1 Samuel 4:12-22
Apakah sumber kemuliaan dan kebahagiaan? Bukan status atau posisi, bukan kepemilikan, bukan pula keturunan. Sumber kemuliaan dan kemuliaan yang sejati adalah Tuhan! Apapun yang dimiliki seseorang, ketika Tuhan tidak ada di dalam hidupnya, atau Tuhan meninggalkannya, maka ia tidak memiliki apa-apa, ia tidak memiliki kemuliaan yang sejati. Eli dan keluarganya bernasib mengenaskan–kehilangan kemuliaan Tuhan, oleh karena mereka tidak menghormati Tuhan dan berkeras hati di dalam dosa itu.
Ayat 12. Satu orang dari pasukan Israel–disebut bahwa ia dari suku Benyamin–menyelamatkan diri dari peperangan dan sampai ke Solo dengan berkabung. Semua orang yang melihat penampilannya tahu bahwa ia membawa kabar buruk. Orang itu memberitahukna kekalahan Israel, sehingga seluruh penduduk kota berteriak.
Ayat 12-15. Eli menunggu hasil peperangan hari itu. Usianya sudah 90 tahun, sudah sangat tua, matanya sudah bular sehingga tidak dapat melihat lagi. Ia duduk di tepi jalan, menanti-nantikan dengan cemas kabar tentang Tabut Perjanjian TUHAN yang dibawa kedua anaknya ke medan perang. Tua, buta, dan cemas–betapa menyedihkan keadaan Eli, hakim dan imam TUHAN itu. Idealnya, ia tua, bijak dan banyak insight, serta penuh damai sejahtera. Tapi tidak demikian dengan kondisinya!
Ayat 16. Orang Benyamin itu memberitahukan kabar buruk kepada Eli. Ah, mengapa hanya kabar buruk yang diterimanya? Kabar tentang kejahatan anak-anaknya, nubuat dari hamba Allah berisi ancaman dan hukuman TUHAN, perkataan vonis penghakiman TUHAN melalui Samuel, dan sekarang berita terburuk akan didengarnya.
Ayat 17. Hukuman TUHAN digenapi pada hari yang sama. Orang Benyamin itu mengabarkan berita buruk: pasukan Israel dikalahkan, kedua anak Eli tewas, dan klimaksnya: Tabut Allah dirampas oleh musuh. Ketika Eli mendengar tentang Tabut Allah, Eli begitu shock, sehingga jatuh ke belakang dan batang lehernya patah, sehingga ia mati di tempat.
Akhir yang sangat menyedihkan. Selama 40 tahun ditunjuk untuk menjadi imam dan hakim umat TUHAN, kesudahannya adalah aib dan hukuman TUHAN: tua, buta, cemas, dan mati–kehilangan nyawa, kehilangan anak, dan kehilangan simbol dari jabatannnya.
Ayat 19-20. Istri Pinehas sedang hamil tua. Ketika ia mendengar kabar bahwa Tabut TUHAN sudah dirampas, suaminya mati, dan mertuanya juga mati, ia juga mengalami shock yang sangat hebat sehingga ia melahirkan dengan kondisi yang sangat menyedihkan–habis energinya sehingga ia mati ketika melahirkan anaknya.
Ketika perempuan-perempuan yang berusaha menolongnya menguatkan hatinya dengan mengatakan bahwa ia melahirkan anak laki-laki–sesuatu yang sangat berharga dan mulia bagi orang Israel, istri Pinehas itu tidak mengindahkan, pikirannya hanya tertuju kepada nasib umat Tuhan pada hari itu. Ia menamai anaknya Ikabod, yang berarti “kemuliaan telah hilang” atau “tidak ada lagi kemuliaan”.
Ironis. Ketika ia melahirkan anak laki-laki, yang bagi orang Israel adalah sebuah kebahagian besar dan kemuliaan yang besar, ia justru mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi kemuliaan! Sebab pada hari itu simbol kemuliaan TUHAN, yaitu Tabut perjanjian telah dirampas, dan simbol kemuliaan keluarga dan statusnya telah lenyap dengan kematian suami dan ayah mertuanya.
Penerapan:
Memohon kepada Tuhan agar diberi hati yang tidak terikat atau menginginkan apapun, kecuali kemuliaan Tuhan dan memuliakan Tuhan.
Views: 0