Menjaga Hati Agar Tidak Berpaling dari Tuhan

Ibrani 3:7-19

Tuhan mengijinkan kondisi yang sulit sebagai ujian kemurnian iman. Seperti Tuhan mengijinkan panas-kering, tidak ada air, kekurangan daging, menu makan yang “hanya” manna setiap hari dialami bangsa Israel–untuk menguji iman mereka. Dan ternyata mereka tidak tahan uji sehingga tidak percaya kepada Tuhan dan memberontak. Akibatnya, Tuhan murka dan bersumpah tidak mengijinkan mereka masuk ke Tanah Perjanjian. Ini adalah peringatan yang sangat serius, bukan ancaman kosong–sebab sudah terbukti pernah terjadi.

Ayat 7-12. “Sebab itu“, penulis Ibrani mendorong umat Tuhan untuk waspada menjaga hati mereka agar jangan ada satupun yang memiliki hati yang jahat dan tidak percaya, yang membuat mereka berpaling dari Tuhan yang hidup. Sebab hal itu tidak mustahil terjadi, dan sejarah bangsa Israel telah menunjukkan betapa sebuah bangsa yang dipilih Tuhan telah berpaling dan meninggalkan Tuhan.

Dalam ayat 8-11, penulis mengutip Mazmur 95:7-11–dan menegaskannya sebagai firman Tuhan, sebab penulis menyatakan itu adalah pernyataan Roh Kudus. Mazmur itu berisi peringatan Tuhan kepada umat-Nya agar tidak mengeraskan hati seperti nenek moyang mereka–yang tetap tidak percaya kepada Tuhan, sekalipun sudah melihat pekerjaan Tuhan selama 40 tahun. Ketidakpercayaan itu membuat Tuhan murka sehingga Tuhan bersumpah bahwa mereka tidak masuk ke dalam tempat perhentian-Nya (Tanah Perjanjian)

Ayat 13. Setelah memberi nasihat agar waspada menjaga hati, penulis mendorong umat Tuhan untuk saling menasihati satu sama lain setiap hari, supaya jangan ada yang mejadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. Dosa itu menipu dan memperdaya orang, dosa itu membuat hati orang menjadi keras–dan ketika proses itu terus berjalan dan dibiarkan, maka cepat atau lambat seorang percayapun akan bisa berpaling dari Tuhan.

Kalau sampai ada orang yang sudah keras hatinya karena tipu daya dosa yang telah berlangsung dalam waktu lama–sampai ia sudah kehilangan sensitifitas, sampai ia sudah tidak merasa bersalah lagi, bahkan sampai ia meyakini bahwa hidup dosanya itu adalah hidup yang benar–kemudian bisa sadar dan bertobat, itu semata-mata belas kasihan dan anugerah Tuhan. Karena alternatifnya adalah: Tuhan terlanjur murka dan membiarkan orang itu binasa di dalam kekerasan hatinya.

Ayat 14. Bukti bahwa seseorang akan mendapatkan bagian bersama-sama dengan Kristus adalah apabila ia memegang keyakinan iman yang benar sejak pertama percaya sampai akhir hidupnya. Seorang percaya harus menyadari bahwa ia bisa tersesat, ia bisa bimbang, ia bisa keras hati, ia bisa jatuh, ia bisa meninggalkan Tuhan–sejarah sudah membuktikan hal itu. Akhir hidup seseorang yang akan menjadi bukti apakah ia sungguh-sungguh percaya atau tidak.

Ayat 15-19. Penulis kembali mengulang peringatan dari Mazmur 95, tetapi dengan penekanan kepada: bangsa Israel yang memberontak dan akhirnya dibinasakan oleh murka Tuhan itu adalah bangsa yang dilepaskan Tuhan dari Mesir–hanya dua dari sekian ratus ribu orang dewasa yang keluar dari Mesir yang akhirnya bisa masuk ke dalam Tanah Perjanjian: Yosua dan Kaleb. Yang lainnya binasa di padang gurun karena tidak percaya dan memberontak kepada Tuhan dan yang menjadi collateral victims (seperti Maryam, Harun, dan Musa).

Masalah bangsa Israel adalah: sekalipun mereka sudah keluar dari Mesir, namun Mesir tidak sepenuhnya keluar dari mereka. Di dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, berkali-kali–ketika ada tantangan atau kesulitan–mereka mengingat Mesir, betapa senangnya hidup mereka ketika ada di Mesir–lupa bahwa hidup mereka begitu pahit sebagai budak yang ditindas!

Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” (Bil. 11:5-6). Dan sungut-sungut itu didasari oleh greedy desires atau “mereka kemasukan nafsu rakus“. Masih menginginkan apa yang ada di Mesir, dan melecehkan pemberian Tuhan yang sudah membebaskan mereka. Menilai kenikmatan Mesir lebih berharga/penting daripada kebebasan dari perbudakan dan status sebagai umat pilihan Tuhan.

Penerapan:
Dalam nama Tuhan Yesus dan dengan pertolongan Roh Kudus terus tekun menolak dorongan/godaan dosa dan hawa nafsu yang membuat lupa kepada anugerah Tuhan.

Views: 2

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.