Iman: Tunduk pada Cara dan Waktu Penggenapan Janji Tuhan

Ibrani 11:11-12

Tuhan itu besar, Tuhan itu berkuasa. Kebesaran dan kuasnaya tidak dipengaruhi oleh kualitas iman manusia. Kalau Tuhan berjanji dan menepatinya, itu bukan disebabkan oleh iman manusia yang kuat sebagai faktor penentu, melainkan karena kehendak Tuhan sendiri. Justru Tuhan memberi ruang kepada manusia untuk bertumbuh di dalam iman–semula tidak percaya, kemudian menjadi percaya–tanpa menjadikannya prasyarat untuk pemberina dan pemenuhan janji-Nya. Tuhan pasti menepati janji-Nya, tetapi Tuhan berdaulat atas cara dan waktu penggenapannya.

Ayat 11. Karena iman, Abraham dan Sara diberi kemampuan (dunamis: kuasa, power) yang melampaui kodrat alamiah manusia–di mana sekalipun usia Sara sudah lewat untuk bisa mengandung dan melahirkan anak. Kuasa Tuhan diberikan tidak hanya membuat Sara masih bisa mengandung, tetapi juga menguatkan Sara untuk menjalani masa kandungan dan melahirkan seorang bayi dengan selamat.

Mengapa Tuhan berkenan memberikan kekuatan yang melampaui batas kodrat alamiah manusia itu? Karena Tuhan sudah berjanji dan Tuhan Mahakuasa, sehingga Tuhan pasti mampu untuk menepati janji-Nya sekalipun mustahil menurut hukum alam. Dan Sara mempercayai Tuhan karena “ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia” (ayat 11). Di sini dicatat tentang iman Sara, sekalipun dalam catatan Musa, Sara tidak percaya, sehingga ia tertawa ketika mendengar janji Tuhan ini (Kej. 18:10-15).

Kualitas iman Sara tidak menjadi faktor penentu–sekalipun ia tertawa mendengar Tuhan memberikan janji yang mustahil menurut manusia, sebab Tuhan tetap melakukan apa yang Ia janjikan, dengan menekankan bahwa: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN?” (Kej. 18:14). Sekalipun Tuhan menegor ketidakpercayaan Sara, namun Tuhan tidak mencabut janji-Nya. Ia tahu pergumulan seseorang untuk beriman, dan Ia berkenan untuk mengajar orang agar bertumbuh dalam iman. Dan pada ujungnya, Tuhan tetap merekomendasikan iman Sara sebagai man yang benar.

Ayat 12. Abraham dan Sara melihat awal penggenapan janji Tuhan mengenai keturunan mereka. Mereka hanya melihat kelahiran dan pertumbuhan Ishak, anak satu-satunya. Sarah tidak sempat melihat Ishak menikah, tetapi Abraham menikahkan Ishak dan kemungkinan besar masih sempat menyaksikan kelahiran dan pertumbuhan anak-anak Ishak. Ishak mendapatkan anak di usia 60 tahun–20 tahun lamanya menunggu sejak menikah; ketika anak-anak Ishak lahir, Abraham berusia 160 tahun–dan dicatat ia mati di usia 170 tahun; sehingga kemungkinan besar masih melihat cucu-cucunya dalam rentang waktu 15 tahun itu.

Abraham mendapat janji dari Tuhan bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar dan tak terhitung, seperti pasir di laut dan bintang-bintang di langit. Abraham hanya melihat awal penggenapan janji Tuhan itu: memiliki satu anak, dan dari anak tunggalnya itu dilahirkan 2 orang cucu. Sekalipun ada keturunan Abraham dari Hagar dan Ketura, namun mereka tidak termasuk di dalam perjanjian Tuhan.

Untuk menjadi bangsa yang besar, tidak terjadi seketika, tetapi melalui proses reproduksi yang alamiah, sehingga membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya, sekitar 430 tahun sejak keluarga Yakub pergi ke Mesir sampai Tuhan memakai Musa untuk membebaskan bangsa itu keluar dari Mesir. Dari 70 orang keluarga Yakub yang pindah ke Mesir, sampai 600.000 orang laki-laki dewasa. Tuhan pasti menepati janji-Nya, tetapi tidak semua penggenapan itu sifatnya instan, ada yang memerlukan waktu secara alamiah atau seturut dengan jadwal Tuhan.

Tatapi, bagi Abraham dan Sarah, kelahiran Ishak sudah menjadi bukti kesetiaan Tuhan. Tuhan berkenan untuk membuktikan tunas penggenapan janji-Nya di masa hidup mereka–memberi mereka keyakinan bahwa Tuhan akan meneruskan pekerjaan-Nya, sampai seluruh janji-Nya digenapi dengan lengkap dan sempurna! Tuhan pasti menggenapi janji-Nya, tetapi manusia tidak berhak untuk mengatur cara dan waktunya. Itu adalah otoritas Tuhan. Bagian manusia adalah: mempercayai Tuhan dan mentaati pimpinan Tuhan.

Penerapan:
(1) Tidak menghakimi orang lain dengan menilai bahwa imannya tidak kuat–sebab Tuhan memberi ruang kepada setiap orang untuk bertumbuh di dalam imannya.
(2) Sabar menunggu waktu dan cara Tuhan menggenapi janji-Nya. Tidak perlu gelisah atau kuatir kalau prosesnya lambat dan tidak seperti yang saya inginkan/bayangkan. Tuhan pasti menggenapi janji-Nya dengan cara-Nya pada waktu-Nya. Bagian saya adalah: percaya dan taat.

Views: 3

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.