Meterai 2: Pemerintahan yang Membawa Konflik dan Peperangan

Wahyu 6:3-4

Tuhan adalah Raja yang sesungguhnya atas alam semesta. Dalam konteks kehidupan masyarakat atau bangsa-bangsa di dunia, Tuhanlah penentu segalanya. Suasana tenang atau rusuh, suasana damai atau penuh konflik–itu semuanya di tangan Tuhan. Ia yang memutuskan dan mengijinkan sebuah situasi terjadi. Tanpa perkenan/ijin-Nya, tidak ada sesuatupun yang bisa terjadi.

Ayat 3. Ketika Anak Domba Allah itu membuka meterai yang kedua, maka makhluk sorgawi yang kedua itu ganti yang berkata: “Mari!“. Kalau melihat dari ayat sebelumnya, kemungkinan makhluk yang kedua ini adalah yang sama seperti anak lembu (Wah. 4:7).

Ayat 4. Yohanes melihat keluarlah seekor kuda lagi–tetapi berbeda dari kuda putih yang pertama. Kuda ini berwarna merah padam–orang yang menungganginya dikaruniai kuas auntuk mengambil damai sejahtera dari atas bumi, sehingga penduduk bumi saling membunuh. Berbeda dengan penunggang kuda putih yang berkuasa melalui jalan damai, maka sekarang perdamaian yang sudah dibangun itu direngut.

Lambang ini masih mewakili kekuasaan/pemerintahan, yang merengut perdamaian yang semula dibangun pemerintahan dunia sebelumnya, dan menggantikannya dengan peperangan dan pembunuhan. Semakin diperkuat dengan simbol pedang yang besar yang dikaruniakan kepada penunggang kuda itu.

Terkait dengan apa yang akan terjadi menjelang Tuhan Yesus datang, akan ada sistem pemerintahan yang mendatangkan perdamaian dan kesejahteraan kepada umat manusia, tetapi kemudian diikuti dengan suasana konflik, penuh dengan peperangan dan pembunuhan. Konsisten dengan nubuat Tuhan Yesus: menjelang kedatangan Hari Tuhan, akan ada peperangan: “Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan,” (Luk. 21:10).

Kedua perlambang ini menunjukkan kedaulatan dan kekuasaan Tuhan atas situasi di dunia ini–Tuhan bukan korban situasi, tetapi Tuhan yang mengendalikan. Tidak ada situasi apapun–baik perdamaian, kesejahteraan atau konflik, peperangan–tanap sepengetahuan dan seijin Tuhan untuk terjadi. Tuhan yang menetapkan kapan ada masa damai, kapan ada masa konflik–bukan pemerintah dunia, bukan manusia. Apapun upaya manusia, Tuhan yang memberi ijin sebuah situasi itu terjadi.

Views: 2

This entry was posted in Perjanjian Baru, Saat Teduh, Wahyu. Bookmark the permalink.