Wahyu 6:12-17
Pertobatan seseorang adalah pekerjaan dan anugerah Tuhan karena kasih-Nya. Sebab ketika seorang keras hatinya di dalam dosa, apapun yang dikenakan kepadanya, termasuk malapetaka yang paling berat pun, tidak akan melembutkan hatinya. Warren Wiersbe menuliskan: “They are proof that judgment by itself does not change the human heart.” Pembukaan meterai keenam menunjukkan: belas kasihan Tuhan yang masih memberi kesempatan pertobatan dan kekerasan hati manusia berdosa yang menolak kesempatan itu.
Ayat 12-14. Anak Domba Allah membuka meterai keenam. Dan terjadilah fenomena alam yang dahsyat: gempa bumi yang dahsyat, matahari menjadi hitam, bul menjadi merah seluruhnya bagai darah, bintang-bintang (meteor?) berjatuhan ke bumi–seperti berjatuhannya buah ara ketika pohon digoncang angin kencang, langit menhusut seperti digulung, gunung dan pulau bergeser dari tempatnya.
Betapa dahsyat fenomena alam yang akan terjadi–bumi belum dimusnahkan, tetapi terjadi kekacauan alam yang luar biasa. Tidak hanya di muka bumi, tetapi juga di langit–apakah akan ada hujan meteor yang dahsyat yang dampaknya menggoncang bumi? Apapun itu, malapetaka di bumi akan terjadi beruntun: peperangan, kelaparan, kematian karena wabah, orang-orang percaya menjadi martir, dan kekacauan alam.
Ayat 15. Respons dari manusia ketika mengalami dahsyatnya murka Tuhan: mereka berusaha bersembunyi di gua-gua dan celah-celah batu di gunung; serta berkata kepada gunung dan batu karang agar runtuh menimpa mereka agar terhindar dari murka Tuhan, agar tidak perlu berhadapan dengan Anak Domba Allah.
Bahkan setelah mengalami goncangan dan kesulitan dan malapetaka dari murka Tuhan, mereka tetap juga tidak mau bertobat–mereka memilih mati daripada datang kepada Tuhan untuk merendahkan diri dan bertobat. Padahal, kalau dilihat bahwa masih akan ada orang-orang yang bertobat setelah gereja diangkat, semua bencana itu merupakan peringatan keras Tuhan agar manusia bertobat–masih dibuka kesempatan untuk bertobat. Tapi, manusia tetap keras hati; memilih mati saja ketimbang bertobat.
Ayat 17. Pertanyaan retoris Yohanes: “Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” Jawabannya: tidak ada yang bisa bertahan ketika murka untuk mereka dicurahkan–tetapi, sekalipun begitu, sekalipun tidak bisa bertahan, sekalipun tidak bisa menghindar, mereka tetap melawan Tuhan dengan kekerasan hati mereka untuk tidak mau bertobat.
Penerapan:
Bersyukur kepada Tuhan, karena di dalam anugerah-Nya Tuhan menolong dan menggarap hati saya untuk tidak keras di dalam dosa, sehingga saya bisa merendahkan diri dan bertobat dari dosa saya, dan demikian Tuhan memberikan pengampunan dan keselamatan kepada saya.
Views: 2