Tindakan Iman: Tekun Menjalani Displin Tuhan

Ibrani 12:4-11

Pada dasarnya manusia tidak menyukai dan akan selalu menolak penderitaan. Lagipula, apakah ada manusia normal yang mencari penderitaan? Sehingga respon kepada kesulitan dan penderitaan adalah: selalu negatif. Padahal, ada penderitaan yang harus diterima dan tidak bisa dihindari–bukan penderitaan sebagai akibat dari dosa, tetapi penderitaan yang dipakai Tuhan untuk mendidik anak-anak-Nya.

Ayat 4. Bagian ini berisi teguran sekaligus dorongan kepada jemaat. Penulis menegor jemaat yang imannya melemah di tengah kesulitan atau penderitaan mereka melawan dosa. Padahal–kalau dibandingkan dengan Tuhan Yesus–pendetiaan jemaat itubelum apa-apa, sebab jemaat belum sampai menumpahkan darah dalam penderitaan mereka.

Ayat 5-8. Penulis mengingatkan jemaat kepada ajaran Kitab Suci, yaitu dari Amsal 3:11-12, “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.”

Tuhan memberikan ganjaran (paideia: instruction of children, chastening: to correct by punishment or suffering) kepada anak-anak-Nya untuk menolong mereka hidup benar. Penderitaan untuk menuju kekudusan hidup menunjukkan bahwa Tuhan mengasihi mereka dan Tuhan mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya. Kalau bukan anak Tuhan, mereka akan dibiarkan binasa di dalam dosa. Tapi karena mereka anak Tuhan, maka Tuhan memberikan hajaran agar mereka bertobat dan hidup benar–sehingga terhindar dari kebinasaan.

Ayat 9-10. Penulis memakai ilustrasi relasi ayah dan anak–bahwa setiap ayah akan mendisiplin dan menghajar anaknya ketika mereka melakukan kesalahan supaya hidup anak-anak itu menjadi baik. Dan kadang-kadang para ayah itu melakukan hajaran dengan perspektif dan cara yang tidak selalu benar. Akan tetapi anak-anak tetap menghormati ayah mereka di dunia.

Apalagi terhadap Bapa di Sorga, yang: (1) jelas-jelas mengasihi umat-Nya, dibuktikan dengan mengorbankan Anak Tunggal-Nya untuk menyelamatkan manusia, sehingga sama sekali tidak ada niat jahat; (2) yang Mahakudus dan Mahabenar, sehingga apa yang dilakukannya pasti kudus dan benar dan untuk kebenaran; (3) yang menjadi Sumber Kehidupan, sehingga hajaran-Nya membawa umat kepada kehidupan sejati yang abadi–bukan sekedar untuk keuntungan sementara.

Ayat 11. Penulis memberi dorongan dengan mengingatkan jemaat bahwa: memang hajaran dan disiplin Tuhan itu berat dan menyakitkan dan mendatangkan dukacita. Akan tetapi, disiplin dari Tuhan itu akan menghasilkan buah kebenaran yang mendatangkan berkat dan damai kepada orang yang dilatih. Tidak hanya membuat jera untuk berbuat dosa, tetapi juga menumbuhkan watak yang kuat.

Kepada jemaat Roma, Paulus menuliskan: “kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Rom. 5:3-4). Sedangkan Rasul Yakobus menuliskan: “ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yak, 1:3-4).

Penerapan:
Bersyukur kepada Tuhan untuk disiplin dan hukuman yang diberikan-Nya kepada saya–karena disiplin dan hukuman itu menolong saya untuk jera berbuat dosa dan menumbuhkan kkudusan dan kebenaran hidup, serta menghindarkan saya dari malapetaka yang lebih besar.

Views: 17

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.