1 Samuel 14:36-46
Peristiwa yang terjadi–dalam pimpinan Roh Kudus–dipilih untuk dicatat di dalam Kitab Suci sebagai pelajaran bagi umat Tuhan: “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” (Rom. 15:4). Catatan sejarah hidup seseorang mencerminkan siapa dia, bagaimana karakternya yang sejati; apalagi, Roh Kudus yang mengendalikan para penulis Kitab Suci tidak menutupi atau memanipulasi kebenaran, sebab Ia adalah Roh Kebenaran.
Ayat 36. Malam itu, setelah pasukan Israel makan hewan jarahan, Saul mengajak pasukannya untuk lanut mengejar orang Filistin sampai pagi–mungkin karena melihat ad amomentum yang baik, dan pasukannya sudah tidak letih lesu lagi. Seluruh pasukan siap mengikuti perintah Saul, tetapi imam berkata kepada Saul agar lebih dahulu menghadap TUHAN.
Kata “tetapi” menunjukkan kontradiksi, artinya komentar imam itu menentang kehendak Saul untuk langsung bertindak mengikuti rencananya tanpa lebih dahulu datang kepada TUHAN. Hal ini menunjukkan juga karakter cara hidup Saul: memutuskan sesuatu tanpa mempertimbangkan kehendak TUHAN. Pola ini sudah nampak: mempersembahkan korban sendiri, membuat sumpah sendiri, dan sekarang memutuskan maju perang sendiri.
Ayat 37-42. Saul bertanya kepada TUHAN, melalui urim dan tumim, apakah diperbolehkan mengejar orang Filistin dan apakah TUHAN akan menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Israel. Kalau betul menggunakan urim dan tumim, maka ketika kedua batu itu dilempar, tidak ada jawaban yang jelas. TUHAN tidak berkenan memberikan jawaban.
Saul menyimpulkan bahwa, diamnya TUHAN, dikarenakan ada dosa atau kesalahan yang dilakukan pada hari itu. Maka Saul sekarang menggunakan urim dan tumim untuk bertanya kepada TUHAN siapa yang melakukan kesalahan pada hari itu. Undian pertama jatuh kepada Saul dan Yonatan. Kemudian undian berikutnya jatuh kepada Yonatan. Mengapa Yonatan yang diikutkan dalam undian itu, padahal ada anak-anak Saul yang lain yang juga ikut berperang? Apakah karena Yonatan sudah dikenal sebagai komandan yang suka ambil inisiatid sendiri sehingga menjadi “saingan” Saul?
Ayat 43-46. Saul bertanya kepada Yonatan apa yang sudah dilakukannya. Dan Yonatan, yang sudah diberitahu oleh seseorang bahwa ia melanggar sumpah Saul dengan tanpa sengaja, mengatakan bahwa ia sudah memakan sedikit madu. Yonatan menambahkan bahwa ia bersedia untuk mati. Saul memutuskan bahwa Yonatan harus dihukum mati, tetapi rakyat membela Yonatan dan mereka menentang keputusan Saul menggunakan bahasa yang keras: “Demi TUHAN yang hidup, sehelai rambutpun dari kepalanya takkan jatuh ke bumi.” (ayat 45). Sebab dengan pertolongan Allah Yonatan dipakai sebagai alat memberi kemeangan kepada Israel pada hari itu.
Dilema yang dihadapi Saul: di satu sisi Yonatan merupakan alat Tuhan yang memberikan kemenangan kepada Israel pada hari itu, di sisi lain Tuhan menunjukkan bahwa Yonatan memang bersalah telah melanggar sumpah yang dibuat Saul pada hari itu. Tapi, ternyata rakyat menolak legitimasi dari sumpah Saul. Mereka melihat bahwa sumpah itu sudah membuat kesesakan di antara pasukan Israel, bahkan ada efek mereka berbuat dosa dengan memkan daging dengan darahnya, dan mereka mengakui Yonatan sebagai jalan pertologan Tuhan.
Ketika Saul menolak untuk tunduk kepada TUHAN, maka TUHAN menolak Saul sebagai raja. Indikatornya sudah mulai terlihat: kepemimpinan yang tidak total ditaati oleh rakyatnya, prestasi-prestasi yang justru diinisiasi oleh anaknya, dan pengambilan keputusan yang gegabah dan sembrono sehingga justru merugikan orang banyak. Padahal, ketika Roh Allah memenuhi dia, Saul bisa membuat strategi perang yang hebat, rakyat menjadi sangat gentar kepadanya, dan ia memang dalam peperangan.
Penerapan:
Tunduk kepada Tuhan di dalam mengerjakan pekerjaan, terutama fungsi leadership. Karena penyertaan dan berkat Tuhanlah yang membuat kepemimpinan saya akan berjalan dengan baik dan orang diberkati karenanya, menghindarkan dari blunder, dan membuat orang lain menaruh hormat dan respek. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Ams. 3:5,6).
Views: 6