Ibrani 11:13-16
Abraham percaya dan taat kepada Tuhan walaupun ia tidak tahu kapan Tuhan akan menggenapi janji-Nya. Karena Abraham percaya kepada Pribadi dan karakter Tuhan, yaitu setia (trustworthy, dapat dipercaya). Dan karena Abraham memiliki pandangan yang sangat tinggi tentang Tuhan–bahwa Ia dapat dipercaya–maka Tuhanpun tidak malu untuk disebut sebagai Allah Abraham. Tuhan “bangga” Nama-Nya diasosiasikan dengan Abraham!
Ayat 13-14. Abraham dan Sara meninggal sebelum mengalami semua penggenapan janji Tuhan. Janji tentang tanah yang akan dimiliki, Abraham hanya membeli sebidang tanah untuk kuburannya–padahal Tuhan menjanjikan: “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” (Kej. 13:14-15).
Sara hanya melihat satu orang anak lahir dari rahimnya, tidak sempat menyaksikan anak tunggalnya itu menikah dan melahirkan anak-anak untuk meneruskan keturunannya, sementara Tuhan berjanji untuk: “menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.” (Kej. 13:16).
Mereka tidak melihat penggenapan janji Tuhan ketika mereka masih hidup, tetapi mereka tetap percaya kepada Tuhan. Mereka hanya melihat dari jauh dan menerima/memegang janji itu; mereka tidak menjadi kendor, tetapi terus percaya dan menjalani hidup taat kepada Tuhan sambil meyakini: suatu saat, Tuhan akan menggenapi seluruh janji-Nya.
Ayat 15. Iman itulah yang membuat mereka tidak mau kembali ke negeri asalna–ke posisi seelum mereka menerima janji Tuhan. Sekalipun janji Tuhan belum tergenapi, dan sekalipun mereka memiliki kesempatan dan kemampuan untuk kembali ke posisi mereka semula. Apa yang membuat mereka teguh dalam iman dan tidak berbalik melepaskan janji Tuhan?
Karena mereka mengerti bahwa apa yang sudah mereka tinggalkan untuk mengikuti Tuhan itu sama sekali tidak ada nilinya dibandingkan dengan apa yang disediakan Tuhan bagi mereka sesuai dengan janji-Nya. Tuhanmenolong mereka untuk melihat dan menginginkan “tanah air yang lebih baik” yang disiapkan Tuhan untuk mereka dalam janji-Nya.
Iman mereka bukan iman yang membabi buta, yang ngawr tanpa dasar, yang hanya emosional. Iman mereka didasari oleh pengertian yang dianugerahkan oleh Tuhan, didasari oleh pengenalan bahwa Tuhan itu setia, didasari oleh fondasi yang nyata: janji Tuhan yang telah dinyatakan kepada mereka. Mengenal karakter Tuhan, menerima janji Tuhan–itu dasar iman yang benar.
Ayat 16. Tuhan menghargai iman Abraham dan Sara. Karena itu, Tuhan “tidak malu disebut sebagai Allah mereka”. Tuhan mengakui mereka, mengafirmasi mereka sebagai umat-Nya; Tuhan mengidentifikasikan Diri-Nya kepada semua sebagai Allah mereka. Tuhan mau dikenal sebagai Allah mereka. Bukan prestasi, bukan karya, bukan perngorbanan; melainkan iman kepada Tuhan–itulah yang membuat Tuhan “bangga” akan umat-Nya.
Penerapan:
Memohon kekuatan dari Tuhan untuk menolak keinginan untuk kembali kepada hidup yang lama. Memohon hati yang percaya bahwa apa yanh diseiapkan Tuhan bagi saya itu lebih baik dan lebih mulia dan lebih berharga daripada hidup yang darinya Tuhan sudah mengeluarkan saya.
Views: 3