1 Samuel 11:8-15
TUHAN pernah berkata kepada Yosua: “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, bahwa seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.” (Yos. 3:7). Kepemimpinan seseorang diiteguhkan dengan bukti perbuatan, dan bukti perbuatan itu adalah pekerjaan Tuhan! Tuhan akan meninggikan seorang yang dipilihnya, sehingga semua orang tahu dan melihat kepemimpinan orang pilihannya itu.
Ayat 8-10. Saul memeriksa pasukan Israel, banyak sekali orang Israel bergabung–karena TUHAN mendatangkan ketakutan kepada bangsa itu (ayat 7); 300 ribu orang Israel, 30 ribu orang Yehuda. Mengapa orang Yehuda disebutkan secara khusus, disendirikan dari suku-suku yang lain? Kemungkinan ini indikasi bahwa Kitab 1 Samuel ditulis setelah Kerajaan Israel terbelah menjadi dua pasca pemerintahan Salomo.
Saul berkata kepada utusan dari Yabesh-Gilead, bahwa besok siang, penyelamatan akan datang kepada kota itu. Mendengar janji itu, penduduk Yabesh-Gilead bersukacita! Tetapi, mereka cerdik–mereka tidak menyatakan/menantang perang kepada Nahas, tetapi mereka memberitahu bahwa mereka akan menyerah; tidak memberitahu bahwa Saul dan pasukannnya akan datang untuk menolong.
Saul menyimpan fakta tentang pemilihan dan pengurapannya sebagai raja kepada orang lain–sampai tiba waktunya TUHAN menyatakan kehendak-Nya kepada publik. Orang Yabesh-Gilead menyimpan informasi bahwa mereka akan mendapat pertolongan dari musuh mereka yang mengancam. Tuhan Yesus memerintahkan agar murid-murid menyimpan peristiwa-peristiwa tertentu, sampai tiba waktunya yang tepat. Ada kalanya ada hal yang perlu disimpan, dan tidak dipublikasikan. Tetapi, pada waktunya, semua itu akan dibukakan oleh Tuhan.
Ayat 11. Saul membagi pasukan Israel menjadi tiga bagian, dan mereka menyerbu perkemahan orang Amon pada waktu kawal pagi (pukul 03.00 – 06.00)! Serangan yang tidak terduga. Bukan saja karena dilakukan di pagi buta, tetapi juga karena pasukan Amon mengira tidak ada peperangan karena penduduk Yabesh-Giled sudah akan menyerahkan diri pada hari itu. Dan ini pertempuran yang cepat–sebelum hari panas, pasukan Amon dikalahkan dan mereka melarikan diri tercerai berai. Sebuah kemenangan yang total dan sangat signifikan!
Ayat 12-13. Melihat kemenangan besar ini, bangsa Israel mencari-cari orang-orang dursila yang sebelumhya menghina dan melecehkan Saul; mereka berniat untuk menghukum/membunuh orang-orang itu. Tetapi, Saul menolak permintaan mereka. Tidak mau ada pembunuhan atas saudara sebangsa pada saat TUHAN memberikan keselamatan kepada Israel. Saul memberikan kemuliaan kepada TUHAN, mengakui bahwa TUHAN yang memberikan kemenangan kepada Israel pada hari itu.
Sikap yang seharusnya ada pada setiap orang percaya. Mengakui dan memuliakan Tuhan atas semua keberhasilan dan berkat yang dialami. Sebab mengerti dahn sadar akan fakta, bahwa sebenarnya Tuhanlah yang menjadi sumber kemenangan; Tuhanlah yang menjadi sumber kekuatan; Tuhanlah yang bekerja memberikan keberhasilan dan kemenangan itu.
Ayat 14-15. Samuel kemudian membawa seluruh bangsa ke Gilgal untuk memperbaharui jabatan raja. Apakah ini berarti tujuh hari sejak Samuel mengurapi Saul menjadi raja (1 Sam. 10:8)? Ataukah ini peristiwa yang berbeda? Kalau iya, berarti TUHAN mengatur semuanya–sembari Ia mengangkat Saul menjadi raja, di tempat lain sudah ada krisis ancaman orang Amon atas kota di Israel. Dan krisis itu dipakai Tuhan untuk meneguhkan kepemimpinan Saul sebagai raja.
TUHAN memilih dan mengurapi Saul sebagai raja dengan diam-diam. Kemudian TUHAN menyetakan kehendaknya melalui undian, sehingga terpilihlah Saul di hadapan semua bangsa Israel. Tetapi itu pemilihan yang secara formalitas–belum memberikan cukup legitimasi kepada Saul, sebab ada sebagian orang yang meragukan bahkan menghina dia. TUHAN kemudian mengijinkan ada krisis, di mana Ia meninggikanh Saul, sehingga panggilan dan kedudukan Saul sebagai pemimpin sekrang diteguhkan di hadapan semua orang.
Penerapan:
(1) Mengikuti pimpinan dan proses yang dirancang oleh Tuhan untuk melakukan panggilan-Nya. Meyakini bahwa kalau Tuhan memang memanggil saya, maka Tuhan yang akan meneguhkan penggilan itu di hadapan orang lain.
(2) Memohon hati yang bijaksana dan tidak suka pamer. Menyimpan hal-hal yang tidak/belum perlu dinyatakan kepada orang lain.
Views: 9