1 Samuel 14:1-15
Kemenangan itu bukan ditentukan oleh besar/kecilnya sumber daya atau situasi atau strategi dan siasat, melainkan oleh perkenan dan pertolongan Tuhan! “With your help I can advance against a troop; with my God I can scale a wall.” (Maz. 18:29-NIV). Yang diperlukan adalah: maju dengan apa yang ada–bukan karena keberanian/kenekadan, tetapi karena iman kepada Tuhan’ dan Tuhan berkuasa memberikan kemenangan yang berlipat ganda.
Ayat 1-5. Saul sedang duduk di ujung Gibea, bersama 600 pasukan. Yang mendampingi Saul adalah: Ahia, keturunan imam Eli–ia berposisi sebagai imam besar (mengenakan baju efod). Yonatan, anak Saul, berinisiatif mengajak pembawa senjatanya untuk menyeberang mendekati pasukan Filistin. Mencoba beberapa perlintasan bukit untuk menyeberang ke lokasi pasukan Filistin, Yonatan sampai di lembah di antara 2 bukit batu, satu bukit di Geba (markas Saul), dan satunya di Mikhmas (markas Filistin).
Ayat 6-7. Yonatan mengajak pembawa senjatanya untuk menyerang orang Filistin–sekalipun hanya berdua, dan posisi orang Filistin ada di atas bukit. Kalimat kuncinya: “Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.” (ayat 6). Yonatan beriman kepada kuasa TUHAN, kemenangan bukan masalah banyak sedikitnya pasukan, tapi berdasar perkenan TUHAN.
Ayat 8-10. Seperti Gideon, di dalam imannya kepada TUHAN, Yonatan meminta tanda perkenan dan penyertaan TUHAN: ia akan sengaja memperlihatakn diri kepada orang Filisin–apabila mereka berkata akan turun menyerangnya, maka ia tidak akan maju. Tapi bila orang Filistin menantang dia untuk naik mendekati mereka, maka itu tanda bahwa “TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita.” (ayat 10).
Yonatan tidak mengikuti keinginannya sendiri–lalu melabelinya sebagai tindakan iman, melainkan ia menantikan pernyataan kehendak Tuhan. Iman itu bukan asal percaya–sebab asal percaya bisa jadi adalah bentuk keyakinan kepada diri sendiri; iman yang benar adalah yang berdasarkan janji/kehendak Tuhan yang jelas.
Ayat 11-12. Ketika orang FIlistin melihat Yonatan hanya berdua dengan bujangnya, mereka menantang Yonatan untuk naik mendaki bukit ke perkemahan mereka: “Naiklah ke mari, maka kami akan menghajar kamu.” (ayat 12). Mereka tidak sadar bahwa perkataan itu adalah tanda kebinasaan mereka di tangan TUHAN! Mereka mengejek dan mencemooh akan menghajar Yonatan, justru mereka akan dihajar oleh TUHAN.
Ayat 12b-15. Dengan keyakinan bahwa TUHAN telah menyerahkan pasukan Filistin ke tangannya, Yonatan dan bujangnya merangkak naik ke puncak bukit batu! Tidak diketahui berapa tingginya, tapi secara siasat militer, posisi Yonatan sangat lemah: (1) ia merangkak naik, sehingga tidak bisa melindungi dirinya sendiri; (2) ia di bawah sementara musuhnya di atas, ia adalah sasaran empuk–tapi, bukan jumlah, bukan situasi, bukan posisi yang menentukan kemenangan. TUHAN yang menentukan kemenangan.
Yonatan dan pembawa senjatanya membunuh pasukan Filistin. Yonatan berada di depan bertempur, sedangkan pembawa senjatanya di belakangnya turut menyerang dan membunuh tentara Filistin itu. Mereka berdua membunuh sekitar 20 orang Filistin; berarti 1:10. Sebab TUHAN yang memberikan kekuatan dan kemenangan. Dan itu ditunjukkan dengan terjadinya kegemparan di perkemahan seluruh pasukan Filistin–di perkemahan, di penjagaan, dan pasukan yang menjarah–TUHAN mengirimkan kepanikan atas pasukan Filistin!
Penerapan:
Mengerjakan yang bisa saya kerjakan, memohon perkenan dan penyertaan Tuhan agar memberikan keberhasilan, berlipat ganda dari sumber daya dan pekerjaan yang saya lakukan. Supaya nyata bahwa Tuhanlah yang bekerja, dan nama-Nya dimuliakan.
Views: 0