Melayani Orang yang Bertobat dari Dosanya

1 Samuel 12:19-25

Ketika melayani orang lain yang telah berdosa dan bertobat, seorang hamba Tuhan harus bersikap benar. Ia tidak boleh mentolelir atau memandang enteng dosa yang sudah dilakukan orang itu-itu penghiburan palsu. Tetap tegas menyatakn bahwa itu adalah dosa. Penghiburan yang benar adalah: mengajak melihat kepada kasih Tuhan kepada orang itu, dan kepada kesetiaan Tuhan kepada janji yang telah dibuat-Nya.

Ayat 19. Melihat demonstrasi kehadiran dan kedahsyatan TUHAN yang merupakan konfirmasi bahwa TUHAN tidak berkenan dengan pilihan mereka, bangsa Israel menjadi takut kepada TUHAN dan kepada Samuel, lalu meminta agar Samuel mendoakan mereka agar tidak dihukum oleh Tuhan–dan mereka mengakui bahwa mereka sudah menambah dosa mereka dengan permintaan akan raja.

Kadang memang perlu cara yang keras dan terang-terangan dan bahkan dramatis untuk menolonog orang melihat dan menyadari dosanya di hadapan Tuhan–bukankah saya sudah mengalaminya sendiri? Ketika hati nurani terlanjur keras sehingga tidak lagi peka kepada bisikan dan tegoran halus, maka Tuhan memakai cara yang ekstrem untuk menegor orang berdosa agar sadar dan bertobat di hadapan Tuhan.

Ayat 20-22. Samuel menghibur bangsa itu–setelah mereka merendahkan diri dan mengakui dosa mereka: (1) tetap mengkonfirmasi bahwa mereka memang telah berdosa; (2) tapi mendorong supaya tidak putus asa, melainkan terus mengikut TUHAN dan beribadah kepada TUHAN dengan segenap hati; (3) agar tidak lagi menyeleweng dengan menyembah berhala yang sia-sia dan tidak bisa menolong mereka; (4) meyakinkan sifat TUHAN, bahwa Ia tidak akan membuang umat yang sudah dipilih-Nya menjadi umat-Nya sendiri–keyakinan bukan karena kebaikan umat, tetapi karena perjanjian TUHAN.

Menolong orang yang menyesali dosanya tidak berarti membenarkan atau mentolelir dosanya–tetap harus tegas menyatakan bahwa ia sudah berdosa! Tidak boleh ada pernyataan “Nggak apa-apa.” tetapi tegas menyatakan: “Ya, memang kamu berdosa dan jahat di hadapan Tuhan”. Tetapi digabungkan dengan penghiburan dan motivasi untuk tidak putus asa karena dosanya sehingga kehilangan harapan, dengan penguatan bukan kepada pernyataan bahwa mereka pasti tidak akan berdosa lagi–karena ini ilusi dan harapan palsu, sebab pasti suatu saat akan jatuh lagi–, melainkan dengan mengajak melihat kesetiaan Tuhan kepada janji-Nya.

Ayat 23-25. Samuel sendiri menyatakan sikapnya–sekalipun ia marah dan kecewa karena dosa umat TUHAN, bahwa ia tidak akan berhenti mendoakan mereka dan tetap akan mengajar mereka untuk berjalan di jalan yang baik dan lurus di mata TUHAN. Sembari kembali mendorong umat TUHAN untuk melanjutkan perjalanan hidup mereka dalam takut akan TUHAN dan ketekunan beribadah kepada TUHAN.

Sebagai pemimpin rohani dan nabi, mendoakan dan mengajar umat Tuhan dengan tekun adalah komitmen yang harus terus dijalani. Sekalipun yang dilayani jatuh dalam dosa dan tidak memenuhi harapan, seorang pelayan Tuhan akan terus mendoakan mereka dan terus mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Secara ekstrem, Samuel menyatakan bahwa kalau ia tidak melakukan panggilan itu, maka ia berdosa kepada TUHAN–dan ini benar, sebab dosa diartiken sebagai: meleset dari sasdaran yang ditetapkan Tuhan.

Penerapan:
(1) Bersyukur kepada Tuhan, yang di dalam kehendak-Nya telah memilih untuk membuat perjanjian keselamtan dengan saya, sehingga saya menjadi umat kepunyaan-Nya. Ini adalah status yang memberikan jaminan kemananan sempurna.
(2) Bersikap benar ketika melayani orang yang bertobat dari dosanya: tetap tegas terhadap dosa, tetapi mengasihi danmenguatkan berdasarkan janji Tuhan.

Views: 4

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.