Category Archives: Perjanjian Baru

Simon dan Simony

Kisah Para Rasul 8:9-25 Simon, yang dengan ilmu sihirnya telah menakjubkan bangsa Samaria, mengklaim dirinya sebagai seorang yang yang besar/sakti/hebat. Semua orang di Samaria mendengarkan dan memberi perhatian kepadanya. Tetapi, ketika orang Samaria menerima Injil dari Filipus, mereka dibabtis. Konsekuensinya: … Continue reading

Posted in Kisah Para Rasul, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Tekun Melayani Walau Dalam Kesulitan

Kisah Para Rasul 8:1-8 Penganiayaan besar atas umat Tuhan–yang dimulai dengan kematian Stefanus, menyebabkan murid-murid harus mengungsi ke luar Yerusalem sambil memberitakan Injil, kecuali para Rasul yang tetap bertahan di Yerusalem. Saulus melakukan penganiayaan itu dengan gencar, berusaha membinasakan jemaat. … Continue reading

Posted in Kisah Para Rasul, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Hidup/Mati bagi Tuhan

Kisah Para Rasul 6:8-7:60 Tuhan adalah sumber kesanggupan orang percaya untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tuhan melengkapi orang percaya untuk hidup dan melayani Dia, melengkapi dengan hikmat, kemampuan, dan kuasa. Tuhan juga yang melengkapi orang percaya untuk mati bagi Dia, melengkapi dengan … Continue reading

Posted in Kisah Para Rasul, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Diakonia

Kisah Para Rasul 6:1-7 Para rasul memerlukan bantuan untuk mengerjakan pelayanan diakonia, supaya mereka bisa memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman: “But we will devote ourselves to prayer and to the ministry of the word” (6:4 NASB). Syarat para … Continue reading

Posted in Kisah Para Rasul, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 6 Comments

Perintah Tuhan vs Manusia

Kisah Para Rasul 5:17-42 Para Rasul menolak untuk mentaati perintah Mahkamah Agama Yahudi agar mereka berhenti memberitakan tentang Yesus Kristus. Petrus menjawab bahwa mereka memilih untuk taat kepada Tuhan daripada kepada manusia. Petrus meyakini bahwa para rasul sedang mentaati perintah … Continue reading

Posted in Kisah Para Rasul, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment