Tuhan Yang Berduka Karena Umat-Nya

1 Samuel 15:27-35

Tuhan bukan mesin otoriter lalim yang dingin tanpa emosi. Tuhan, yang menciptakan manusia segambar dengan Dia, adalah Tuhan yang memiliki perasaan atau emosi: Ia bisa murka, Ia bisa berkenan, Ia bisa kecewa, Ia bisa sedih–walau emosi-emosi itu tidak sama dengan apa yang dimiliki dan dirasakan oleh manusia. Tuhan dengan sengat jelas memperlihatkan bahwa Ia punya perasaan, dan perasaannya sangat sensitif, dalam diiri Tuhan Yesus, Allah yang menjadi Manusia.

Ayat 27-29. Ketika Samuel beranjak hendak pergi, Saul memegang ujung jubahnya, tapi robek terkoyak. Dan TUHAN memakai itu sebagai tanda bahwa Ia telah mengoyakkan jabatan raja dari Saul dan telah memberikan kepada orang lain yang lebih baik daripada Saul. Sifat TUHAN yang dinyatakan: “Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.” (ayat 29).

Tuhan berdualat, Tuhan independen–tidak tergantung atau mengandalakan apapun atau siapapun di luar Diri-Nya. Tidak ada penyesalan seolah-olah kehendak-Nya akan gagal karena sesuatu hal. Ia tidak kurang cara untuk menggenapi kehendak-Nya. Jangan merasa dirimu sebagai yang tak tergantikan dalam skema rencana Tuhan. Tuhan dan rencana-Nya lebih besar, jauh lebih besar daripada dirimu. Tidak ada kata “kok sayang sekali orang seperti itu tidak dipakai (lagi) oleh Tuhan”, sebab Tuhan tidak membutuhkan dan tidak tergantung kepada siapapun juga!

Ayat 30-31. Saul menunjukkan hati yang memang tidak haus akan TUHAN. Bukannya sujud dalam penyesalan dan kedukaan, ia justru masih minta Samuel untuk menolong menjaga nama baiknya di hadapan para pemimpin dan rakyat Israel. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara TUHAN, Samuel, dan Saul–padahal hari itu sudah final keputusan TUHAN untuk mencabut panggilan-Ny atas Saul dan memberikannya kepada orang lain.

Dan Saul sujud menyembah kepada TUHAN” (ayat 31). Tapi ini cuma formalitas, cuma pencitraan–aksi munafik yang dipertontonkan kepada orang banyak. Tapi siapa yang sednag ditipu oleh Saul? Bukan TUHAN, karena Ia tahu segala sesuatu termasuk kepalsuan manusia; bukan pula Samuel, sebab ia tahu bahwa TUHAN sudah menolak Saul. Yang ditipu hanyalah orang banyak dan diri Saul sendiri. Ia menipu diri sendiri dengan mempertahankan citra sebagai penyembah TUHAN, padahal ia sudah menolak TUHAN.

Ayat 32-33. Samuel menyelesaikan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab Saul. Ia menyatakan hukuman TUHAN atas Agag, raja orang Amalek. Semuel menjadi wakil TUHAN untuk membalaskan dosa dan kejahatan Agag, yang “pedangnya telah membuat perempuan-perempuan kehilangan anak” (ayat 33). Agag mengira ia luput dari hukuman TUHAN, tetapi tidak ada yang terluput dari hukuman TUHAN!

Hukuman Tuhan pasti akan dijatuhkan. Konsekuensi dosa dan kejahatan seseorang akan berlaku. Yang membedakan hanya satu: sikap dan relasi orang dalam menanggungnya. Apakah ia akan menanggung konsekuensi itu dengan kekerasan hati dan kemarahan kepada Tuhan; ataukah ia bersikap rendah hati, bersujud dan menyerah kepada Tuhan serta berharap kepada belas kasihannya, seperti Daud: “Sangat susah hatiku, biarlah kiranya aku jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab sangat besar kasih sayang-Nya.” (1 Taw. 21:13).

Ayat 34-35. Samuel kembali ke rumahnya di Rama, tetapi Saul pergi ke rumahnya di Gibea-Saul. Itu adalah pertemuan terakhir Samuel dengan Saul, dan ia tidak akan melihat Saul lagi sampai hari kematiannya. Samuel sangat berduka karena Saul: ia menaruh harapan yang sangat besar kepada Saul, secara emosional Samuel juga memiliki ikatan yang kuat seperti seorang ayah kepada anaknya sendiri. Dan TUHAN menyesal karena Ia menjadikan Saul raja atas Israel.

Tidak semua putus hubungan atau perpisahan itu dalam kondisi baik-baik semua atau ideal. Ada perpisahan yang sangat buruk: semua pihak sedang marah, sedih, kecewa, menyesal; dan tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya–perpisahan yang final, sampai matipun tidak akan ada rekonsiliasi atau bahkan pertemuan lagi. Menyedihkan, tetapi itulah kehendak Tuhan!

TUHAN menyesal” (ayat 35), tapi juga dikatakan: “Ia bukan manusia yang harus menyesal” (ayat 29). Apakah ini bukan pernyataan yang kontradiktif dan inkonsisten? Kata yang digunakan sama: “nakham: to sigh, to be sorry“. Kata itu menggambarkan kesedihan Tuhan atas situasi yang terjadi; seolah-olah Tuhan menghela nafas panjang melihat smeuanya itu. Bukan menyesal dalam arti Tuhan telah melakukan kesalahan. Tapi sedih karena semua peristiwa itu harus terjadi.

Tuhan, melihat apa yang harus saya lalui karena dosa dan kejahatan saya, menghela nafas panjang dalam kedukaan, karena kasih-Nya kepada saya. Tuhan Yesus menangis bersama Maria yang kehilangan saudara yang dikasihinya. Terpujilah Tuhan, yang berempati kepada kesedihan dan kedukaan manusia. Terpujilah Tuhan, yang “emosional” di dalam kekudusan dan kebenaran-Nya. terpujilah Tuhan yang tidak dingin dan lalim dan kejam–Ia menjatuhkan hukuman kepada orang yang dikasihi-Nya sambil menghela nafas panjang dalam kedukaan.

Penerapan:
(1) Memuji dan menyembah Tuhan yang Mahakudus dan Mahaadil dan Mahakuasa, tetapi juga yang memiliki hati yang lemah lembut dan penuh belas kasihan.
(2) Menerima konsekuensi dosa: pembatasan, pencabutan panggilan, keterputusan relasi, kehilangan kesempatan, dengan rendah hati dan ketundukan; menyadari bahwa itu keputusan yang tidak saja adil, tetapi “Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita” (Maz. 103:10).

Views: 5

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama. Bookmark the permalink.