Teladan Iman Abel, Henokh, dan Nuh

Ibrani 11:4-7

Iman adalah percaya dan taat kepada pernyataan Tuhan, semustahil apapun situasinya dan seberat apapun konsekuensinya. Iman tidak pernah hanya berhenti dengan kata-kata pernyataan percaya, tetapi akan selalu disertai dengan hidup yang taat melakukan kehendak Tuhan. Elemen iman yang benar adalah: pengenalan akan Tuhan, kepercayaan kepada Tuhan, dan ketaatan kepada Tuhan. Abel melakukan hekendak Tuhan dalam mempersembahkan, Henokh hidup berjalan bersama Tuhan, dan Nuh mentaati perintah Tuhan untuk membuat bahtera.

Ayat 4. Abel–dengan iman/karena iman–mempersembahkan korban yang lebih baik daripada Kain. Persembahannya itu dihitung sebagai kebenaran oleh Tuhan, Tuhan memberikan kesaiksian atau validasi atas persembahan Abel sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya. Tuhan menghendaki persembahan korban tertentu–orang tidak bisa sembarangan. Abel memahami kehendak Tuhan itu dan mentaatinya–ini deksripsi iman: memegang dan mentaati kehendak Tuhan.

Sebaliknya, Kain melakukan apa yang tidak berkenan kepada Tuhan–persembahannya tidak diindahkan oleh Tuhan (Kej. 4:5), sehingga Tuhan berkata: “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?” (Kej. 4:7). Ini bukan masalah jenis korbannya–sebab kelak dalam Taurat Tuhan menghendaki agar hasil bumi dibawa sebagai korban persembahan kepada Tuhan. Tuhan tidak berkenan kepada cara Kain–yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Ayat 5. Henokh mendapat validasi dari Tuhan sebagai orang yang berkenan kepada-Nya. Bentuk validasi Tuhan: Henokh diangkat sehingga tidak mengalami kematian. Henokh hidup oleh iman: ditunjukkan dengan ia hidup berjalan seiring dengan Tuhan: “Enoch walked with God” (Kej. 5: 22,24). Istilah berjalan dengan Tuhan menggambarkan hidup Henokh yang mengenal kehendak Tuhan dan mentaati kehendak Tuhan.

Iman Henokh yang membuat ia berkenan kepada Tuhan, sebab tanpa iman tidak mungkin seseorang berkenan kepada Tuhan. Orang beriman adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada dan bahwa Tuhan memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (ayat 6). Henohk percaya kepada Tuhan, Henokh mencari kehendak Tuhan, dan Henokh hidup menurut kehendak Tuhan–itulah deskripsi iman.

Ayat 7. Nuh percaya kepada Tuhan, sehingga ketika Tuhan memerintahkan untuk membuat bahtera–sebuah pekerjaan yang besar, perlu kerja keras, dan alasannya “tidak masuk akal”–ia taat. Tuhan memberi perintah itu karena Ia akan melakukan sesuatu di masa depan–sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu mendatangkan air bah. Betapa mudahnya untuk tidak percaya kepada penyataan Tuhan ini! Nyatanya: dari seluruh penduduk dunia, hanya keluarga Nuh yang percaya kepada penyataan Tuhan.

Nuh mengenal Tuhan, percaya kepada Tuhan, dan taat melakukan apa yang dinyatakan oleh Tuhan. Itulah deskripsi iman. Tuhan memvalidasi iman Nuh atau menilai Nuh sebagai orang yang benar dihadapan-Nya dengan menyelamatkan Nuh dan keluarganya dari kebinasaan akibat murka Tuhan kepada manusia melalui air bah. Nuh “ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya” (ayat 7); “became an heir of the righteousness which is according to faith” (NASB).

Penerapan:
Memohon hati yang terus mencari Tuhan, yang mendengarkan Tuhan, dan yang melakukan kehendak Tuhan.

Views: 2

This entry was posted in Ibrani, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.