Dasar Iman yang Utama

Lukas 4:13-32

Pada hari itu juga, pada hari di mana Tuhan Yesus bangkit, dua orang murid Yesus pergi ke Emaus yang berjarak sekitar 7 mil dari Yerusalem. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap (homileo: to converse, berbincang-bincang) dan bertukar pikiran (suzeteo: to investigate jointly, to discuss, mendiskusikan, menyelidiki, menganalisis bersama) tentang semua yang telah terjadi (ayat 13-15). Tanpa mereka duga, sesuatu yang bersar akan terjadi pada mereka.

Di tengah berjalan sambil berdiskusi itu, Tuhan Yesus mendekat dan bergabung berjalan bersama mereka; tetapi mata mereka tertutup sehingga tidak bisa mengenali Tuhan Yesus (ayat 15-16). Tuhan Yesus bertanya apa yang sedang mereka percakapkan–ada terjemahan lain yang memasukkan frasa: “sehingga kalian sedih?” (ayat 17-KJV). Pertanyaan itu mengejutkan kedua murid: sehingga mereka berhenti berjalan, berdiri dan wajah mereka terlihat sedih (skuthropos: gloomy, grim-faced, sad countenance, wajah muram).

Ekspresi wajah sedih atau muram kedukaan yang spontan, yang meluap dari hati yang benar-benar sedih–bukan dibuat-buat. Salah seorang murid, yaitu Kleopas, balik bertanya: Apakah anda satu-satunya orang diYerusalem yang tidak tahu apa yang baru saja terjadi? Penghakiman dan penyaliban Tuhan Yesus adalah tontonan yang menarik perhatian ribuan orang untuk menonton–karena popularistas-Nya dan karena itu terjadi di Hari Raya Paskah. Sehingga mengherankan kalau sampai ada orang Yerusalem yang tidak tahu (ayat 18).

Tuhan Yesus melanjutkan pertanyaan-Nya. Maka kedua murid itu menjelaskan tentang Tuhan Yesus, bagaimana Ia adalah seorang Nabi yang penuh kuasa dalam perkataan dan perbuatan-Nya dan sangat berpengaruh bagi orang banyak; bagaimana para pemimpin Yahudi menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan menyalibkan Dia (ayat 19-20). Pada bagian ini mereka menjelaskan tentang hal-hal faktual yang terlah terjadi. Tentunya mereka menceritakan ini dengan nada yang sedih.

Kemudian, mereka mengungkapkan perkara yang personal bagi mereka: bahwa mereka dahulu telah/pernah percaya bahwa Tuhan Yesuslah Mesias yang akan membebaskan Israel (ayat 21). Bagian ini mencerminkan keguncangan atau kekecewaan kedua murid itu, karena mereka dahulu yakin dan berharap bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang dinantikan, tetapi faktanya, Dia malah dibunuh dan sudah dikubur sejak tiga hari lalu (ayat 21). Pada bagian ini, kemungkinan ekspresi mereka semakin sedih dan kecewa–karena harapan dan iman mereka selama ini ternyata hancur.

Kemudian–kemungkinan nada bicara mereka berubah menjadi nada yang keheranan–mereka menceritakan bahwa ada perempuan-perempuan di kalangan mereka (pengikut Tuhan Yesus) yang pergi ke kubur, menemukan kubur kosong, dan ditemui malaikat yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus hidup. Juga bagaimana ada murid-murid yang kemudian pergi ke kubur dan memverifikasi berita dari para perempuan itu–mereka melihat kubur kosong, tetapi mereka tidak menemukan bukti bahwa Tuhan Yesus hidup (ayat 22-24).

Setelah mereka selesai bicara, Tuhan Yesus menegor mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu yang telah dinyatakan para nabi!” (ayat 25). Yang menjadi fokus perhatian Tuhan Yesus adalah: iman mereka. Mereka memiliki pengetahuan, mereka melihat fakta-fakta, tetapi mereka tidak mampu mengkaitkannya dengan janji Tuhan yang telah dinyatakan sebelumnya. Kebodohan bagi Tuhan bukan masalah intelektualitas (kemampuan berpikir), atau masalah kepemilikan informasi/fakta; melainkan masalah tidak bisa mempercayai janji/firman Tuhan. Orang yang tidak berpendidikan bisa lebih “bijak” daripada para ilmuwan, ketika mereka memiliki iman yang lebih besar kepada janji/firman Tuhan!

Tetapi, Tuhan Yesus tidak hanya menegor kebebalan mereka, melainkan kemudian menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (ayat 27). Bayangkan: mendengarkan eksposisi firman Tuhan tentang Mesias dari Kejadian sampai Maleakhi, dan dijelaskan oleh Tuhan Yesus sendiri! Tidak heran kalau hatri kedua murid itu menjadi berkobar-kobar (ayat 32)! Dan sekarang, sekalipun tidak bisa mendengar Tuhan Yesus mengajar secara langsung, orang percaya diberi Roh Kudus yang akan mengajar mereka dengan kualitas yang sama dengan Tuhan Yesus (Yoh. 14:26)!

Yang menarik adalah: Tuhan Yesus tidak langsung menyatakan Diri-Nya supaya mereka percaya karena melihat Dia hidup. Tetapi setelah mereka mendapat penjelasan mengenai kebenaran firman Tuhan dan mengerti dan iman mereka mulai kembali dikuatkan, barulah Tuhan Yesus membuka selubuh mata mereka sehingga mereka mengenali Dia–validasi dari kebenaran firman Tuhan yang telah mereka percayai (ayat 31). Dan begitu mereka mengenali Dia, Tuhan Yesus langsung lenyap. ini makin menguatkan prinsip bahwa pengertian dan keyakinan kepada firman Tuhan itu lebih penting dan lebih utama daripada tanda-tanda ajaib yang bisa ditangkap oleh panca indera.

Penerapan:
Utamakanlah untuk menggali dan menyelidiki kebenaran firman Tuhan. Karena dasar iman yang utama adalah firman Tuhan, bukan tanda-tanda ajaib. Tanda-tanda ajaib tanpa alas kebenaran Firman, akan sangat berbahaya, dan kualitas imannya tidak bisa diandalkan.
It’s okey to be dissapointed or discouraged in you faith journey. As long as you are sincere in seeking the Lord and His truth. He who sees the heart of men appreciates your feeling and stuggle; and furthermore, He will help you to understand and to strengthen your faith. Keep learning, keep questioning, keep investigating His truths and promises–even if you do not undertand or have doubts now. Just come to Him and bring all your confusions and questions and ask Him to help you to understand.

Views: 23

This entry was posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *