Tuhan Penentu Keberhasilan

1 Samuel 17:31-39

Semua metode problem solving selalu mengandung aktivitas analisis situasi: membandingkan kebutuhan atau persoalan dengan apa sumber daya (man, money, method, machine, minute), lalu dibandingkan, dengan logika: persoalan pasti akan bisa diselesaikan apabila memiliki sumber daya yang cukup atau melampaui persoalan. Itu perhitungan manusia. Dalam hidup orang percaya, perhitungannya berbeda–faktor penentu kemenangan adalah Tuhan! “It is not your business to succeed, but to do right: when you have done so, the rest lies with God.” (C.S. Lewis).

Ayat 31. Percakapan Daud dan sikapnya yang menunjukkan rasa tidak takut kepada Goliat–sikap yang berbeda dari semua sikap pasukan Israel–dilaporkan kepada Saul. Dan Saul menyuruh orang untuk memanggil Daud menghadapnya. Apakah Daud sengaja melakukan rekayasa dan “manuver politik” supaya namanya dikenal oleh orang dan dikenal oleh raja?

Ada sikap yang berbeda yang dimiliki oleh Daud, yang membuatnya menonjol dari semua orang yang lain. Bukan karena dibuat-buat atau dalam rangka melakukan personal branding, tetapi keyakinan diri, sikap positif menghadapi masalah yang berdasarkan oleh iman kepada TUHAN. Iman yang sejati dan penyerahan yang sejati kepada Tuhan akan memancar keluar dari diri seseornag, dan akan dilihat atau dirasakan orang lain–tidak perlu melakukan pencitraan, cukup hidup tulus dengan imanmu, maka wibawa Ilahi itu akan terpancar dengan sendirinya.

Ayat 32. Ketika menghadap Saul, Daud menyatakna kalimat yang berisi problem solving bagi Saul: “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Ada dua hal yang dinyatakan oleh Daud kepada Saul: (1) jangan kuatir, jangan menjadi gentar, jangan takut dengan masalah yang ada; (2) Daud akan maju melawan musuh yang ditakuti–ia tidak memberi jaminan kemenangan, tetapi ia menjanjikan untuk berjuang dan mengusahakan. Sebab kemenangan/keberhasilan itu ada di tangan Tuhan.

Ayat 33. Melihat keadaan Daud, Saul mencegah Daud untuk mati konyol, sebab Saul menilai bahwa Daud tidak akan bisa mengalahkan Goliat. Berdasarkan perhitungan normal dan akal sehat manusia, Daud tidak akan bisa mengalahkan Goliat; jadi percuma saja maju berperang, sebab akan sia-sia–itu namanya bunuh diri. Daud masih muda, fisiknya kecil, dan tidak punya pengalaman perang–sangat tidak sebanding dengan Goliat. Pendapat Saul ini sangat masuk akal, ini pandangan yang sangat obyektif dan realistis. Secara manusai!

Ayat 34-37. Jawaban Daud menunjukkan cara pandang yang lebih tinggi daripada cara pandang manusiawi, karena Daud menempatkan faktor realitas TUHAN di dalam perhitungannya! Prinsip ini terus diulang: jangan mengandalkan apa yang dilihat mata atau jasmani, tetapi andalkanlah apa yang tidak kasat mata, yaitu TUHAN.

Jawaban Daud tidak hiperbolis atau melebih-lebihkan (menggelembungkan) kemampuan dan pengalamannya, tetapi ia mengatakan realitas dirinya: seorang penggembala yang pernah mengejar, menangkap, menghajar, dan membunuh singa dan beruang yang menerkam ternaknya. Daud menarik analogi: nasib orang Filistin itu akan sama seperti nasib singa atau beruang–karena orang Filistin itu telah menghina pasukan Allah yang hidup.

Pernyataan iman Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu” (ayat 37). Bukan kemampuan atau pengalaman yang dimiliki–walaupun itu juga tidak disangkali, melainkan pertolongan Tuhan lah yang membuat Daud berani untuk maju melawan Goliat. Masalah boleh berbeda, krisis boleh lebih besar; tetapi Tuhan Daud tetaplah sama! Tuhan tidak berubah: kasih-Nya, kuasa-Nya, otoritas-Nya tetap untuk selama-lamanya, apapun situasi dan kondisi yang harus dihadapi.

Ayat 38-39. Saul masih berusaha untuk membantu–memberikan jaminan keamanan tambahan–Daud dengan mengenakan baju perangnya kepada Daud. Pemandanganny ajadi konyol: Daud malah tidak bisa bergerak mengenakan baju perang itu. Maka, Daud menanggalkannya. Metode, alat, sumberdaya yang dimiliiki orang lain tidak selalu cocok untuk seseorang–sebab sekali lagi, bukan masalah kemampuan, pengalaman, atau peralatan dan sumber daya, melainkan masalah penyertaan Tuhan!

Jadilah dirimu sendiri, gunakanlah apa yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu–kemampuan, talenta, sumber daya, pengalaman, dan metode–dan berjalanlah dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan. Ingatlah, Tuhan yang menjadi sumber kemenanganmu, bukan yang lain–termasuk dirimu sendiri.

Penerapan:
(1) Belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap situasi. Mendengarkan Tuhan dan mentaati Tuhan, percaya bahwa kuasa Tuhan lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah saya. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan.
(2) Belajar untuk tidak membual, tidak melebih-lebihkan atau menggelembungkan pengetahuan, kemampuan dan pengalaman saya untuk memberi kesan yang baik kepada orang lain. Tapi bersikap tulus apa adanya.

Views: 0

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.