1 Samuel 14:24-35
Perkataan atau keputusan seorang pemimpin akan berdampak kepada mereka yang dipimpinnya. Sehingga seorang pemimpin tidak bisa sembarangan atau sembrono untuk berkata-kata atau untuk mengambil keputusan. Tuhan berkenan kepada permohonan Salomo, yang meminta agar diberi “hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat … pengertian untuk memutuskan hukum” (1 Raj. 3:9,11).
Ayat 24-26. Pada hari itu, pasukan Israel sedang tertekan–bukan karena musuh, tetapi karena Saul memerintahkan pasukannya untuk bersumpah: terkutuklah orang yang makan sebelum malam hari, dan sebelum Saul mengalahkan musuhnya. Semua orang takut kepada sumpah itu, dan mereka sama sekali tidak makan–bahkan ketika mereka menemukan madu yang melimpah di hutan, mereka tidak berani untuk memakannya karena takut kena kutuk.
Peristiwa ini agaknya mendahului peristiwa kemenangan Israel yang diinisiasi oleh langkah iman Yonatan di hadapan TUHAN. Karena disebutkan bahwa sumpah ini dibuat Saul sebelum “sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku.” (ayat 24). Saul berpikir dengan mengikat sumpah, maka akan membuat pasukannya jadi kuat dan bisa mengalahkan musuh–faktanya, mereka justru tertekan (nagas: to oppress, to require payment. It refers to forcing someone or something to do something).
Pasukan Israel merasa tertekan karena dipaksa melakukan sesuatu. Keputusan Saul kontra produktif, kalau tujuannya membuat orang bersungguh-sungguh atau berkomitmen untuk berperang, justru membuat orang tertekan dan merasa terpaksa–dicatat bahwa: “rakyat takut kepada sumpah itu.” (ayat 26).
Ayat 27-30. Yonatan tidak tahu bahwa ada sumpah yang mengikat pasukan Israel atas perintah Saul. Sehingga ketika ia melihat madu hutan itu, ia mengambil dan memakannya–akibatnya: “matanya menjadi terang lagi” (ayat 27). Madu itu memberikan kekuatan/energi dan semangat baru kepada Yonatan. Ia menjadi satu-satunya orang yang bersemangat, di tengah semua pasukan yang tertekan dan letih lesu.
Seorang dari rakyat Israel mengatakan kepada Yonatan bahwa Saul–ayahnya–telah menyuruh rakyat bersumpah untuk tidak makan apapaun dengan ancaman kutuk; dan itu yang menyebabkan seluruh rakyat letih lesu. Yonatan menjawab bahwa keputusan Saul itu telah mencelakakan pasukannya sendiri–sebab membuat pasukan kehilangan tenaga, tertekan, dan justru tidak produktif; kalau saja mereka diijinkan makan, maka mereka pasti lebih kuat dan bisa menimbulkan kerusakan yang lebih besar pada pasukan musuh. Yonatan memperlihatkan dirinya untuk dilihat oleh orang lain, bahwa setelah makan madu hutan itu ia menjadi lebih bersemanat dan energik.
Ayat 31-32. Setelah menguraikan latar belakangnya, penulis kemudian kembali ke kronologi peristiwa, di mana karena pertolongan TUHAN, hari itu pasukan Israel memukul kalah orang Filistin. Dan ada catatan tambahan: “Rakyat sudah sangat letih lesu” (ayat 31). Saking lelah dan laparnya, mereka mengambil hewan jarahan dengan rakusnya (rushed greedily—ayat 32) dan menyembelihnya begitu saja di atas tanah dan memakan dengan darahnya. Ini adalah tindakan yang melanggar hukum TUHAN (Ima. 17:10-14).
Kondisi fisik yang lemah, kelelahan, kelaparan, dan rasa frustrasi atau tertekan yang hebat, bisa mendorong orang untuk bertindak kalap, membuat orang tidak memikirkan apakah tindakannya itu benar atau salah; yang penting semua kelelahannya bisa dipuaskan dan bisa lepas dari tekanan yang ditanggungnya. Tanpa pengendalian Roh Kudus, manusia bisa bertindak sebuas binatang karena dikuasai dan dikendalikan oleh hawa nafsunya. Benarlah perkataan Tuhan melalui Paulus: “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.” (Efe. 5:18).
Ayat 33-35. Saul mendapat laporan bahwa rakyat berdosa terhadap TUHAN dengan memakan hewan jarahan dengan darahnya. Saul menegor rakyatnya dengan mengatakan bahwa mereka telah berbuat khianat, lalu memerintahkan mengambil batu besar dan semua rakyat harus membawa hewannya kepada Saul, untuk disembelih dan dikonsumsi dengan cara yang benar. Lalu Saul mendirikan mezbah bagi TUHAN–mezbah pertama yang didirikannya bagi TUHAN.
Apakah Saul merasa bersalah karena perintahnya untuk bersumpah itu menjadi penyebab terjadinya pelanggaran hukum TUHAN? Kalaupun ada rasa bersalah, itu tidak nampak atau tidak dinyatakannya. Ia menyalahkan rakyatnya, lalu membuat mekanisme untuk melakukan perbaikan–di mana dia menempatkan dirinya sendiri sebagai pusatnya: setiap orang harus datang menghadap kepadanya dan menyembelih hewan di hadapannya.
Kemudian, mungkin untuk melunakkan hati TUHAN agar TUHAN tidak menghukum orang Israel karena melanggar hukum-Nya, Saul mendirikan mezbah (yang pertama didirikannya) bagi TUHAN. Ia mendirikan mezbah bukan karena kecintaan atau rasa syukur kepada TUHAN, tetapi karena ketakutan kepada potensi murka dan hukuman TUHAN. Apakah TUHAN berkenan? Mungkin tegoran Samuel di masa yang akan datang menjawab pertanyaan ini: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN?” (1 Sam 15:22).
Penerapan:
(1) Memohon hikmat dan pimpinan Tuhan agar tidak mengambil keputusan yang sembrono atau yang desktruktif. Memohon hati yang percaya kepada Tuhan dan yang tidak bersandar kepada pemikiran saya sendiri.
(2) Mengakui Tuhan, berdoa meminta pimpinan, bergantung kepada Tuhan sebelum dan dalam membuat keputusan.
Views: 8