Category Archives: Saat Teduh

Waspada terhadap Kesombongan dan Keyakinan Diri

Yakobus 4:13-17 uhan, melalui Yakobus, menyoroti dosa kesombongan yang ada di dalam jemaat. Ada dua kata yang digunakan: memegahkan diri (boasting: auchen, bragging, omong besar dengan penuh keyakinan/kepastian akan kemampuan, merayakan/memamerkan) dan congkak (arrogance: alazoneia, self-confidence, pride)–ayat 16. Arogansi adalah … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yakobus | Leave a comment

“Mengadili” dalam Takut akan Tuhan

Yakobus 4:7-12 asalah lain yang ada di dalam jemaat adalah: sikap menghakimi orang lain. Menarik apa yang ditulis Walvoord & Zuck (1983) atas bagian ini: “Justice, not judgment, is what God requires“. Yakobus mengkritik sekaligus memberikan pengajaran tentang keadilan dan … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yakobus | 6 Comments

Rahasia Hidup Tanpa Konflik

Yakobus 4:1-6 akta: di antara umat Tuhanpun terjadi sengketa dan pertengkaran, dalma terjemahan bahasa Inggris: wars and fightings. Tidak hanya satu, tetapi banyak/jamak sengketa dan pertengkaran yan terjadi. Tuhan melalui Yakobus menegor dan mengajar umat-Nya apa yang menjadi sumber konflik … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yakobus | 6 Comments

Hikmat Sejati, Hikmat Illahi

Yakobus 3:13-18 uhan tidak pernah memisahkan antara hikmat/pengetahuan dari karakter seseorang. Sementara dunia ini justru mengatakan bahwa: tidak apa-apa punya watak yang buruk asal dia pandai atau berpengetahuan. Akibatnya: orang pandai justru berbuat jahat, guru besar menjadi sombong dan menindas, … Continue reading

Posted in Saat Teduh, Yakobus | 2 Comments

Pentingnya Pengendalian Lidah

Yakobus 3:1-13 akobus melihat ada banyak di antara anggota jemaat yang ingin menjadi guru (ayat 1). Mengapa banyak orang ingin menjadi guru dan mengajarkan firman Tuhan? Kemungkinan ada banyak orang yang ingin dipandang tinggi oleh orang lain, ingin mendapatkan penghormatan … Continue reading

Posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Yakobus | Leave a comment