Belajar dari Iman Para Pemimpin Rohani

Ibrani 13:7-8

Dalam Perjanjian Lama, berkali-kali TUHAN memerintahkan agar dibangun sebuah monumen untuk mengingat peristiwa masa lampau dan sebagai media mengajar generasi yang akan datang. George Santayana menyatakan “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it“. Mengingat tidak untuk bernostalgia atau memanjakan emosi melarikan diri dari relaitas masa kini, tetapi untuk belajar tentang Tuhan.

Ayat 7. Jemaat didorong untuk terus/selalu mengingat para pemimpin mereka. Yaitu orang-orang yang mengajarkan firman Tuhan kepada mereka. Apa yang harus diingat? ketekunan iman mereka yang setia sampai akhir, sehingga membuahkan hasil dari hidup mereka. Kemudian, tidka hanya mengingat, melainkan agar jemaat meneladani iman para pemimpin ini.

Perintah untuk “mengingat”, memakai kata menmouneou yang berarti: to remember, call to mind, bear in mind; to exercise memory, be mindful of. Tindakan mengenang atau memperingati peristiwa atau tokoh historis itu diperintahkan oleh Tuhan. Sejarah bukan untuk dilupakan, tetapi untuk diingat dan dipelajari. PA Tokoh Alkitab dan membaca biografi para pemimpin Kristen merupakan disiplin yang harus dilakukan seorang murid untuk menolong bertumbuh di dalam iman.

Tidak hanya mengingat dan memperlajari, tetapi dilanjutkan dengan “meneladani” atau “meniru”–to imitate. Betapa hal yang “mudah” untuk dilakukan oleh semua orang percaya–untuk meniru iman para leluhur dan pendahulu di dalam Tuhan. Tidak semua orang percaya dianugerahi kapasitas untuk berpikir mendalam dan kompleks dan filsafati dan sistematis sehingga bisa memformulasikan gagasan. Tetapi, mendengarkan kisah hidup pemimpin rohani, dan kemudian meniru ketaatan mereka di dalam iman adalah perkara yang bisa dilakukan semua orang.

Ada tempat untuk melakukan eksegesis dan analisis dalam rangka menemukan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan; ada tempat untuk menceritakan contoh orang yang melakukan kebenaran itu, bagaimana seseorang menerapkan imannya. Sehingga pengajaran tidak hanya abstrak dan serebral, tetapi sampai kepada penerapan praktis dari contoh kehidupan nyata seseorang yang menerapkan kebenaran Tuhan.

Ayat 8. Landasan keyakinan untuk meneladani iman para pemimpin: Tuhan Yesus itu tetap sama di masa lalu, sekarang, dan akan datang. Tuhan Yesus yang sudah menopang dan menolong para pemimpin itu sehingga mereka bisa mengakhiri perjalanan iman mereka dengan baik, adalah Tuhan Yesus yang sama, yang akan menopang hidup umat Tuhan sekarang dan hidup generasi umat Tuhan di masa depan.

Jangan kuatir tentang apakah kamu atau anak keturunanmu akan bisa menyelesaikan perjalanan iman, sebab Tuhan Yesus tidak berubah. Ia akan tetap dan terus menopang dan menolong umat-Nya kapanpun juga untuk menghadapi tantangan dalam bentuk apapun juga. hanya pastikanlah dirimu dan keturunanmu terus berada di dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus–sebab Tuhan Yesuslah yang menjadi jaminan, seperti yang dinyatakan di Ibr. 12:2, “Jesus, the author and perfecter of our faith” (NIV).

Prinsip yang lain yang bisa ditarik: para pemimpin rohani akan mati, mereka akan berlalu dan tidak lagi bisa membersamai umat Tuhan–akan tetapi Tuhan Yesus itu kekal, tidak akan berlalu, akan selalu hadir untuk membersamai umat-Nya. Imanuel: Tuhan bersama dengan umat-Nya. Jangan menjadi sedih atau gentar karena pemimpin rohanimu sudah tidak bersamamu, sebab Tuhan Yesus tetap menyertaimu; dan Ia adalah Tuhan yang sama!

Penerapan:
(1) Membuat satu program belajar dengan membaca biografi tokoh Alkitab atau tokoh Gereja untuk belajar tentang iman mereka–menggantikan membaca novel fiksi.
(2) Merenungkan kebenaran firman Tuhan dengan mencari contoh nyata orang yang telah melakukan kebenaran itu.

Views: 4

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.