–bukan seja secara fisik dia lebih besar daripada smeua orang yang lain, tetapi juga ia mengenakan pakaian dan senjaa perang yang melampaui semua pakaian dan senjata perang yang lain. Dalam ayat 33, dterungkap juga bahwa Goliat ini punya pengalaman lama berperang–bukan tentara baru, tapi tentara yang sudah punya banyak pengalaman berperang; dan kalau sampai sekarang masih hidup, berarti memang selama ini dia tidak pernah kalah.

Secara fisik, secara perlengkapan sentara, secara kompetensi Goliat adalah tentara yang tak terkalahkan. Sampai hari itu! Hari di mana TUHAN menyatakan Diri-Nya, bahwa Ia lebih kuat daripada tentara yang terkuat di dunia ini.

Ayat 11. Ketika Saul dan pasukan Israel mendengar tantangan Goliat itu, mereka menjadi sangat ketakutan dan kehilangan harapan sama sekali. Saul, yang tubuhnya paling tinggi di antara semua orang Israel; yang posisinya sebagai raja paling tinggi dan berkuasa atas seluruh Israel. Sekarang–ketika berhadaan dengan tantangan yang jauh lebih besar dan dahsyat daripada dirinya dan kemampuannya, menjadi ketakutan dan kehilangan harapan. Kalau pemimpinnya saja ketakutan dan kehilangan harapan, lalu bagaimana nasib rakyat dan pengikutnya?

Saul pernah menjadi seorang yang rendah hati, bahkan kecil hati–tetapi ketika Roh TUHAN menguasainya, ia menjadi seorang yang cerdas dalam berstrategi dan memiliki wibawa yang besar, sehingga seluruh rakyat Israel menjadi gentar kepadanya. Tapi, ketika Roh TUHAN tidak lagi menyertai dia, maka semua hikmat, keberanian, dan kewibawaannya itu luntur tanpa sisa.

Penerapan:
(1) Memohon agar saya terus diberi kesadaran bahwa saya mutlak tergantung kepada Tuhan. Bahwa dalam diri saya sendiri tidak ada yang bisa dibanggakan. Apapun yang saat ini ada pada saya, itu adalah anugerah Tuhan, sehingga saya tidak layak untuk menyombongkan diri dan merasa kuat atau tak terkalahkan.
(2) Memohon agar hati say aterus menyadari hal ini, dan terus bersikap rendah hati–mengandalkan Tuhan, dan tidak bertindak berdasar keyakinan akan kekuatan saya sendiri.

Views: 7

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.