Author Archives: Mathetes

Tuhan Sebagai Pusat dan Sumber Hidup Jemaat

Filipi 4:1-7 aulus memberi sebutan yang sangat unik untuk jemaat Filipi: saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan makhotaku (ayat 1). Menggambarkan betapa jemaat Filipi tidak hanya memiliki relasi yang sangat dekat dengan Paulus, tetapi juga mereka mendatangkan sukacita … Continue reading

Posted in Filipi, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Jangan Mundur, Tapi Terus Maju Bertumbuh

Filipi 3:15-21 da beberapa hal yang bisa menjadi pendorong jemaat Filipi untuk terus berjuang dalma pertumbuhan mereka: (1) itu adalah tujuan yang dikehendaki Tuhan; (2) ada teladan hidup Paulus dan orang percaya lain yang bisa dilihat; (3) ada realitas pengaruh … Continue reading

Posted in Filipi, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment

Anugerah Mendorong Untuk Berjuang Bertumbuh

Filipi 3:1-14 alah satu pikiran yang berbahaya adalah: merasa layak/kudus/berharga karena memiliki predikat/identitas, telah melakukan usaha, dan telah mencapai prestasi. Karena hal itu akan membuat orang lupa bahwa hidupnya semata-mata karena anugerah Tuhan, bukan karena siapa dia dan apa usahanya. … Continue reading

Posted in Filipi, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 2 Comments

Bukti Hati Hamba: Menjadi Teman Seperjuangan

Filipi 2:25-30 pafroditus adalah orang yang dikirim oleh jemaat Filipi untuk menemui Paulus di Roma. Ia diutus jemaat untuk melayani Paulus dalam keperluannya–yaitu membawa persembahan jemaat Filipi untuk Paulus (Fil 4:18). Ketika berada di Roma itulah, Epafroditus jatuh sakit, dan … Continue reading

Posted in Filipi, Perjanjian Baru, Saat Teduh | 6 Comments

Kriteria Pelayan Tuhan: Hati dan Karakter

Filipi 2:19-24 etika memilih seseorang untuk melakukan pekerjaan-Nya, Tuhan tidak melihat apa yang nampak di luar: fisik, pengetahuan atau keahlian, tetapi melihat hati (karakter) seseorang: “manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Sam 16:7). Karakter … Continue reading

Posted in Filipi, Perjanjian Baru, Saat Teduh | Leave a comment