Ketika Keraguan Melanda

2 Timotius 1:8-12

Malu atau ragu akan apa yang sedang dikerjakan atau diperjuangkan adalah hal yang biasa dan bisa dialami siapapun. Keyakinan itu tidak selalu kuat, ada waktunya menjadi lemah, dan orang mulai mempertanyakan: Apakah apa yang sednag dilakukannya itu benar? Apakah ia sedang memperjuangkan sesuatu yang cukup berharga? Apakah semua usaha dan pengorbanannya itu tidak sia-sia? Agaknya Tiotius menghadapi tantangan ini, maka Paulus menguatkannya dengan memakai hidupnya sneidri sebagai model.

Ayat 8. Paulus meminta agar Timotius tidak menjadi malu untuk memberitakan Injil dan malu tentang situasi Paulus yang menjadi narapidana, melainkan untuk mau turut menderita memberitakan Injil. “Malu” di sini dimaknai sebagai merasa tidak berharga merasa ada aib, sehingga sesuatu itu berusaha disembunyikan. Berkebalikan dengan “bangga” di mana seseorang memandang sesuatu begitu berharga dan hebat sehingga ditunjukkan kepada orang lain.

Mengapa Timotius malu memberitakan Injil? Apakah ia menyimpan keraguan atas Injil, apalagi di tengah gelombang pengajaran-pengajaran lain yang sedang populer?Apakah ia terpengaruh oleh pandangan orang yang mengatakan Kabar Baik bahwa “Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, ” (1 Kor. 1:23)? Ataukah ia malu memberitakan Injil karena serangan/penganiayaan yang akan dihadapinya?

Mengapa ia malu akan status Paulus sebagai seorang tawanan? Hal ini lebih mudah dipahami. Status dipenjara atau menjadi narapidana adalah aib, karena orang dinyatakan bersalah atau jahat. Dan wajar orang merasa malu kalau dikaitkan dengan situasi itu. Apalagi Timotius dikenal sebagai murid dan representasi Paulus. Bisa jadi lawan-lawannya memakai status Paulus untuk menekan atau merendahkan Timotius.

Ayat 9. Paulus mengingatkan Timotius akan nilai dan kemuliaan Injil. Injil adalah berita karya Allah yang menyelamatkan dan memanggil orang percaya bukan berdasar perbuatan, melainkan karena pilihan dan anugerah-Nya sendiri. Injil adalah rencana keselamatan Allah yang abadi–sudah ditetakan sejak sebeluym permulaan zaman. Injil itu sudah digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus yang kematian-Nya telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup kekal.

Injil adalah mulia dan tinggi nilainya! Karena Injil itu adalah karya Allah sendiri, bukan hasil pikiran manusia. Karena Injil itu adalah satu-satunya rencana Allah untuk menyelamatkan manusia–tidak ada cara atau jalan yang lain bagi manusia untuk bisa kembali kepada Allah. Injil adalah satu-satunya jalan bagi manusia untuk dapat memperoleh pengampunan dosa, dibebaskan dari hukuman maut, dan memperoleh hidup yang kekal, yaitu hidup dengan relasi yang dipulihkan dengan Allah.

Ayat 10-11. Paulus kemudian menujukkan “kemuliaan” statusnya sebagai orang yang dipenjara. Ia dipenjara bukan karena berbuat jahat, bukan karena melakukan dosa; melainkan karena melakukan panggilan Allah yang telah menetapkan dirinya sebagai pemberita Injil, sebagai rasul, dan sebagai pengajar kebenaran. Paulus tidak malu dengan kondisinya sebagai tahanan, sebab ia ditahan demi mengerjakan panggilan Tuhan. Ia mungkin hina di mata manusia, tetapi mulai di mata Tuhan, sebab ia menjalankan hidup sebagai hamba yang setia–apapun risikonya.

Ayat 12. Paulus tidak merasa malu atau menjadi lemah atas statusnya yang ditahan di ruang tahanan yang sesak dan kotor dan menekan; bahkan sudah ditetapkan untuk dihukum mati–setiap saat bisa menjadi saat terakhir hidupnya di dunia. Mengapa ia tidak malu dan tidak menjadi lemah? Karena Paulus “tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.”

Iman Paulus kepada Pribadi Tuhan dan kepada kesetiaan Tuhan atas janji-Nya; bahwa Tuhan akan memelihara (phullasso: to watch, to keep, to guard) apa yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Tuhan yang memberi amanah, Tuhan yang akan menjaganya sampai selesai dan tergenapi semuanya. Bukan Paulus, bukan usahanya, bukan kesetiaannya–tetapi Tuhan yang memberi kekuatan kepada Paulus, Tuhan yang mengendalikan segala sesuatu di luar Paulus.

Penerapan:
Memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya karena Ia setia. Ia sudah mempercayakan banhak hal kepada saya–bukan karena saya baik atau layak, tapi karena anugerah-Nya; dan Ia akan menjaganya. Bahkan Ia terbukti menjaganya dari kehancuran karena kesalahan dan dosa saya sendiri. Terpujilah Tuhan.

Views: 2

This entry was posted in 2 Timotius, Perjanjian Baru, Saat Teduh. Bookmark the permalink.