1 Samuel 15:12-26
Manusia membuat ukuran atau standarnya sendiri tentang hidup yang saleh atau hidup yang benar. Manusia memiliki argumen untuk membenarkan dan melegitimasi sikap atau tindakannya dengan standarnya sendiri. Tetapi sesungguhnya Tuhanlah yang berdaulat menentukan standar kebenaran. Hanya dengan mendengarkan dan mentaati firman atau perintah Tuhan dengan mutlak sesuai kehendak-Nya saja yang membuat perbuatan orang berkenan kepada Tuhan. Di luar itu: pendurhakaan dan penolakan kepada Tuhan.
Ayat 12-13. Samuel bangun pagi-pagi untuk menemui Saul, tetapi Saul sudah pergi ke Karmel untuk mendirikan monumen baginya–untuk memperingati kemenangannya, untuk menghormatinya. Saul sudah menjadi sombong, merasa hebat, merasa berhasil–dan itu membuatnya tidak mentaati TUHAN dengan sungguh-sungguh: ia memamerkan prestasinya itu kepada orang banyak: mendirikan monumen, menangkap Agag, dan merampas hewan-hewan yang terbaik.
Hati nurani Saul sudah keras, sehingga ia tidak merasa apa yang dilakukannya itu salah–nampak dari sikapnya yang tanpa dosa dan dengan ringan menyambut kedatangan Samuel–padahal Samuel datang untuk menyatakan hukuman TUHAN. Saul tidak menduga sama sekali bahwa kedatangan Samuel adalah akhir dari posisi dan kekuasaannya! Saul tidak merasa bersalah atau berdosa apa-apa. Ia berkata: “aku telah melaksanakan firman TUHAN.” (ayat 13).
Ayat 14-15. Samuel langsung menegor Saul secara tidak langsung, dengan menanyakan suara hewan-hewan yang kedengaran. Tapi Saul berkelit: (1) ia masih merasa tidak bersalah, ia merasa telah melakukan perintah TUHAN; (2) ia menyalahkan rakyatnya sebagai pihak yang ingin merampas hewan; (3) ia berdalih memberikan hewan terbaik itu untuk korban bagi TUHAN; (4) ia berdalih bahwa ia takut kepada rakyat sehingga melanggar perintah TUHAN (ayat 20-21, 24).
Betapa berbeda dengan Daud; ketika ia ditegor TUHAN melalui nabi Natan atas kejahatannya yang sangat mengerikan, Daud tidak berkelit atau beralasan membenarkan diri; tetapi ia langunsg merendahkan diri dan mengaku: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” (2 Sam. 12:13)–penyesalan yang tulus dari Daud diungkapkan dalam Mazmur 51. TUHAN, yang melihat hati, melihat ketulusan Daud, sehingga nabi Natan langsung berkata: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.” (2 Sam. 12:13).
Ayat 16-26. Tegoran TUHAN kepada Saul, menyatakan sifat TUHAN: (1) TUHAN menuntut ketaatan yang utuh kepada perintah-Nya, tidak mendengarkan TUHAN adalah perbuatan yang jahat di mata TUHAN–ayat 19); (2) Bagi TUHAN, mendengarkan dan mentaati firman-Nya lebih baik daripada semua korban persembahan. TUHAN tidak bisa disuap–ayat 22; (3) Ketidaktaatan kepada perintah TUHAN sama dengan penyembahan berhala, sebab ketidaktaatan berarti menolak orotitas TUHAN–ayat 23; dan (4) TUHAN tidak bisa dikelabuhi dengan pertobatan yang palsu–ayat 24-26.
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan.” (Gal. 6:7). Pikiran, asumsi, standar manusia bisa menyesatkan–membuat merasa taat kepada Tuhan, membuat merasa tidak ada masalah dengan tindakannya yang salah. Tapi Tuhan itu Mahakudus dan Mahakuasa–Ia tidak membiarkan Diri-Nya dipermainkan. Ia menyatakan kebenaran-Nya dengan tegas dan keras; setiap kejahatan dan dosa, apalagi disertai dengan sikap yang tidak takut kepada Tuhan, akan punya konsekuensi.
Penerapan:
Memohon hati yang tulus, takut dan gentar kepada Tuhan, sehingga saya menjalani hidup dalam ketaatan yang sungguh-sungguh dan segenap hati kepada kehendak/perintah Tuhan.
Views: 4