Hakim-hakim 6:11-24
Malaikat TUHAN dengan mengambil rupa seoarng laki-laki datang ke tempat tinggal Gideon, di Ofram dan duduk di bawah pohon tarbantin. Di tempat itu, Gideon sedang mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi dari orang Midian. Gideon melakukan aktivitas yang sewajarnya dilakukan ditempat terbuka dengan sembunyi-sembunyi karena tkut dijarah orang Midian. Ini representasi kondisi yang dihadapi oleh umat TUHAN pada waktu itu.
Mengapa TUHAN memilih untuk menemui Gideon? Bukankah menurut pengakuan Gideon sendiri, keluarganya adalah kaum terkecil di Suku Manasye, dan dia sendiri adalah anak yang paling muda di antara keluarganya (ayat 15). Kaumnya tidak masuk hitungan, Gideon sendiri juga tidak diperhitungkan. Tetapi TUHAN justru mendatanginya untuk memanggilnya menjadi penyelamat Israel dari orang Midian (ayat 14). Alasan TUHAN: “jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata; tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.” (Hak. 7:3).
Bagaimana kalau seseorang memang dikaruniai Tuhan dengan kemampuan dan talenta? Bagaimana ia harus bersikap ketika orang menilai bahwa kemampuan atau talentanyalah yang membuat berhasil, dan bukan pekerjaan Tuhan? Bagaimana harus bersikap agar tidak memegahkan diri terhadap Tuhan? Contoh sikap Yusuf: “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah yang memberitakan …” (Kej. 41:16). Daniel memuji Allah semesta langit: “… dari pada Dialah hikmat dan kekuatan!” (Dan. 2:20). Dan ketika berhasil mengumpulkan banyak sekali harta untuk membangun Bait Allah, Daud: “Siapakah aku ini … Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah poersembahan yang kami berikan …” (1 Taw. 29:14).
Ketika Gideon membantah perintah-Nya untuk menjadi pemimpin Israel, karena ia melihat bahwa dirinya kecil dan tidak mampu, TUHAN berkata kepadanya: “[Sekalipun benar katamu bahwa engkau memang kecil dan tak berdaya] Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.” (ayat 16). Bukan Gideon–sebab ia memang pada faktanya lemah–tetapi TUHAN yang akan memberikan kemenangan kepada Israel.
Penerapan:
(1) Jangan diam saja ketika ada yang memuji–sebab itu berarti mengafirmasi pandangannya yang salah, yang mengira kekuatan atau talentamu yang membuat berhasil. Dengan diam, kamu juga mengafirmasi keyakinan yang sama, bahwa kamu memang kekuatanmu sendiri yang membuatmu bisa. tetapi, langsung saat itu juga–counter dengan pengakuan dan pujian kepada Tuhan, di depan orang itu–supaya dia dan dirimu mendengar pengakuanmu dan penghormatanmu kepada Tuhan.
(2) Akui handicap-mu: kemalasan, kesulitan untuk tekun bekerja, kesulitan untuk menepati komitmen, kesulitan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, kesulitan untuk bekerja melakukan yang terbaik! Lihatlah handicapmu itu, dan sadarlah, bahwa kalau bukan Tuhan yang menolong, maka kamu tidak akan bisa merampungkan satupun pekerjaan yang diberikan kepadamu!
Views: 8