Supaya Tidak Hanyut Terbawa Arus

Ibrani 2:1

Tema atau tujuan penulisan surat Ibrani: memerintahkan orang percaya untuk lebih teliti dalam memperhatikan apa yang telah didengar, supaya jangan hanyut di bawa arus. Ada arus pengajaran yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan di dalam Injil, yang berpotensi untuk menyesatkan orang percaya. Bahayanya adalah: orang percaya perlahan-lahan, tanpa terasa, mulai meninggalkan Injil.

Kata yang digunakan adalah: pararreo–to float by of drift past as a ship or to flow past as a river. Memberi makna: hanyut secara gradual, sedikit demi sedikit, gerakan yang hampir tak terlihat tetapi makin lama makin meninggalkan sebuat titik tertentu. Bahaya kesesatan di sini bukan yang drastis menolak dan murtad dari kebenaran, tetapi sedikit-sedikit mulai berpaling atau meninggalkan kebenaran.

Karena prosesnya perlahan, orang bisa tidak menyadari bahwa dia sedang hanyut–tidak merasa bahwa ia sedikit demi sedikit mulai menjauhi prinsip kebenaran Tuhan. Dan sekian lama kemudian baru ketahuan bahwa ia sudah sangat jauh bahkan bertentangan atau menolak kebenaran Tuhan.

Penulis Ibrani menyatakan bahwa yang harus dilakukan adalah: orang percaya harus lebih memperhatikan kebenaran/pengajaran yang telah diterima. Lebih teliti: pay much closer attention (NASB), pay more careful attention (NIV), we ought to pay much closer attention than ever (Amp). Ini berbicara tidak hanya masalah frekuensi memperhatikan pengajaran, tetapi kepada intensitas dan kesungguhan dan kedalaman memahami pengajaran.

Bagaimana cara memberi perhatian yang lebih kepada kebenaran Tuhan? Tidak meninggalkan waktu untuk mempelajari dan merenungkan firman Tuhan. Belajar dari orang lain: khotbah atau tulisan orang lain yang membahas dan mendalami kebenaran firman Tuhan–terutama tentang pengajaran atau doktrin yang Alkitabiah. Dalam kasus surat Ibrani: doktrin tentang Tuhan Yesus dan karya keselamatan-Nya.

Setiap orang percaya mengalami pergumulan–ini benar atau tidak, bagaimana dengan tindakan ini–konflik batin karena keraguan atau ketidakjelasan tentang kebenaran Tuhan dan kehendak Tuhan. Kalau pergumulan ini tidak dibawa dan ditundukkan di bawah otoritas firman Tuhan, maka akan berpotensi menghanyutkan orang percaya kepada cara berpikir.pandangan yang berbeda atau bertentangan dengan kebenaran Tuhan; yang kemudian menghasilkan kehidupan yang tidak sesuai kebenaran Tuhan.

Disiplin untuk merenungkan firman Tuhan, untuk mengevaluasi dan membawa semua aspek kehidupan di bawah terang firman Tuhan, akan menolong orang percaya untuk tidak hanyut kepada cara berpikir yang salah (cara berpikir dari kedagingannya sendiri atau karena pengaruh dari luar). Refleksi: apakah pikiran/pendapat, sikap, atau tindakan saya hari ini sudah sesuai dengan kebenaran Tuhan? Pedomannya: firman Tuhan (2 Tim. 3:16-17).

Penerapan:
Lebih sungguh-sungguh melakukan disiplin membaca dan merenungkan firman Tuhan, serta melakukan refleksi/evaluasi hidup setiap hari.

Views: 1

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.