Ibrani 12:15-17
Sejarah mencatat ada orang yang kehilangan anugerah Tuhan–bukan karena anugerah Tuhan itu tidak mulia, melainkan karena orang itu memandang rendah dan melecehkan anugerah Tuhan; memandang perkara rohani dan sorgawi itu tidak berharga, kalah penting dibandingkan perkara jasmani dan duniawi. Tidak menghargai bahkan menghina perkara-perkara rohani sebagai anugerah Tuhan di dalam Kristus. Dimulai dari pemujaan kepada keinginan daging dan perkara duniawi, diakhiri dengan penolakan dan penghinaan kepada anugerah Tuhan.
Ayat 15, 16b. Peringatan kepada umat Tuhan agar tidak ada seorangpun yang menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan. Apa yang dimaksud dengan menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan? Kalau melihat bahwa yang dijadikan contoh adalah Esau, maka arti ungkapan itu adalah: memandang rendah, tidak menghargai, tidak menganggap penting kasih karunia Tuhan: “Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.” (Kej. 25:34).
Dalam catatan sejarah leluhur Israel (Kej. 25:29-34), Esau memandang anugerah Tuhan–yaitu hak/perjanjian Tuhan dengan anak sulung; perjanjian Tuhan dengan Abraham–sebagai hal yang tidak penting dan tidak berharga. Esau memandang perjanjian Tuhan itu senilai sepiring masakan kacang merah, ketika ia lapar. Memenuhi kebutuhan/keinginan tubuhnya untuk makan enak membuat Esau menukarkan perjanjian Tuhan dengan Abraham itu dengan sepiring makanan karena dia sedang lapar!
SIkap ini berkebalikan dengan sikap Paulus, yang ditunjukkan di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil. 3:7-8). Paulus membuang semua yang duniawi untuk mendapatkan anugerah Tuhan, Esau membuang semua anugerah Tuhan untuk mendapatkan satu hal yang duniawi!
Lebih lanjut, Paulus mengatakan bahwa ia tidak hanya membuang perkara-perkara duniawi karena sama sekali tidak berharga dibandingkan anugerah Tuhan, tetapi ia memfokuskan hidupnya untuk “meraih” anugerah Tuhan itu: “aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Fil. 3:13-14). Isi pikiran Paulus dan agenda hidup Paulus hanya satu: memperoleh anugerah Allah dalam Kristus Yesus!
Ayat 15-16. Penulis menyebutkan beberapa dosa yang bisa membuat orang kehilangan kasih karunia Tuhan: kepahitan (kekecewaan, kemarahan, dan kebencian yag akut), percabulan atau kejahatan seksual, dan memuja hawa nafsu kedagingan/keduniawian. Ada dua kata yang mendahului penyebutan dosa-dosa itu: “jangan tumbuh” dan “janganlah menjadi”; ini menunjukkan proses; artinya dosa yang membuat orang meremehkan anugerah Tuhan itu tidak tiba-tiba, tetapi melalui proses yang makin lama makin parah karena dibiarkan dan dipelihara!
Ayat 17. Peringatan yang keras melalui contoh kasus Esau: ketika sudah kehilangan kasih karunia Tuhan, ia tidak mendapat kesempatan lagi. Ia ditolak oleh Tuhan, tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia sangat menyesal dan mencari pemulihan itu dengan mencucurkan air mata. Masalah Esau adalah: ia seorang “yang mempunyai hawa nafsu yang rendah” (bebelos: profane, void of religion or piety, lacks of all relationship or affinity to God, duniawi). Tidak punya orientasi ketuhanan, sorgawi yang bernilai kekal sama sekali, orientasinya hanya kepada keinginan sendiri dan kepada dunia ini saja.
Penerapan:
(1) Memohon penjagaan Tuhan dan pemeliharaan Tuhan supaya saya tidak terjerumus ke dalam kedunawian sehingga tidak menghargai atau mencemooh kekudusan dan anugerah Tuhan.
(2) Memohon pertolongan Tuhan agar tidak memandang keinginan daging saya lebih berharga daripada warisan sorgawi di dalam Kristus
Views: 42