Ujian Iman dan Ketaatan

1 Samuel 13:1-15

Tidak setiap saat seseorang memiliki pengalaman unik/supranatural kepenuhan Roh Allah. Tuhan berkenan menganugerahkan itu sebagai titik tolak atau momentum awal perjalanan rohani seseorang. Akan tetapi, iman dan ketaatan itu tidak bergantung kepada sensasi; melainkan kepada keputusan untuk percaya dan taat kepada Tuhan di dalam keseharian, di dalam situasi sulit, di dalam suasana hati yang biasa-biasa–bukan dalam ephoria/bubbling.

Ayat 1. Saul berusia sekian tahun–beberapa penafsir menyatakan 40 tahun, ketika menjadi raja. Pada tahun ke-2 pemerintahannya, dicatat peperangan melawan orang Filistin. Ini catatan penting, karena di bagian ini iman dan karakter Saul diuji, dan ternyata ia tidak lulus. Saul tidak “memelihara” momentum kepenuhan Roh Allah dengan ketaatan yang konsisten kepada TUHAN.

Ayat 2-4. Saul memimpin 2.000 orang pasukan Israel di pegunungan Betel, sedangkan Yonatan, anaknya, memimpin 1.000 orang di Gibea (ini kota tempat tinggal Saul, yang kemungkinan menjadi pusat pemerintahannya). Yonatan mengalahkan Filisitin di Geba, dan kabar itu didengar oleh orang Filistin, maka Saul meniup sangakakala untuk mengumpulkan pasukan Israel, karena memperkirakan pasukan Filistin akan datang untuk membalskan kekalahan itu. Maka seluruh pasukan Israel berkumpul di Gilgal mengikuti Saul.

Ayat 5-7. Orang Filistin mengerahkan pasukan yang sangat besar: 3.000 kereta, 6.000 pasukan berkuda, dan pasukan berjalan kaki yang sepeti pasir laut banyaknya! Orang Israel dipukul oleh pasukan Filistin, mereka lari bersembunyi di gua, dan tempat-tempat lain, bahkan ada yang menyeberang ke tanah Gad dan Gilead. Seluruh rakyat yang mengikuti Saul gemetar ketakutan di Gilgal.

Ini kondisi yang kritis bagi Israel. Pasukan mereka terlalu kecil dan lemah dibandingkan pasukan Filistin, dan mereka sudah terdesak dan terjepit. Di sisi lain, ini ujian bagi Saul sebagai raja. Semua rakkyat mengikutinya, dan menunggu keputusan dan tindakan Saul.

Ayat 8-9. Saul belum bergerak di Gilgal, ia masih menunggu kedatangan Samuel–sebab Samuel mengatakan bahwa akan datang dalam waktu 7 hari. Ini sudah masuk hari ke-7, ketakutan rakyat semakin tinggi, dan melihat Samuel belum datang juga, rakyat mulai berserak-serak meninggalkan Saul. Melihat kondisi kritis ini, Saul memutuskan untuk mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN sendiri–padahal ia tidak memiliki hak untuk melakukannya.

Ada beberapa catatan yang bisa dibuat mengenai tindakan Saul: (1) situasi krisis–yang riil, bukan imajinatif–membuatnya mengambil jalan pintas, melanggar ketentuan TUHAN; (2) Saul berpikir bahwa memberikan korban itu hanyalah formalitas yang harus dipenuhi, dan TUHAN itu adalah semacam otomaton: kalau dipencet tombol yang benar, maka akan keluar hasilnya! (3) Saul tidak cukup memiliki iman untuk percaya dan menunggu waktu TUHAN.

Ayat 10-12. Baru saja selesai Saul mempersembahkan korban, Samuel tiba di tempat itu–Samuel menepati janjinya, ia datang pada hari ke-7. Saul yang tidak cukup sabar untuk menunggu dan Saul yang terintimidasi oleh situasi yang ada di sekitarnya. Menjawab teguran Samuel, Saul menjawab: ia cemas melihat rakyat pergi meninggalkannya (meyakini kemenangan itu karena jumlah pasukan), menyahkan Samuel yang tidak datang pada waktu yang dijanjikan (menyalahkan orang lain, padahal Samuel datang sesuai janjinya), berpikir bisa membujuk TUHAN untuk memberkati pikiran/rencananya sendiri–ini pengulangan kisah Tabut TUHAN yang dibawa ke medan perang.

Ayat 13-15. Samuel menegor Saul dengan keras: karena Saul sudah tidak taat kepada perintah TUHAN. Dan itu kebodohan besar. Sebab ini bukan masalah situasi sesaat menghadapi orang Israel, tetapi seluruh masa depan kepemimpinannya–TUHAN yang semula hendak mengokohkan kerajaan Saul, sekarang tidak lagi akan melakukan rencana-Nya. TUHAN telah menunjuk orang lain yang berkenan di hati-Nya untuk menggantikan dinasti Saul sebagai raja atas Israel.

Samuel tidak tercatat melakukan persembahan korban, tetapi ia meninggalkan Saul di Gilgal, dan pergi ke Gibea Benyamin (ini adalah tempat Yonatan dan pasukannya berada). Dan Saul masih di Gilgal, berusaha mengatur pasukannya–yang semula 3.000 orang, sekarang tinggal 600 orang. Sangat sedikit, karena banyak yang sudah pergi meninggalkannya. Walu, kalau melihat pengalamam Gideon, tidak diperlukan jumlah besar untuk menang melawan musuh, selama TUHAN menyertai. Tapi, ketidaktaatan Saul menyebabkan TUHAN meninggalkannya.

Betapa tragis keadaan Saul saat itu: ditinggalkan rakyatnya, ditinggalkan Samuel, dan yang paling menyedihkan: ditinggalkan TUHAN. Posisinya sebagai raja seolah tinggal status saja, sebab kepenuhan Roh Allah sudah tidak ada di dalam hidupnya, sehingga Saul tidak lagi disertai dengan kuasa dan kewibawaan dari Tempat Mahatinggi. Karena satu tindakan yang bodoh: tidak percaya kepada TUHAN, dan tidak mentaati perintah eksplisit dari TUHAN.

Penerapan:
(1) Apakah Tuhan masih melanjutkan penggenalan janji-Nya kepada saya tentang membangun Rumah Allah? Berdoa memohon peneguhan janji itu.
(2) Berdoa memohon hati yang percaya dan taat kepada Tuhan sekalipun situasi di sekitar saya berubah menjadi tidak kondusif atau tidak mendukung.
(3) Berdoa meminta hati yang tulus mencari Tuhan, bukan hanya melakukan formalitas ritual–sebab relasi dengan Tuhanlah yang saya perlukan.

Views: 10

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.