Hakim-hakim 8:18-21
Tuhan kadang mengijinkan sebuah situasi terjadi untuk menyingkapkan sesuatu yang selama ini tersembunyi. Ada orang yang diijinkan untuk diberi kemenangan atau kekuasaan, dengan tujuan supaya watak asli yang selama ini tersembunyi jadi terungkap; juga supaya ketahuan seberapa siap/kapabel seseorang untuk memegang posisi kepemimpinan atau untuk diberi kepercayaan yang besar. Yang paling penting adalah: bagaimana bersikap ketika fakta tersembunyi itu disingkapkan oleh Tuhan?
Gideon membawa dua raja Midian yang ditawannya, dan menanyai mereka tentang ciri-ciri orang yang mereka bunuh di Tabor (ayat 18). Dari jawaban dua raja Midian itu, dapat disimpulkan bahwa ada pasukan Israel yang berisi saudara-saudara Gideon yang berada di tempat itu, dan dikalahkan oleh pasukan Midian (ayat 18-19). Mendapat pengakuan bahwa pasukan kedua raja Midian itu yang telah membunuh saudara-saudara kandungnya, Gideon menjatuhkan hukuman mati kepada keduanya (ayat 19).
Kalau direnungkan, perkataan Gideon ini tidak ada artinya: “seandainya kamu membiarkan mereka hidup, aku tidak akan membunuh kamu.” (ayat 19). Bagaimana orang Midian tahu bahwa itu saudara Gideon? Apa alasan mereka bisa terdorong untuk tidak membunuh saudara-saudara Gideon itu? Bukankah saat itu sedang terjadi peperangan–dan wajar apabila dalam peperangan akan terjadi saling bunuh di antara lawan? Gideon hanya menumpahkan kemarahannya atas sesuatu yang sudah terlanjur terjadi–dan di luar kendali siapapun.
Ada sisi “pendendam/pembalas” pada diri Gideon yang muncul di permukaan. Orang yang semula begitu penakut, merasa paling kecil, dan peragu–sekarang, ketika berada di posisi sebagai pemenang dan penguasa, karena pertolongan TUHAN, menunjukkan sisi lain dari wataknya. Hal yang mirip sudah mulai ditunjukkan ketika ia membalas orang Sukot dan Pnuel–hanya saja, tindakan pembalasan itu masih ada di dalam batas-batas keadilan.
Kemenangan/kekuasaan menjadi trigger munculnya watak seseorang yang seakan bertentangan dengan watak yang selama ini ditunjukkan. Tuhan mengijinkan suatu situasi terjadi (bisa kemenangan/kesuksesan, bisa juga kekalahan/bencana/kegagalan/tragedi) untuk memunculkan watak seseorang. Karena itu, janganlah menjadi kaget kalau menemui fenomena seolang-olah seseorang itu berubah (biasanya negatif)–karena itulah watak sebenarnya yang selama ini tersembunyi.
Ketika watak yang tersembunyi itu disingkapkan oleh Tuhan, maka sikap yang terbaik adalah: jangan mengeraskan hati dengan membela diri atau menyalahkan orang lain/keadaan, dengan mengatakan bahwa merekalah yang membuatmu menjadi “jahat”. tetapi menerima/mengakuinya dan meminta Tuhan memimpin ke dalam kebenaran. “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Maz. 139:23-24).
Gideon memerintah Yeter, anak sulungnya, untuk membunuh kedua raja Midian yang ditawan itu. Tetapi, anaknya tidak menghunus pedang sebab ia takut–watak yang dimiliki oleh Gideon–sebab ia masih muda (ayat 20). Bahkan kedua raja Midian itu bisa melihat bahwa anak muda itu tidak mampu melakukan perintah Gideon. Karena itu, kemudian Gideon sendiri yang turun tangan untuk melakukannya (ayat 21).
Apa alasan Gideon menyuruh anaknya? Kemungkinan ia ingin meninggikan anaknya dengan memberikan sebuah tanggung jawab di hadapan mata semua pasukan/bangsa Israel. Tetapi, anak itu masih belum siap untuk diberi tanggung jawab–sehingga sekalipun ia berada dalam situasi yang mendukung: sudah menang perang, musuh sudah tidak berdaya, dikelilingi pasukan yang kuat, dan mendapat perintah langsung.
Ada situasi di mana orang–yang sebenarnya tidak punya kapabilitas sama sekali dan belum siap untuk mengemban sebuah tugas–ditempatkan pada posisi untuk memimpin/melakukan sebuah tanggung jawab. Sebagus apapun dukungan lingkungan, kalau memang ia belum siap, maka ia tidak akan mampu untuk melakukan tugasnya. Maka akhirnya pemimpin yang sudah siap yang akan/harus mengerjakan tugas itu. Kemenangan/kekuasaan juga bisa menunjukkan apakah seseorang itu sebenarnya sudah siap/kapabel atau belum.
Penerapan:
(1) Bersyukur kepada Tuhan oleh karena melalui peristiwa di dalam hidup saya, Tuhan menunjukkan bagian hidup saya yang selama ini tersembunyi, supaya Tuhan bisa membersihkan dan mengubahnya.
(2) Terus menyediakan diri untuk dibentuk dan dibersihkan oleh Tuhan dari watak yang tidak berkenan kepada-Nya, supaya hidup saya bisa menghasilkan buah lebih banyak (Yoh. 15:2).
Views: 10