Lukas 23:50-56
Kematian Tuhan Yesus “memunculkan” tokoh yang lain–setelah Simon Kirene, penjahat yang disalib di sebelah kanan Yesus, dan komandan pasukan Romawi, yaitu seorang bernama Yusuf (ayat 50). I berasal dari Arimatea (sebuah kota Yahudi) atau Rama, kota kelahiran Nabi Samuel; seorang yang kaya (Mat. 27:57); anggota Majelis Besar (Sanhedrin) yang terkemuka (Mark. 15:43), dan seorang yang menanti-nantikan Kerajaan Allah atau Mesias (ayat 51).
Sekalipun anggota Sanhedrin, Yusuf tidak setuju dengan putusan dan dan tindakan mereka tentang Tuhan Yesus (ayat 51). Yusuf adalah suara kebenaran minoritas yang akhirnya dikalahkan oleh mayoritas yang salah atau fasik. Yusuf tidak mampu menghalangi atau mencegah perbuatan Sanhedrin–memang tidak akan ada yang bisa mencegah, karena itu merupakan rencana Allah–tetapi paling tidak Yusuf menyatakan posisinya yang tidak setuju atau menentang kefasikan itu.
Ketika mengetahui (dan mungkin ikut menyaksikan) bahwa Tuhan Yesus sudah mati, Yusuf memberanikan diri (Mar. 15:43) menghadap Pilatus meminta mayat Tuhan Yesus untuk dikuburkan. Setelah memverifikasi bahwa Tuhan Yesus sudah benar-benar mati–sesuatu yang tidak lazim–(Mar. 15:44-45), Pilatus mau memberikan mayat Tuhan Yesus kepada Yusuf.
Yusuf dibantu Nikodemus (Yoh. 19:39) menurunkan mayat Tuhan Yesus dari salib, kemudian mengapani Mayat-Nya dengan kain lenan. Nikodemus membawa campuran minyak mur dan gaharu kira-kira 50 kati banyaknya–ada ahli yang memperkirakan harganya mencapai 500 ribu dolar dengan nilai uang masa kini (Hoag, 2013)! Pada masa Hari Raya Paskah–dan penyaliban Tuhan Yesus terjadi dengan proses yang cepat (hanya 1 hari), darimana bisa mendapat kain lenan dan minyak sebanyak itu?
Mereka lalu meletakkan mayat Tuhan Yesus di sebuah kubur yang baru, yang belum pernah digunakan. Kubur itu adalah milik Yusuf Arimatea (Mat. 27:60). Terletak di suatu taman dekat lokasi penyaliban (Yoh. 19:41). Sekalipun kubur dan taman ini milik Yusuf, kemungkinan besar itu sebenanrya bukan untuk dirinya–sebab sulit diterima akal seorang kaya–yang bisa membeli properti di manapun juga–memilih lokasi di dekat Golgota, yang biasa untuk penyaliban–tempat yang terkutuk dan hina bagi orang Yahudi.
Persiapan penguburan Tuhan Yesus, kain lenan, minyak urapan, dan lokasi kubur-Nya telah disiapkan sebelumnya. Yusuf dan Nikodemus adalah murid-murid Tuhan Yesus yang selama ini terpendam–tidak diketahui orang. Namun, mereka berdua agaknya memahami Kitab Suci (apalagi Nikodemus adalah seorang Farisi dan pengajar orang Yahudi–Yoh 3:1,10) dan mengingat perkataan Tuhan Yesus sendiri, bahwa Mesias harus mati di Yerusalem, sehingga mereka sudah menyiapkan segala sesuatu untuk penguburan-Nya!
Tidak ada orang yang tahu, bahkan mungkin Tuhan Yesus juga diberitahu di mana kuburan yang telah disiapkan itu. Tetapi Allah–di dalam hikmat, pengeahuan, dan kesempurnaan rencana-Nya–telah menyiapkan segala sesuatunya. Ia memilih dan memanggil orang-orang dengan spesifikasi tertentu untuk menggenapi rencana-Nya. Sekalipun dalam senyap, Yusuf dan Nikodemus–dengan resources yang mereka miliki–disiapkan Allah untuk menjadi bagian rencana keselamatan-Nya. Tergenapilah nubuat melalui Yesaya: “His grave was assigned with wicked men, Yet He was with a rich man in His death” (Yes. 53:9-NASB).
Penerapan:
Menerima kenyataan bahwa Tuhan kadang membiarkan sesuatu itu tersembunyi; kadang Ia bekerja di dalam kesenyapan. Tidak semuanya dibukakan sekarang, tetapi yang pasti adalah: rencana-Nya sedang berjalan dan pasti akan digenapi. Terpujilah Tuhan! Bagian saya adalah: mencari kehendak-Nya dan mentaati sejauh yang Ia berkenan menyatakannya kepada saya.
Views: 18