Hidup Bersama dalam Persekutuan Orang Percaya

2 Timotius 4:19-22

Orang percaya tidak pernah didesain utuk hidup sendiri atau soliter. Setiap orang percaya dipanggil untuk masuk menjadi anggota keluarga Allah, berarti masuk ke dalam persekutuan. Keluarga orang percaya disebut sebagai Tubuh Kristus, di mana Kristus menjadi Kepala; dan setiap anggotanya saling mengenal dan saling melayani untuk bersama-sama membangun Tubuh Kristus. Menjaga relasi, komunikasi, dan persekutuan dengan orang lain adalah hal yang harus dilakukan dan dibangun.

Ayat 19. Paulus menitipkan salamnya kepada Priska dan Akwila–pasangan yang sama-sama pembuat tenda dan Paulus pernah tinggal bersama mereka serta melayani Tuhan bersama mereka di Korintus. Mereka yang mengajar Apolos tentang Jalan Tuhan (Kis. 18). Priskila dan Akwila ini melayani jemaat yang beribadah di rumah mereka (1 Kor. 16:19). Paulus menyebut mereka sebagai “teman-teman sekerja dalam Kristus” (Rom 16:3).

Paulus juga mengirim salam untuk keluarga Onesiforus–kemungkinan besar tinggal di Efesus–yang telah menunjukkan kasih dan kesetiaan kepada Paulus dengan tidak malu untuk mencari dan menemui Paulus di penjara. Paulus menyatakan bahwa sikap dan tindakan Onesiforus ini telah “berulang-ulang menyegarkan hatiku” (2 Tim. 1:16-17).

Ayat 20. Paulus memberitahu Timotius tentang kondisi beberapa orang yang dikenalnya: Erastus, yang sekarang tinggal di Korintus, dan Trofimus yang berada di Miletus. Paulus meninggalkan Trofimus dalam keadaan sakit. Di dalam hidupnya Paulus berrelasi dengan banyak orang, dan untuk orang-orang tertentu, ia terus keeping in touch untuk mengetahui kondisi mereka. Paulus sering menulis bagaimana ia berdoa bagi jemaat; ini yang membuatnya selalu keep in touch dengan mereka.

Ayat 21. Paulus menyampaikan salam dari Ebulus, Pudes, Linus, Klaudia, dan semua saudara. Siapakah mereka? nama-nama itu adalah nama-nama Latin, bisa jadi mereka adalah orang-orang Roma (bukan Yahudi) yang telah percaya. Tradisi mencatat bahwa seseorang bernama Linus menggantikan Rasul Petrus sebagai pemimpin jemaat di Roma.

Dalam bagian sebelumnya Paulus mengatakan bahwa “tidak seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku” (ayat 16). Namun di sini ia masih menyebut nama-nama orang percaya, bahkan semua saudara di Roma. Ini konsisten dengan sikap Paulus yang tidak menjadi marah atau pahit atau mendendam kepada mereka. Ia masih tetap mengasihi dan mengakui mereka–karena sekalipun mereka pernah meninggalkan Paulus, mereka tetap di dalam iman kepada Tuhan.

Ayat 22. Salam Paulus di bagian ini ditujukan kepada banyak orang. Kata “kamu” di sini bersifa jamak, sehingga salam dan berkat Paulus tidak hanya ditujukan kepada Timotius, tetapi juga kepada orang-orang percaya di Efesus. Ini juga menunjukkan bahwa sekalipun surat ini ditujukan kepada Timotius, namun juga untuk dibacakan kepada jemaat.

Penerapan:
Menanyakan kabar saudara-saudara seiman untuk bisa mendoakan mereka, dan untuk terus menjaga relasi dan persekutuan dengan Tubuh Kristus.

Views: 3

This entry was posted in 2 Timotius, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.