Ibrani 12:1
Setelah menjelaskan bahwa karya Kristus lebih unggul daripada agama Yahudi, bahwa perjanjian baru dengan darah Kristus sebagai Korban Penebus Dosa lebih unggul dari sistem korban perjanjian lama, setelah mengajarkan bahwa iman kepada Kristuslah yang menyelamatkan ketimbang ritual agama–dikuatkan dengan bukti-bukti orang-orang yang hidup karena iman sejak awal mula sejarah manusia, penulis Ibrani memberikan petunjuk bagaimana seorang beriman menjalani hidup di tengah kesulitan atau penderitaannya.
Ayat 1a. “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi“. Penulis menggambarkan hidup seorang beriman sebagai seorang atlet yang sedang menjalani sebuah perlombaan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah: menanggalkan semua beban dan dosa yang merintangi. Dosa sudah jelas: semua hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan atau melanggar perintah Tuhan.
Beban (ongkos: tumor, daging lebih, beban, sesuatu yang berat): bisa jadi bukan dosa, bahkan bisa jadi sesuatu yang “baik”, tetapi membuat gerak dan lari seorang atlet menjadi berat dan terhambat–tidak bisa leluasa bergerak. Perkara yang sebenarnya tidak perlu dimiliki atau dilakukan–hanya menyerap energi dan perhatian dari hal yang seharusnya diperjuangkan/dijalani.
Dalam konteks seorang pelari, beban itu bisa beban dari luar, misalnya: pakaian, asesoris, atau perabot apapun yang tidak perlu dan hanya memberati. Bisa juga beban yang ada di dalam dirinya: berat badannya sendiri! Selain melepaskan diri dari semua hal eksternal yang membebani, pelari juga harus mengikis berat badannya yang tidak diperlukan. Melatih diri sedemikan rupa supaya berat badannya optimal untuk berlari.
Dalam hidup saya, beban apa yang harus saya tanggalkan dan saya tinggalkan? Hobby atau kesukaan atau aktivitas yang menghabiskan energi dan waktu yang tidak berhubungan dengan panggilan saya. Keinginan atau ide yang tidak perlu–yang bukan dikehendaki oleh Tuhan untuk yang utama saya kerjakan. Rasa bersalah, rasa tidak layak, rasa tidak mampu/kompeten, atau kekuatiran yang membuat saya tidak berani mengerjakan panggilan atau perintah Tuhan.
Ayat 1b. “marilah kita … berlomba dengan tekun“. Berlomba di sini menggunakan kata “trecho” yang artinya berlari–bukan berjalan, menunjukkan adanya effort atau perjuangan; yang berarti juga tenaga dan keletihan yang lebih daripada berjalan biasa. Ini adalah lomba, bukan jalan santai–ada jalur yang harus ditempuh, ada garis finish yang harus dilewati–ada tujuan yang jelas yang harus dicapai dan dicapai dengan usaha dan kerja keras–berlari!
Berlari dengan tekun–“hupomone“: to persevere, remain under–tekun, bertahan, terus berlari sampai selesai. Tidak boleh berhenti di tengah jalan, sebab akan didiskualifikasi: “associated with hope and refers to that quality of character which does not allow one to surrender to circumstances or succumb under trial.” Mengimplikasikan bahwa perlombaan itu tidak mudah, tidak santai, tidak “menyenangkan”, sehingga diperlukan daya tahan dan ketekunan untuk terus berlari dan tidak berhenti sampai mencapai garis akhir.
Ayat 1c. “dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita“. Tuhan telah menetapkan jalur lomba bagi setiap orang, jalur yang harus dilewati dan ada garis akhirnya. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efe. 2:10). Setiap orang memiliki panggilannya dan perlombaannya sendiri–lomba ini unik, sebab tidak sedang berkompetisi melawan orang lain, tetapi menyelesaikan perlombaan saya sendiri. Melihat dan membandingkan hidup dengan ornag lain yang sama-sama sedang berlomba adalah bentuk beban yang bisa menghambat!
Ayat 1d. “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita“. Melihat orang lain, yaitu para pahlawan iman yang sudah lebih dahulu menyelsaikan perlombaannya, menolong seorang percaya untuk tekun di dalam menjalani perlombaannya sendiri. Kata “saksi” di sini menggunakan kata “martus” (akar dari kata martir) yang berarti: orang yang memiliki informasi atau pengetahuan tentang sesuatu.
Jadi, mereka bukan bukan orang yang menyaksikan kita berlomba, tetapi orang-orang yang bisa memberikan informasi dan pengetahuan–karena mereka sendiri sudah mengalami–bagaimana mereka sudah berlomba. Yaitu bagaimana Tuhan sudah memampukan mereka untuk tekun berlari dan menyelesaikan perlombaan mereka sendiri. Pasal 11 berisi catatan tentang para saksi ini!
Bagian ini memberi motivasi dan kekuatan kepada oprang percaya, sebab bagian ini menyatakan bahwa: orang percaya bisa menyelesaikan perlombaan mereka! Sebab begitu banyak orang sudah membuktikan dan bisa bersaksi bagaimana mereka sudah menyelesaikan perlombaan iman mereka sendiri-sendiri. Perlombaan ini bukan sesuatu yang mustahil atau terlalu berat atau tak mungkin dijalani–sebab sudah terlalu banyak bukti bahwa perlombaan ini bisa diselesaikan!
Penerapan:
(1) Mengidentifikasi beban saya: (a) bermain dan bersenang-senang–menghabiskan waktu dan energi saya dan sumber daya saya; (b) ide atau keinginan untuk melakukan atau membuat sesuatu;
(2) Berhenti dan meninggalkan kedua beban itu, supaya waktu dan energi saya dipusatkan kepada hal-hal yang utama yang harus saya kerjakan, yang sudah Tuhan nyatakan kepada saya.
Views: 0