Ibrani 12:12-14
Ada waktunya–dan itu sebuah keniscayaan– orang percaya menjadi lemah karena diterpa kesulitan, penderitaan, dan pencobaan. Tetapi situasi dan kondisi itu tidak boleh dibiarkan–sebab akan membuat orang semakin lemah dan akhirnya tidak mencapai tujuan. Dengan anugerah Tuhan, orang percaya untuk menguatkan diri mereka, dan kembali masuk dan berlari di arena pertandingan iman. Terlalu lama berhenti akan makin melemahkan, tapi kembali ke dalam kancah pertandingan justru akan menguatkan.
Ayat 12. Perintah untuk menguatkan tangan yang lemah (pariemi: hang down) dan kaki yang seperti lumpuh (paraluo: paralized, taken with palsy). Masih menggunakan gambaran seorang atlet lari, penulis mendorong jemaat untuk menguatkan hati mereka untuk terus menempuh jalur perlombaan–ini menguatkan dari dalam atau menguatkan diri sendiri.
Ayat 13. Perintah kedua adalah: agar meluruskan jalan (make straight the paths). Yang diluruskan adalah jalur atau lintasan yang harus ditempuh. Memberi makna: pelari yang memilih jalur yang terbaik atau yang tercepat untuk mencapai garis akhir. Namun ada pengertian lain yang juga terkandung di sana: agar mulai menempatkan dan melangkahkan kaki ke jalur yang sudah ditentukan. Tidak diam, tapi mulai berlari lagi.
Ada waktu untuk mengumpulkan kekuatan, ada waktu untuk berhenti–karena lemah dan lelah–tetapi, setelah kekuatan kmbali terkumpul dan pulih, jangan berhenti di situ, melainkan mulailah lagi untuk melangkahkan kaki dan berlari lagi di jalur perlombaanmu! Dengan demikian, kaki yang semula lemah kembali dikuatkan–jangan memanjakan kaki yang lemah, itu akan membuat semakin lemah, tapi paksa kaki itu untuk berlari, maka ia akan menjadi kuat.
Ayat 14. Perintah berikutnya adalah: agar mengusahakan perdamaian dengan semua orang dan mengejar kekudusan. Ini adalah tujuan dari perlombaan yang dijalani: perdamaian dengan semua orang dan kekudusan di hadapan Tuhan.
Orientasi kepada tujuan yang ingin dicapai ini yang akan menolong orang untuk mebali menguatkan dirinya dan kembali berlari–tidak mau berhenti di tengah jalan, tapi harus tekun sampai kegars akhir.
Penerapan:
Mengakui bahwa tidak tekun untuk terus berlari, sehingga sering kehilangan momentum, dan harus mulai lagi dari awal. Memohon pertolongan agar mau untuk terus berjalan dan tidak terlalu lama berhenti: “for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose.” (Fil. 2:13).
Views: 12