Ibrani 2:10-18
Karya keselamatan Tuhan Yesus tidak hanya untuk membebaskan manusia dari hukuman dosa–yang telah disediakan pada akhir hidup, di dalam kekekalan. Tetapi juga untuk menolong manusia untuk lepas dari perbudakan dosa dan menang atas pencobaan selama manusia itu hidup di dunia ini. Pertolongan-Nya tidak hanya untuk kelak, tetapi juga untuk day to day life seumur hidupmu!
Ayat 10. Masuk akal kalau Allah yang memulai segala sesuatu dan memelihara segala sesuatu sampai waktunya tiba, menyempurnakan karya yang telah dimulai dan dipelihara-Nya itu dengan membuat Yesus–Sang Pemimpin Keselamatan–dapat membawa banyak orang kepada kemuliaan (keselamatan) dengan penderitaan-Nya.
Kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah penggenapan atau penyempurnaan karya keselamatan Allah yang sudah dimulainya sejak awal mula–ketika Allah menyatakan kepada manusia pertama bahwa Keturunan Perempuan itu akan meremukkan kepala Si Ular, kemudian zaman Nuh, dan pemilihan Abraham dan keturunannya, Taurat Musa, kerajaan Israel dan para nabi–ribuan tahun Allah terus “menjaga” rencana keselamatan itu, dan disempurnakan dengan kematian Anak-Nya sebagai Korban Penebus Dosa.
Ayat 11-13. Baik Anak Allah, yaitu Tuhan Yesus, dan anak-anak Allah–yaitu orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, berasal dari Sumber yang sama–yaitu Allah yang memulai dan menjalankan rencana keselamatan-Nya. Maka, Tuhan Yesus tidak malu menyebut orang percaya sebagai saudara-Nya: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Rom. 8:29).
Ayat 14-15. Oleh karena yang harus diselamatkan itu adalah manusia yang adalah darah dan daging–yang ada di bawah perbudakan dan ancaman hukuman dosa, maka Anak Allah harus menjadi manusia supaya Ia bisa mati, dan bangkit kembali, untuk memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut. Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus membebaskan manusia dari perbudakan dosa dan maut.
Ayat 16. Kembali dibicarakan tentang posisi malaikat: Allah dan Tuhan Yesus tidak mengasihani para malaikat, tetapi manusialah yang dikasihani. Bukan para malaikat, tetapi manusialah yang menjadi fokus dan sasaran kasih Allah.
Ayat 17-18. Anak Allah harus menjadi manusia, dan dalam segala hal disamakan dengan manusia–mengalami semua pengalaman manusia dari lahir sampai mati; bedanya, Anak Allah bangkit dari kematian. Tujuannya, supaya (1) Anak Allah bisa menjadi Imam Besar (perantara manusia kepada Allah) yang berempati dan menaruh belas kasihan; dan (2) bisa menolong manusia yang menderita karena pencobaan.
Penerapan:
Bersyukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan saya dari murka Tuhan karena dosa saya, tetapi juga karena Tuhan menopang dan memelihara hidup saya setiap hari sampai waktunya saya dipanggil pulang.
Views: 1