Bukan Kekuatan Manusia, Tetapi Kuasa TUHAN

1 Samuel 14:16-23

Tuhan bisa membuat tindakan iman pada skala kecil menjadi kemenangan yang besar bagi seluruh pasukan. Ketaatan yang yang kecil, berdampak sangat luas kepada orang-orang lain. Karena sesungguhnyalah bukan kuat dan kuasa manusia, melainkan kekuatan dan kekuasaan Tuhan yang memberikan keselamatan dan keberhasilan. “Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zak. 4:6)

Ayat 16. Para pengintai dari pasukan Saul yang di Gibea melihat ada kekacauan di antara orang Filistin yang disebabkan oleh kegentaran yang dari TUHAN (ayat 15) lalu melaporkan kepada Saul, dan respons Saul adalah memeriksa pasukan apakah ada yang pergi di antara mereka. Dan didapati bahwa Yonathan dan pembawa senjatanya yang absen dari pasukan.

Mengapa Saul memeriksa pasukannya? Kalau dari kata-kata yang diucapkan Saul, ia ingin tahu apakah “lihatlah siapa yang pergi dari pada kita” (ayat 17). Saul ingin tahu siapa yang pergi sendiri di luar perintah atau komandonya. Respons pertama Saul bukannya melihat bahwa ada peluang untuk menyerang, sebab terjadi kekacauan di antara musuh, tetapi justru mencari tahu siapa yang yang berinisiatif menyebabkan kekacauan itu.

Ayat 18-19. Kemudian Saul meminta agar Ahia (yang saat itu menjabat imam besar) untuk membawa baju efod–yang berarti ia hendak meminta petunjuk dari TUHAN melalui urim dan tumim; petunjuk apa yang akan diminta tidak jelas. Tapi belum lagi selesai proses pencarian kehendak TUHAN itu, keributan di kemah orang Filistin semakin bertambah, sehingga Saul tidak jadi meminta petunjuk TUHAN. Saul memutuskan untuk memakai kesempatan kekacauan itu untuk menyerang pasukan Filistin.

Tuhan tidak berbicara melalui satu cara saja. Ia bisa menggunakan segala macam cara untuk menyatakan kehendak-Nya. Yonatan tidak mencari kehendak Tuhan melalui ritual menggunakan urim dan tumim; ia melihat ada situasi tertentu dan tergerak hatinya oleh iman, gerakan hati itu diteguhkan oleh Tuhan dengan tanda yang diminta–maka Yonatan tahu kehendak Tuhan. Beberapa kali nanti Saul memakai metode urim dan tumim–satu-satunya cara atau ritual yang diketahui oleh Saul untuk mencari kehendak Tuhan.

Ayat 20-23. Kemudian Saul bersama seluruh pasukannya bergerak ke perkemahan Filistin, dan di sana mereka melihat huru-hara yang sangat besar di mana tentara Filistin begitu kacau sehingga saling bunuh sendiri dengan pedang. Kemudian, ada orang-orang Israel yang tinggal di wilayah Filistin dan menjadi pasukan Filistin, lalu berbalik untuk bergabung dengan pasukan Saul. Demikian juga orang-orang Israel yang semula bersembunyi sekarang ikut bergabung dengan pasukan Saul.

Kesimpulannya sangat jelas dan ditulis secara eksplisit: “Demikianlah TUHAN menyelamatkan orang Israel pada hari itu.” (ayat 23). Iman Yonatan dihargai oleh TUHAN, dan TUHAN memberikan pertolongan-Nya. Jelas sekali bahwa TUHAN yang berperang, dan bukan orang Israel: Bagaimana 2 orang dalam posisi yang sangat lemah bisa mengalahkan 20 orang? Bagaimana 2 orang bisa menimbulkan kekacauan yang membuat pasukan musuh gentar dan saling bunuh sendiri? TUHANlah yang bekerja pada hari itu menyelamatkan umat-Nya.

Penerapan:
(1) Memohon iman yang bertumbuh, yaitu iman yang membuat saya taat kepada firman Tuhan. Sebab iman yang sebesar biji sesawipun bisa dipakai Tuhan untuk mengerjakan perkara yang besar.
(2) Memohon hati yang peka kepada kehendak Tuhan, sehingga bisa mendengar suara Tuhan dan berkomunikasi dengan Tuhan melalui berbagai cara–tidak membatasi atau mengharuskan Tuhan untuk berbicara dengan satu cara tertentu, tetapi terbuka kepada semua cara Tuhan berbicara.

Views: 5

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.