Ibrani 4:9-13
Sejak awal suratnya, penulis Ibrani mengingatkan agar umat Tuhan hati-hati atau waspada menjaga imannya agar tidak hanyut dalam kesesatan yang membuat mereka berpaling dari Tuhan sehingga mereka tidak bisa masuk ke dalam tempat perhentian Tuhan. Cara menjaga iman adalah: menggunakan Firman Tuhan untuk mengevaluasi dan mengkritisi hati dan pikiran umat Tuhan apakah masih murni atau sudah mulai terhanyut.
Ayat 9-10. Masih ada suatu hari perhentian bagi umat Tuhan. Perhentian pertama, adalah ketika Tuhan selesai menciptakan langit dan bumi dan isinya–Tuhan memberkati dan menguduskan hari yang ketujuh. Dalam hukum-Nya Tuhan memerintahkan agar umat-Nya menguduskan hari itu dengan berhenti bekerja. Umat Tuhan masuk hari perhentian setelah selesaibekerja, seperti Tuhan juga menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Ayat 11. Penulis mendorong umat Tuhan untuk berusaha masuk ke dalma perhentian itu, artinya umat Tuhan harus tekun menyelesaikan pekerjaannya–dalam hal ini adalah: tekun berpegang kepada iman yang benar kepada Kristus, dan tidak berpaling dari Tuhan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang tidak taat–seperti nenek moyang orang Israel yang tidak taat dan memberontak. Mereka memulai iman, tetapi tidak menyelesaikannya, sehingga tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian, atau Tempat Perhentian.
Ayat 12. Penulis kemudian menyatakan peran Firman Tuhan untuk menguji kemurnian hati/iman orang percaya. Hanya Firman Tuhan yang dapat memisahkan jiwa dan roh, membedakan pertimbangan dan pikiran manusia. Kata yang dipakai adalah “kritikos“, dari akar kata “krites” artinya hakim. Kritikos berarti: bisa menguji, memutuskan, mengkritisi.
Ayat 13. Hati manusia tidak bisa disembunyikan, manusia tidka bisa berpura-pura di hadapan Tuhan–kepada Tuhan setiap orang harus mempertanggungjawabkan hidupnya. Orang bisa merasa memelihara iman, merasa bahwa ia benar, merasa bahwa ia tidak berpaling dari Tuhan. Tetapi, hati dan perasaan manusia bisa menipu dirinya sendiri dan orang lain, namun tidak bisa menipu Tuhan.
Alat yang bisa menolong manusia untuk menguji hatinya apakah benar memelihara iman, apakah benar ia tidak berpaling dari Tuhan hanyalah: Firman Tuhan. Terus-menerus menyerahkan diri untuk dikritisi dengan skebenaran Firman Tuhan merupakan cara menjaga dari kesesatan supaya tidak jatuh–tanpa terasa–dalam pemberontakan seperti orang Israel.
Lalu bagaimana dengan orang yang menggumuli Firman Tuhan tetapi tetap sesat juga? Bahkan memiliki pengajaran-pengajaran yang menyesatkan–yang berasal dari perenungannya akan Firman Tuhan? tetap menggumuli Firman Tuhan tapi hatinya keras di dalam dosa? Dan kemudian justru menemukan legitimasi atas dosanya dari pemahamannya akan Firman Tuhan?
Bukan semata-mata aktivitas membaca atau memikirkan Firman Tuhan yang menentukan, melainkan sikap hati yang percaya dan tunduk kepada apa yang dinyatakan Firman Tuhan. Kejujuran dan kerendahan hati untuk “dihakimi” oleh Firman Tuhan; kesediaan untuk diuji dan kesediaan untuk bertobat ketika didapati menyimpang dari Firman Tuhan.
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Maz. 139:23-24), bukan doa basa-basi, karena ketika Firman Tuhan menegornya, Daud tidak berkelit atau berdalih atau menyalahkan orang lain/keadaan–seperti Saul; melainkan langsung merendahkan diri: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” (2 Sam. 12:13; Maz. 51).
Penerapan:
Memohon hati yang terbuka dan mau diuji atau dihakimi oleh Firman Tuhan: hati yang mau merendahkan diri, mau mengakui kesalahan/dosa, yang mau dikoreksi, yang tidak berontak membela diri atau membenarkan diri.
Views: 0