1 Samuel 12:1-5
Setiap kepemimpinan akan berakhir–salah satu faktor yang tak bisa dihindari: usia yang makin tua, dan ini akan dialami oleh siapapun juga. Yang penting adalah: bagaimana track recordnya sebagai pemimpin? Dunia menekankan pada kinerja, prestasi, pencapaian, dan karya “monumental”; tetapi dalam tata nilai Tuhan, yang lebih pentng adalah: integritas. Dunia kadang mengesampngkan integritas demi pencapaian target atau tujuan, tetapi di hadapan Tuhan: kepemimpinan yang jujur dan berintegritas itu lebih penting dan berharga.
Ayat 1-2. Pidato perpisahan Samuel di hadapan seluruh bangsa Israel dan raja yang diurapi Tuhan. Samuel menyatakan bahwa ia sudah melayani TUHAN sejak masa mudanya untuk memimpin Israel, dan sekarang umat TUHAN akan dipimpin oleh raja yang mereka minta. Samuel mengatakan sekarang raja itulah yang menjadi pemimpin mereka. Dan mulai hari itu, Samuel tidak lagi menjadi pemimpin mereka.
Ayat 3-4. Kemudian Samuel meminta agar hidupnya dan kepemimpinannya di uji atau dipertanggung jawabkan di hadapan TUHAN, di hadapan raja yang dipilih (pemimpin berikutnya) dan di hadapan seluruh bangsa Israel. Seorang pemimpin punya keajiban mempertanggungjawabkan masa kepemimpinannya–pertama-tama kepada Tuhan, kemudian kepada penggantinya, dan kepada publik yang ada di bawah atau masa kepemimpinnanya. Laporan akhir jabatan merupakan implementasi praktis dari prinsip ini.
Samuel secara khusus meminta diuji dalam tiga aspek: (1) apakah ia pernah memeras atau merampas milik orang lain–menggunakan kedudukannya untuk memeras dan merampas; (2) apakah ia pernah berlaku keras, menindas (oppress), kasar, menyakiti orang selama memimpin; (3) apakah ia pernah menerima suap untuk membengkokkan keadilan/kebenaran.
Tiga aspek yang harus dipertanggungjwabkan oleh seorang pemimpin. Bukan hanya masalah kinerja atau prestasi yang dicapai, tetapi yang lebih penting adalah: integritas sebagai seorang pemimpin. Integritas itu diukur dengan: (1) apakah menyalahgunakan jabatan/kedudukan untuk kepentingan pribadi, apakah melakukan korupsi untuk memperoleh apa yang bukan haknya; (2) apakah bertindak keras atau kejam atau menekan orang yang dipimpinnya; (3) apakah mau menerima suap/fasilitas untuk membengkokkan kebenaran/keadilan.
Ayat 5. Seluruh bangsa mendeklarasikan kepada Samuel, bahwa selama ia memimpin mereka, sejak masih muda sampai sekarang sudah tua dan “pensiun”, Samuel tidak pernah melakukan pelanggaran integritas. Mereka mendeklarasikan bahwa Samuel telah melakukan pelayanan dan kepemimpinannya dengan jujur, lurus, dan berintegritas. Tidak ada catatan buruk–dalam hal integritas–untuk Samuel. Dan dalam hal “kinerjanya”, Samuel tercatat sebagai “seorang abdi Allah, seorang yang terhormat; segala yang dikatakannya pasti terjadi” (1 Sam. 9:6). Samuel terbukti melakukan panggilannya sebagai nabi dengan sangat baik: segala yang dikatakan pasti terjadi–tidak ada stupun perkataannya yang gugur.
Tapi apa rahasia keberhasilan kepemimpinan Samuel? Yang jelas bukan dari dirinya sendiri–sebab iapun punya kelemahan, yaitu “gagal” mendidik anak-anaknya menjadi pemimpin yang berintegritas; melainkan karena pertolongan TUHAN. Di bagian awal kitab ini ada frasa yang menyimpulkan hidup Samuel: “TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur” (1 Sa. 3:19).
Penerapan:
(1) Berdoa memohon Tuhan yang menjaga hidup saya, agar saya bisa melakukan panggilan saya dengan berintegritas, dan berkinerja baik sesuai kehendak-Nya.
(2) Terus menjaga integitas sebagai pemimpin/manajer: tidak memeras/merampas/mencuri, tidak menindas dan kejam, tidak menerima suap untuk membengkokkan kebenaran.
Views: 4