Melihat, Mengerti, Mengimani

Lukas 24:9-12

Perempuan-perempuan itu–di dalam ketakjuban dan pasti juga kebingungan/ ketidakmengertian mereka–kembali dari kubur dan memberitahukan apa yang mereka lihat dan mereka dengar kepada rasul-rasul (ayat 9). Dan reaksi para rasul–yang begitu dekat dengan Tuhan Yesus, yang sudah berkali-kali mendengar nubuatan-Nya, yang sudah melihat semua pekerjaan ajaib dan menerima pengajaran-Nya; sehingga mereka adalah orang yang paling tahu bahwa Tuhan Yesus bisa diandalkan dan bisa dipercaya–adalah ketidak percayaan (ayat 11)!

Para rasul menerima kesaksian para perempuan itu sebagai omong kosong (leros: iddle tale, dongeng yang tidak bisa dipercaya)–dan ini sangat menarik. Bukankah di antara para perempuan itu terdapat Maria Magdalena, Yohana dan Maria ibu Yakokus (ayat 10)–mereka bukan perempuan biasa, tetapi pribadi-pribadi yang sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan Yesus dengan setia dan menjadi pendukung pelayanan-Nya, serta yang menjadi saksi hidup kematian-Nya di Golgota.

Mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan kita–bahkan ketika sesuatu itu dibackup dengan nubuat atau firman Tuhan sendiri–ternyata tidak mudah. Ketika kita sudah memutuskan sebuah kebenaran/fakta, sudah menyimpulkan, dan meyakini kesimpulan itu, maka akan sangat sulit untuk menerima dan mempercayainya. Ini juga gejala dari kekerasan hati–memegang pikiran/keyakinan sendiri dengan kuat sehingga menolak alternatif lain yang berbeda atau bertentangan.

Sekalipun demikian, sekalipun juga tidak percaya kepada kesaksian para perempuan itu, Petrus bangun lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu (ayat 12)–ini berarti dia dan para rasul sebenarnya tahu lokasi kubur Tuhan Yesus, tetapi tidak seperti para perempuan itu, mereka tidak pergi ke sana–mungkin karena takut kepada orang-orang Yahudi. Petrus menjenguk ke dalam kubur, melihat hanya kain kapan saja–fakta yang dilaporkan oleh para perempuan itu.

Tetapi, melihat fakta di depan matanya “what” tidak langsung membuat Petrus menerima penjelasan–“why” yang disampaikan para perempuan itu; bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit dari kematian. Petrus pergi dari kubur itu dan bertanya-tanya di dalam hati: apa yang kiranya (berspekulasi dengan analisisnya sendiri) telah terjadi (ayat 12). Ada nubuat, ada fakta empiris, tetapi belum bisa mengkaitkannya–karena berita itu terlalu ajaib dan terlalu anti mainstream dengan pikiran Petrus.

Dalam Injil yang lain, dicatat bahwa ada murid (yaitu Yohanes) yang turut pergi ke kubur bersama Petrus. Yohanes sampai lebih dulu, lalu menjenguk untuk melihat (blepo: melihat dengan indera mata) isi kubur, tetapi tidak masuk ke dalam. Kemudian, setelah Petrus masuk ke dalam kubur, Yohanes ikut masuk dan melihat (eidos: to perceive with intelligent comprehension, to see with perception) isi kubur, lalu menjadi percaya (Yoh. 20:4-8). Yohanes menjadi percaya setelah melihat fakta yang empiris, lalu memahami makna fakta itu–mengkaitkan dengan kebenaran lain, yaitu perkataan Tuhan Yesus.

Penerapan:
Jangan terlalu cepat menolak peryataan yang berbeda dengan keyakinanmu. Perhatian, dengarkan, dan lihatlah dengan saksama–sembari meminta insight/pengertian dari Tuhan, supaya sampai kepada kebenaran Tuhan–sekalipun sebelumnya itu bertentangan dengan keyakinanmu.

Views: 23

This entry was posted in Lukas, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *