Category Archives: Saat Teduh

Tuhan Tahu Sifat Asli Manusia

Yohanes 2:13-25 Hati Yesus dipenuhi dengan kecintaan kepada Bapa-Nya, dan kecintaan itu mendorong Yesus untuk berbuat sesuatu. Sementara hati manusia itu dipenuhi dengan kepentingan diri sendiri dan kejahatan. Tuhan mengetahui sifat dan isi hati yang seberanya dari seseorang. Tidak ada … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yohanes | 2 Comments

Mujizat-Nya Mengatasi Persoalan

Yohanes 2:1-11 Ya, Tuhan mendengar doa umat-Nya. Ya, Tuhan penuh dengan kasih karunia dan kemurahan. Tetapi, Tuhan tidak diatur oleh permintaan manusia. Tuhan bekerja secara otonom dengan otoritas penuh: apakah akan melakukan atau tidak, kapan dan bagaimana cara melakukan–semuanya adalah … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yohanes | Leave a comment

Respons Menentukan Proses Berikutnya

Yohanes 1:35-51 Ada orang yang mendengar pemberitaan atau kesaksian, namun mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka tidak melangkah untuk tahu lebih banyak atau untuk membuktikan kebenarannya–maka mereka pun tidak mengalami apa-apa. Seperti apa yang ada dalam perumpamaan penabur benih: hanya orang … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yohanes | Leave a comment

Iman Untuk Memberitakan Janji Tuhan

Yohanes 1:19-34 Yohanes digerakkan Roh Tuhan untuk mulai membaptis orang agar siap menerima kedatangan Mesias. Yohanes sendiri belum pernah bertemu dengan Mesias. Tetapi Yohanes taat kepada perintah Tuhan untuk memberitakan bahwa Mesias sudah akan datang! Iman seseorang diuji untuk percaya … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yohanes | Leave a comment

Kekayaan di Dalam Kristus

Yohanes 1:1-18 Kristus adalah Sumber kehidupan, Terang kehidupan, Sumber kasih karunia dan berkat, dan Jalan untuk mengenal Allah. Siapa yang percaya (menerima) Yesus Kristus, akan hidup, memiliki hidup baru di dalam Allah, menjadi anak-anak Allah, akan memiliki terang untuk menjalani … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yohanes | Leave a comment