Ibrani 4:1-8
Tuhan sudah menjanjikan bahwa umat-Nya akan masuk ke dalam tempat perhentian. Tempat perhentian itu jelas ada dan tersedia sejak semula, dan perjanjian untuk masuk ke sana masih berlaku; akan tetapi tidak semua orang yang menerima janji-Nya akhirnya bisa masuk ke tempat perhentian itu. Karena itu, umat Tuhan didorong untuk waspada–“to fear” kalau-kalau ternyata tidak bisa masuk ke sana. Ada sikap yang harus dimiliki orang yang menerima janji itu untuk memastikan ia mengalami penggenapannya.
Ayat 1-2. Umat Tuhan harus waspada, tidak memandang sepele, mentang-mentang sudah menerima janji Tuhan bahwa mereka akan masuk ke tempat perhentian-Nya. Sebab sejarah sudah menunjukkan bahwa sekalipun menerima janji Allah, sebagian besar orang Israel tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian–karena jenji itu tidak tumbuh bersama-sama oleh iman mereka–sugkerannumi (to mix together, to join together).
Orang Israel menerima janji bahwa mereka akan dibawa Tuhan masuk ke Tanah Kanaan. Janji Tuhan tidak berubah–bangsa itu tetap masuk ke Tanah Kanaan; tetapi tidak semua orang yang menerima janji itu bisa masuk, sebab mereka tidak percaya kepada Tuhan bahkan memberontak–mau kembali lagi ke Mesir, padahal Tuhan sudah membebaskan mereka dari sana. Janji Tuhan tidak bisa disepelekan dengan sikap tidak beriman. Harus disertai iman dan ketaatan sebagai respons umat yang menerima janji itu.
Ayat 3-6. Penulis Ibrani kembali mengutip pernyataan murka Tuhan kepada bangsa Israel: “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku“–padahal tempat perhentian itu sudah tersedia, dan janji untuk masuk ke sana sudah diberikan. Ada sejumlah orang yang menerima janji atau kabar kesukaan Tuhan itu tidak masuk ke tempat perhentian Tuhan karena ketidaktaatan mereka.
Ayat 7-9. Tuhan menetapkan masih ada kesempatan bagi orang untuk masuk ke tempat perhentian-Nya dalam firman: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!“. Hari ini, setiap hari, adalah kesempatan orang untuk percaya kepada Tuhan, untuk taat kepada-Nya. Tekun memelihara iman dan taat kepada Tuhan setiap hari–karena setiap hari juga orang bisa jatuh dan menyeleweng dari Tuhan.
Selama masih hidup, selama masih ada “hari ini”, berarti itu kesempatan untuk beriman dan taat kepada Tuhan. Respons iman dan ketaatan kepada Tuhan itu bukan sekali untuk seterusnya, sebab di perjalanan hidup–kalau tidak waspada–orang bisa jatuh kedalam ketidakpercayaan, kesesatan, ketidaktaatan, dan pemberontakan sehingga meninggalkan Tuhan. Ini adalah fakta pahit dan menyedihkan yang harus diterima: ada orang yang memulai perjalanan dengan Tuhandengan begitu baiknya, kemudian di tengah perjalanannya meninggalkan Tuhan.
Berbahagialah orang yang ditolong oleh Tuhan, yang diberi belas kasihan oleh Tuhan, sehingga ia–di dalam segala jatuh bangun iman dan ketatannya–masih terus dipelihara untuk hidup di dalam janji Tuhan! Sungguh benar maknanya apa yang dikatakan Pemazmur: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” (Maz. 32:1-2).
Penerapan:
Bersyukur untuk belas kasihan Tuhan, sehingga saya dipelihara di dalam iman sampai hari ini. Berdoa memohon pertolongn dan pemeliharaan Tuhan supaya saya terus beriman dan taat kepada-Nya sampai akhir hidup saya.
Views: 3