1 Samuel 15:1-11
Satu-satunya yang bisa “mencegah” murka Tuhan adalah: anugerah-Nya yang mengampuni dosa, namun orang yang bersalah tidak akan diluputkan dair konsekuensi dosanya, sebab “TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” (Bil. 14:18).
Ayat 1-3. Mengikuti perintah TUHAN, Samuel menyampaikan firman TUHAN kepada Saul bahwa TUHAN berkehendak untuk membalaskan kejahatan orang Amalek kepada umat Israel–terjadi antara 300-400 tahun sebelumnya. TUHAN memerintahkan Sauyl melakukan pembinasaan total, tidak boleh ada belas kasihan. Semua orang harus dibunuh, semua hewan harus dibinasakan. Ini menggenapi pernyataan TUHAN kepada Musa bahwa: “Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit.” (Kel. 17:14).
Pembalasan Tuhan atas kejahatan seseorang atau suatu bangsa itu pasti akan dilakukan. Sekalipun sudah ratusan tahun berlalu, Tuhan tidak melupakan janji atau ancaman-Nya. Tuhan tidak lupa, Tuhan tidak impotent–kalau sekarang Tuhan belum bertindak menggenapi ancaman hukuman-Nya, maka itu karena waktu-Nya belum tiba.
Ayat 4-6. Saul pergi melakukan firman TUHAN. Ia mengumpulkan pasukan Israel, 200.000 pasukan berjalan kaki, dan tercatat secara khusus ada 10.000 orang Yehuda. Sebelum ia menyerang orang Amalek, Saul memberikan kesempatan bangsa Keni supaya menjauh dari antara orang Amalek agar tidak ikut diitumpas, sebab Saul mengingat bahwa, berlwawanan dengan orang Amalek, orang Keni (bangsanya Yitro) menunjukkan persahabatan kepada orang Israel ketika keluar dari Mesir.
Tuhan tidak melupakan kejahatan orang, tetapi Ia juga tidak melupakan kebaikan orang. Secara khusus, Tuhan mengingat perbuatan orang kepada umat-Nya, baik jahat maupun murah hati. Orang Amalek tidak pernah menduga mereka akan menanggung kesalahan nenek moyang mereka yang menyernag umat Tuhan; dan orang Keni juga tidak menduga bahwa mereka diluputkan dari kebinasaan karena perbuatan yang dilakukan leluhur mereka.
Sekalipun tidak ada firman TUHAN khusus mengenai orang Keni, dan Saul berinisiatif sendiri untuk memberi mereka kesempatan untuk lepas dari kehancuran, namun TUHAN tidak menegor Saul karena gagasan dan tindakannya itu–karena Saul melakukan hal yang sejalan dengan sifat TUHAN. Ketika tidak ada perintah khusus dari Tuhan, maka prinsip umum kebenaran dan moralitas Tuhan yang harus diikuti.
Ayat 7-9. Sesuai dengan firman TUHAN, Saul bisa mengalahkan orang Amalek–segenap rakyat Amalek ditumpas dengan pedang. Hewan-hewan yang tidak berharga dan buruk dibunuh semuanya, tetapi Saul dan rakyatnya menyelamatkan raja Agag (hanya satu orang yang tidak dibunuh) dan hewan-hewan yang terbaik dan tambun dan segala yang berharga.
Saul tidak melakukan firman TUHAN dengan tepat seperti yang dikehendaki TUHAN. Ini adalah dosa yang berulang: melakukan apa yang diinginkannya sendiri dan apa yang dianggap baik di dalam pemikirannya sendiri. Kontras dengan Samuel yang melakukan setiap firman TUHAN dengan tepat dan setia, Saul tidak 100% mentaati firman TUHAN.
Ayat 10-11. TUHAN melihat apa yang dilakukan Saul, yaitu tidak mentaati firman-Nya, lalu berfiman kepada Samuel: “Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku.” (ayat 11). Mendengar firman TUHAN itu, Samuel menjadi sakit hati (charah: menyala, berkobar kemarahan, kesedihan, kekecewaannya) dan ia berseru-seru (zaaq: berteriak, bersuara keras karena kemarahan atau kesedihan) kepada TUHAN semalam-malaman.
Tanpa setahu Saul, ketidaktaatannya sudah membuat dua pribadi berduka. TUHAN menyesal telah memilihnya sebagai raja; Samuel sakit hati dan berteriak-teriak kepada TUHAN semalam-malaman melampiaskan kemerahan, kekecewaan, dan kesedihannya karena Saul. Dosa yang dilakukan oleh orang yang dikasihi dan dipilih mendatangkan kedukaan/kemarahan sangat dalam.
Views: 6