Hakim-hakim 7:1-9
Keberhasilan–bahkan keberhasilan yang dilakukan oleh TUHAN–tidak selalu diberi respons positif oleh orang lain, termasuk orang dari keluarga/komunitas/bangsa sendiri. Respons negatif itu bisa dinyatakan dalam bentuk yang berbeda: protes karena iri hati melihat keberhasilan, sikap tidak mau memberikan bantuan/support karena tidak percaya atau karena takut terlibat dan tertimpa dampak–mencari aman. Bagaimana menghadapi respons negatif orang lain?
Suku Efraim marah kepada Gideon karena mereka tidak diundang untuk turut bergabung melawan Midian (ayat 1). Di awal gerakannya, Gideon mengirim utusan kepada suku Manasye, Asyer, Zebulon dan Naftali (Hak. 6:35). Barulah setelah tahap kedua peperangan, yaitu ketika Israel mengejar pasukan Midian ke seberang Yordan, Gideon mengirim utusan ke suku Efraim (Hak 7:24). Mengapa suku Efraim marah? Mereka tersinggung karena tidak dilibatkan sejak awal, mereka merasa diabaikan/dianggap tidak penting/mampu.
Gideon menjawab dengan bijaksana: ia merendahkan diri di hadapan suku Efraim dengan menyatakan bahwa apa yang dilakukannya tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan oleh suku Efraim (ayat 2). Ia menyebutkan pencapaian yang berhasil diraih oleh suku Efraim, sekalipun baru dilibatkan belakangan, pencapian itu lebih besar daripada apa yang dikerjakan oleh Gideon, karena mereka berhasil menangkap dua raja Midian (ayat 3). Kata-kata yang lemah lembut, rendah hati, dan kesediaan mengakui kontribusi/prestasi orang lain akan meredakan kemarahan dan menghindari konflik.
Gideon bersama 300 pasukannya terus melakukan pengejaran ke seberang Sungai Yordan–walaupun mereka sudah kelelahan. Sesampai di kota Sukot, Gideon meminta makanan untuk pasukannya, karena mereka lelah dan masih harus terus mengejar pasukan Midian (ayat 4-5). Tetapi, para pemuka Sukot tidak mau membantunya. Kemungkinan karena mereka ragu bahwa Gideon akan berhasil, sehingga ada kemungkinan ornag Midian akan membalas mereka karena membantu Gideon (ayat 6). Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang Pnuel (ayat 8).
Sikap Gideon berbeda dibandingkan ketika menghadapi suku Efraim–bisa jadi karena suku Efraim jauh lebih kuat, dan mereka sudah terbukti terlibat dan berkontribusi signifikan dalam kemenangan itu. Menghadapi orang Sukot dan Pnuel yang tidak mau berkontribusi–walaupun hanya berupa makanan, Gideon bersikap keras: kalau TUHAN memberikan kemenangan kepadanya–hal yang diragukan oleh penduduk kota itu, maka ia akan kembali dan membalas penolakan mereka untuk membantu (ayat 7, 9).
Respons kepada orang yang bersikap negatif tidak bisa sama. Tetapi harus dilakukan dengan bijaksana sesuai situasi masing-masing. Kritik dari mereka yang terbukti sudah ikut berjuang dan bekerja keras harus dihadapi dengan lembut dan rendah hati, dengan menunjukkan penghargaan/apresiasi kepada usaha/kontribusi mereka. Tetapi, kepada mereka yang menolak membantu dengan alasan tidak percaya aau takut, maka bisa dijawab dengan sikap yang tegas untuk menunjukkan ketidakpercayaan mereka.
Penerapan:
Jangan tergesa-gesa marah atau bersikap keras kepada orang yang mengkritik atau berrespons negatif. Pertimbangan latar belakang dan situasi pada setiap kasus, dan berikan respons yang tepat–bisa lembut, bisa tegas.
Views: 26