Live in, led by, and keep in step with the Spirit

Paulus menyatakan bahwa kemerdekaan di dalam Kristus diberikan tidak untuk disalahgunakan untuk memanjakan keinginan daging (sinful nature), namun untuk mengaplikasikan kasih.

“So I say, live by the Spirit, and you will not gratify the desires of the sinful nature … But if you are led by the Spirit, you are not under law …  But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness and self- control. Against such things there is no law. Those who belong to Christ Jesus have crucified the sinful nature with its passions and desires. Since we live by the Spirit, let us keep in step with the Spirit.” (Galatia 5: 16, 18, 22-25).

Continue reading

Views: 53

Posted in Galatia, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Bukan lagi budak

So you are no longer a slave, but a son; and since you are a son, God has made you also an heir. ” (Galatians 4:7).

Seorang anak yang belum dewasa harus tunduk di bawah berbagai macam aturan. Namun, ketika ia menjadi dewasa, “tidak ada lagi aturan yang harus ditaatinya”, karena sekarang–di dalam kedewasaannya, di mana ia tahu apa tujuan hidup dan ia tahu tata nilai yang benar–ia mengatur dirinya sendiri. Continue reading

Views: 42

Posted in Galatia, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment

Hidup Rohani vs Kedagingan

“Are you so foolish? After beginning with the Spirit, are you now trying to attain your goal by human effort?” (Gal. 3:3).

Bagaimana melanjutkan perjalanan untuk mencapai kedewasaan rohani bukan dengan menggunakan kekuatan atau cara manusia? Bagaimana mencapai tujuan hidup saya dengan hidup di dalam Roh Kudus? Seperti apakah kehidupan orang yang hidup di dalam dan dengan kekuatan Roh Kudus–bukan di dalam dan dengan kekuatan kedagingannya? Continue reading

Views: 71

Posted in Galatia, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 6 Comments

Ketika reputasi dan relasi berhadapan dengan kebenaran

Petrus ditegur dimuka umum karena ia dinilai telah melakukan tindakan yang munafik. Petrus tidak ingin orang dari memiliki penilaian negatif tentang dirinya; ia ingin menjaga nama baiknya–namun dengan cara yang salah. Dampaknya menjadi sangat kuat karena Petrus dipandang sebagai pemimpin; kemunafikannya lalu diikuti oleh orang-orang lain (Gal 2). Continue reading

Views: 31

Posted in Galatia, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment

Who am I?

“Paul, an apostle–sent not from men nor by man, but by Jesus Christ and God the Father …” (Gal. 1:1)

Kesadaran akan identitas/jati diri akan mempengaruhi kehidupan: cara pandang, cara berpikir, tata nilai, tindakan, dan perilaku. Paulus sadar penuh akan jati dirinya: seorang rasul yang bukan berasal dari atau diutus oleh manusia, namun dari dan oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa. Kesadaran dan keyakinan akan identitas itu menghasilkan kehidupan yang fokus dan commit kepada tugas sebagai rasul, kesediaan untuk membayar harga, dan sikap yang tanpa kompromi–siapapun yang harus dihadapi–ketika Injil diselewengkan, tanpa rasa minder karena masa lalu atau oleh silau akan posisi orang lain. Continue reading

Views: 63

Posted in Galatia, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 6 Comments