Hidup Dalam Situasi Yang Tidak Ideal

1 Samuel 1:1-8

Latar belakang keluarga yang tidak ideal serta kondisi lingkungan atau masyarakat yang jahat di hadapan Tuhan, bukanlah faktor penentu seorang bisa tumbuh menjadi hamba Tuhan yang besar. Karena Tuhanlah yang berdaulat untuk membangkitkan seorang pemimpin untuk melayani-Nya. Kehendak, kedaulatan, dan kuasa Tuhan melampaui segala situasi alamiah dan manusiawi. Latar belakang keluarga diwarnai persaingan dan kesedihan, situasi spritualitas di masanya sangat buruk, karena imam-imamnya korup dan jahat. Tetapi, Tuhan menyiapkan seorang untuk melakukan reformasi iaman di Israel.

Ayat 1. Latar belakang keluarga Samuel: ayahnya bernama Elkana, yang tinggal di Ramataim-Zofim di daerah pergunungan Efraim. Sekalipun tempat tinggalnya di Efraim, Elkana adalah keturunan Lewi, sehingga berhak untuk melayani pekerjaan/ibadah kepada Allah Israel (lihat silsilah para penyayi yang melayani di Bait Allah zaman Salomo dalam 1 Taw. 6:33-38).

Ayat 2. Elkana memiliki dua orang istri: Hana, disebut yang pertama, sehingga kemungkinan besar dia adalah istri pertama; dan Penina. Agaknya, Penina diambil istri karena Hana tidak memiliki anak. Elkana sebenarnya mengasihi Hania (ayat 5), tetapi ia kemudian mengambil Penina sebagai istri kedua untuk memperoleh keturunan–dan memang dari Penina ia memiliki anak.

Tidak ada larangan untuk memiliki lebih dari satu istri. Situasi ideal yang dirancang Tuhan adalah: monogami. Akan tetapi, secara eksplisit, tidak ada larangan melakukan praktik poligami–bahkan, kalau membaca teguran TUHAN kepada Daud, diperoleh kesan bahwa TUHAN akan memberi lebih banyak istri kepada Daud, kalau memang Daud merasa kurang–yang penting, Daud tidak menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya (2 Sam 12:7-9).

Akan tetapi, TUHAN merancang pernikahan monogami, dan sekalipun bukan dosa, praktek poligami itu tidak ideal sesuai rancangan awal TUHAN. Dan kalau tidak sesuai rancangan awal TUHAN, maka pasti akan problematik–pasti akan berisi konflik dan masalah dan kesesakan dan penderitaan–yang sebenarnya tidak perlu dialami.

Ayat 3. Elkana digambarkan sebagai orang yang taat beribadah. Setiap tahun, ia pergi meninggalkan kotanya di Efraim ke Silo (yang berjarak sekitar 24 km) untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada TUHAN. Karena Kemah Suci saat itu ada di Silo, didirikan setelah bangsa Israel menaklukkan bangsa-bangsa Kanaan di bawah pimpinan Yosua (Yos. 18:1). Perjalanan untuk beribadah itu memakan waktu kira-kira 4-6 jam berjalan kaki.

Pada waktu itu, yang menjadi imam TUHAN adalah Hofni dan Pinehas, yaitu anak-anak Eli. Keduanya adalah imam yang jahat, yang mencemarkan Kemah Suci dan ibadah kepada TUHAN, serta yang tetap nekad dalma kejahatan mereka walau sudah ditegur oleh TUHAN. Dan akhirnya, mereka mati karena hukuman dari TUHAN (1 Sam 2:12-17).

Situasi keagamaan dan spiritualitas bangsa Israel sedang ada di bawah. Karena imam-imamnya, yaitu anak-anak Eli, adalah imam yang korup dan jahat, yang menghina ibadah kepada TUHAN. Meskipun demikian Elkana tetap tekun untuk beribadah dan menyembah TUHAN. Sekalipun situasi lingkungan atau institusi agama itu memiliki peran, tetapi pada akhirnya, ketulusan dan kesungguhan masing-masing pribadi yang menentukan kualitas ibadahnya di hadapan Tuhan.

Ayat 4-5. Sesuai dengan ritual ibadah Israel, setiap kali mempersembahkan korban, Elkana memberikan sebagian untuk setiap anggota keluarganya. Penina dan anak-anaknya (lebih dari satu, sebab disebut “semua anaknya yang laki-laki dan perempuan“) mendapat beberapa bagian, tetapi Hana hanya satu bagian saja, sebab ia tidak memiliki anak karena TUHAN telah menutup kandungannya.

Ayat 6-7. Penina, merasa lebih baik dari Hana karena bisa melahirkan anak, selalu menyakiti hati Hana. Selalu memprofokasi Hana, sengaja membuat hati Hana gusar. Dan caranya menyakiti adalah dengan menyebut atau menyinggung fakta bahwa Hana mandul, tidak bisa memiliki anak. Yang dalam konteks waktu itu, merupakan aib dan tanda bahwa TUHAN tidak memberkati seorang perempuan. Itu membuat Hana sakit hati, menangis, dan tidak mau makan.

Penina lupa bahwa bukan dia, melainkan Tuhan yang membuat dirinya bisa melahirkan anak. Di bagian ini diulang dua kali frasa: “TUHAN telah menutup kandungannya”. Artinya, memiliki anak itu adalah anugerah pemberian Tuhan, bukan karena usaha atau kelebihan seseorang. Bagaimana orang bisa sombong dan menghina orang lain sementara ia sendiri bisa hidup semata-mata karena anugerah Tuhan?

Penerapan:
(1) Mentaati Tuhan itu akan menghindarkan saya dari persoalan dan penderitaan yang tidak perlu. Karena sekalipun bukan dosa, ketika saya melakukan sesuatu yang tidak sesuai rancangan Tuhan, itu akan menimbulkan masalah.
(2) Terus mengingat bahwa saya hidup karena anugerah dan belas kasihan Tuhan, bahwa semua yang baik yang saat ini ada dalam hidup saya adalah pemberian Tuhan (1 Kor 4:7), sehingga tidak sombong atau merendahkan orang lain.

Views: 8

This entry was posted in 1 Samuel, Perjanjian Lama, Saat Teduh. Bookmark the permalink.