1 Samuel 17:40-50
Catatan akhir di bagian Alkitab ini: “Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan” (ayat 50). Mengalahkan musuh/masalah yang sangat besar dengan cara dan resources–di mata manusia–yang tidak masuk akal kecilnya. Tapi kemenangan itu diperoleh bukan karena kuat dan gagah manusia, melainkan karena kuasa Tuhan yang bekerja!
Ayat 40. Menolak menggunakan resources dan metode yang ditawarkan Saul, memakai senjata yang biasa digunakannya sehari-hari–yang ia terbiasa dan memang kompeten memakainya, dengan berdasar iman kepada TUHAN, Daud maju mendekati orang Filistin itu. Daud pergi ke sungai, memilih lima batu yang licin untuk amunisi umbannya. Tongkat, umban, dan lima batu, ini senjata manusiawi Daud; tetapi TUHAN ada di belakangnya!
Mengapa Daud berani maju dengan persenjataan yang sangat minimalis dan sangat ringkih apabila dibandingkan dengan persenjataan Goliat? Daud tidak punya senjata seperti Goliat, Daud memakai apa yang dimiliki dan ada padanya–tidak mencari-cari. Keyakinan Daud bukan kepada senjata dan metode, tetapi kepada TUHAN.
Ayat 41-44. Goliat “menunjukkan pandangnya ke arah Daud dan melihat dia” (ayat 42)–dan berdasarkan apa yang dilihatnya, Goliat meremehkan dan menghina Daud: (1) ia melihat ada anak remaja, masih kemerah-merahan, parasnya elok–tidak tampil sebagai prajurit yang sangar gagah perkasa; (2) ia melihat senjata yang dibawa Daud: cuma tongkat–entah kenapa ia tidak melihat umban; padahal umban itu yang akan menjadi alat untuk membunuhnya. Melihat fisik dan senjata Daud, Goliat meremehkan dan percaya bahwa ia pasti bisa membunuh Daud.
Goliat mewakili cara pandang manusia biasa dan dunia terhadap masalah, yaitu memakai mata dan logika manusia. Dan ini kelemahannya: (1) metode manusia–sebagus apapun–tidak maha tahu, sehingga bisa melewatkan detil-detil kecil yang ternyata malah “mematikan”; (2) manusia tidak memperhitungkan faktor penyertaan dan perkenanan Tuhan. Tapi, ketika orang memakai kacamata sorgawi untuk mendekati masalah, maka Tuhan memberikan pengertian yang melampaui pengertian manusia, dan kalau sampai ada hal penting yang terlewat, Tuhan yang akan menjaga dan menolongnya–sebab pasti ada hal2 yang terlewat dan di luar kendali manusia!
Ayat 45-47. Deklarasi iman Daud kepada musuhnnya: (1) ia datang bukan dengan kekuatan fisik dan senjata, tetapi “mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (ayat 45); (2) keyakinan bahwa bukan Daud, tetapi TUHAN yang bekerja: TUHAN yang akan mengalahkan Goliat; (3) tujuannya supaya semua orang tahu bahwa Israel mempunyai TUHAN; dan (4) supaya umat Israel sendiri juga tahu bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan kuasa-Nya.
Di sini terlihat motif paling mendasar dari tindakan Daud: untuk menyatakan kemuliaan TUHAN di hadapan semua orang yang tidak percaya, “supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah” (ayat 46); maupun kepada umat Tuhan sendiri: “supaya segenap jemaah ini [yang begitu ketakutan] tahu, bahwa … di tangan Tuhanlah pertempuran” (ayat 47)–This is HIS battle, not the battle of swords or spears. Ini bukan urusan manusia, tetapi urusan Tuhan! Strategi yang paling ampuh adalah: menjadikan urusan ini sebagai urusan Tuhan!
Seperti apa yang dialami Yosua sebelum menyerang Yerikho, Yosua bertanya kepada Malaikat TUHAN, “Kawankah engkau atau lawan?”, jawaban Malaikat TUHAN adalah: “Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang.” (Yos. 5:14). Tuhan hadir mengatasi pihak-pihak yang berhadapan, Tuhan hadir mengatasi segala sesuatu di dalam sebuah persoalan. Ini bukan lagi urusanmu, Yosua. Ini urusan-Ku, Aku yang ambil alih komando peperangan ini! Terpujilah Tuhan, terpujilah Tuhan!
Ayat 48-50. Kalau semua orang yang hadir itu berharap akan melihat sebuah tontonan yang spektakuler, maka mereka pasti akan kecewa–pertarungannya terlalu singkat, tidak terlihat oleh mata, tahu-tahu sudah selesai dengan hasil yang sama-sekali tidak terduga! Hanya satu jurus saja! Daud berlari mendekat, sambil tangannya meletakkan sebutir batu di umban dan dilontarkannya. Satu batu mengenai pas di dahi Goliat sehingga terbenam di dalam dahinya sehingga dia mati! “The shepherd lad had slain the warrior, with the help of his God. And he had done it with the ordinary tools of his trade.” (Chafin, 2002).
Apa yang dilihat orang hari itu adalah apa yang ada di permukaan–pucuk gunung es yang di atas permukaan air. Apa yang tidak terlihat adalah: pemilihan/pengurapan Tuhan atas Daud, relasi dan pengalaman pribadi Daud bersama Tuhan selama ini, iman dan penyerahan dan semangat (passion) Daud kepada Tuhan yang ada di dalam hati Daud. Perkara-perkara rohani dan batiniah yang telah dikultivasi setiap hari–tanpa diketahui orang–diijinkan Tuhan untuk termanifestasi dalam keberhasilan menyelesaikan masalah.
Penerapan:
(1) Belajar mengandalkan Tuhan; memakai apa yang ada, yang sudah diberikan Tuhan secara maksimal–dengan keyakinan bahwa, Tuhan akan melengkapkan apa yang kurang; dan Tuhanlah yang memberi kemenangan, bukan usaha saya.
(2) Meminta hati yang memuliakan Tuhan–menonjolkan kemuliaan Tuhan ketimbang diri saya; supaya Tuhan dikenal dan dimuliakan oleh orang yang melihat.
Views: 2