Ibrani 5:11-14
Penulis Ibrani merasa ragu apakah jemaat akan bisa menerima pengajaran yang dalam mengenai Tuhan Yesus, karena ia menilai jemaat lamban untuk belajar karena mereka belum dewasa secara rohani. Ada tiga ciri jemaat yang belum dewasa secara rohani: (1) belum mampu mengajar/berbagi kebenaran; (2) masih memerlukan diajar hal-hal yang elementer, seperti bayi yang hanya bisa minum susu dan belum bisa mengkonsumi makan keras; (3) tidak terlatih/berpengalaman untuk menerapkan kebenaran Tuhan dalam mengambil keputusan/tindakan.
Ayat 11. Penulis Ibrani sebenarnya ingin menjelaskan banyak hal yang terkait dengan pengajaran mengenai keimaman Tuhan Yesus, tetapi ia merasa bahwa pengajaran itu sulit untuk disampaikan–bukan karena penulis kurang paham pengajaran atau tidak punya kemampuan untuk menyampaikannya, melainkan karena ia menilai para pendengarnya tidak siap untuk menerima karena mereka lamban untuk mendengar.
Kata yang dipakai adalah “nothros” yang artinya: slothful, sluggish, dull–lambat, malas, dan bodoh di dalam mendengar pengajaran. Wiersbe menjelaskannya sebagai: “a condition of spiritual apathy and laziness that prevents spiritual development“. Keberhasilan sebuah penyampaian ajaran tidak hanya tergantung kepada pengajarnya, tetapi juga ditentukan oleh karakteristik pendengarnya. Tuhan Yesus pernah menyatakan hal ini melalui perumpamaan penabur, di mana kondisi tanah yang menerima benih itu yang menentukan hasil pengajaran (Luk. 8:5-15).
Ayat 12-13. Penulis menunjukkan bukti bahwa jemaat yang ditujunya itu adalah jemaat yang lamban mendengar pengajaran yang dalam, karena mereka masih harus diajarkan lagi tentang asas-asas pokok dari pernyataan Tuhan–hal-hal yang sangat dasar, sumpama belajar a-b-c bagi anak-anak di awal sekolah dasar, padahal dari sisi waktu sejak mereka percaya, mereka seharusnya sudah bisa mengajar orang lain.
Seumpama pertumbuhan manusia, di usia mereka seharusnya sudah bisa mengunyah dan mengkonsumsi makanan keras, bahkan sudah bisa memberi makan orang lain, mereka justru masih memerlukan untuk diberi/disuapi air susu–makanan yang sangat dasar yang diperlukan oleh seorang bayi atau anak yang masih sangat kecil. Penulis Ibrani menunjukkan bahwa jemaatr yang ditujunya belum dewasa secara rohani, karena lamban–tidak memgalami kemajuan–dalam belajar kebenaran Tuhan.
Ayat 14. Berkebalikan dengan kondisi jemaat, seharusnya jemaat itu sudah sudah tumbuh dewasa–yang sudah sanggup mengkonsumsi pengajaran-pengajaran yang dalam. Kedewasaan rohani diperoleh melalui: latihan dan pengalaman dalam menerapkan pengajaran Tuhan untuk membedakan atau memutuskan apa yang baik dan yang jahat. Kedewasaan rohani tumbuh dari: ketekunan untuk menggunakan pengajaran yang diterima untuk mengambil keputusan dan tindakan dalam hidup sehari-hari.
Pertumbuhan rohani–yang kemudian memampukan orang untuk menerima hal-hal yang dalam tentang kebenaran Tuhan–bukan masalah waktu. usia seseorang (secara jasmani maupun rohani) tidak menjamin dia bertumbuh dan dewasa. Respons dan penerapan pengajaran yang selama ini diterima-lah yang akan menentukan tingkat kedewasaan rohani seseorang. Bukan tingkat kecerdasan, melainkan pengalaman ketaatanlah yang mendewasakan seseorang.
Penerapan:
(1) Mengakui bahwa pengetahuan saya tentang pengajaran Tuhan lebih maju daripada penerapan/ketaatan saya, sehingga saya sebenarnya lambat dalam bertumbuh dewasa secara rohani.
(2) Tekun untuk menerapkan prinsip kebenaran firman Tuhan yang sudah saya terima di dalam mengambil keputusan dan bertindak dalam hidup saya sehari-hari. Memikirkan; bagaimana pola pikir, keputusan atau tindakan saya sesuai dengan firman Tuhan.
Views: 0